Jangan Sampai Orang Luar Lebih Paham Papua Ketimbang  Masyarakat Asli

Empat sosok inspirasi (menghadap kamera), Igir Al Qatiri, Andre Liem, Vonny Aronggear dan Charles Toto berbagi cerita tentang pengalaman kepada puluhan pemuda/i di Rumah Bakau Jayapura, Entrop, Sabtu (6/2) (FOTO:Gamel Cepos)

Sosok Inspirasi Titipkan Pesan Konsistensi dan Terus Menulis

JAYAPURA – Empat sosok inspirasi di Kota Jayapura, Andre Liem, Charles Toto, Igir Al Qatiri dan Vonny Aronggear menitip pesan kepada generasi muda di Jayapura untuk bisa menekuni sebuah aktifitas positif namun dengan tidak angin – anginan. Dikatakan jika ingin sukses  dibutuhkan konsistensi, komitmen dan terus belajar untuk menambah wawasan. Tiga hal ini menjadi penting karen selama ini mereka melihat kebanyakan anak muda hanya terpaku pada teknologi yang memanjakan salah satunya Hp.

“Anak muda sekarang jangan terlalu terpaku dengan Hp karena ini akan menghilangkan banyak kesempatan untuk belajar dan peka terhadap kondisi sekitar. Coba lebih banyak menggali sesuatu tentang Papua, saya pikir itu jauh lebih bermanfaat,” kata Charles Toto dihadapan puluhan pemuda ketika melakukan sharing terkait motivasi dan persoalan lingkungan di Kota Jayapura yang digelar di Rumah Bakau Jayapura, Sabtu (6/2). Menurut pendiri Papua Jungle Chef ini konsistensi dalam sebuah pekerjaan diyakini bisa menjawab tantangan demi tantangan.

Pemuda asal Ormu ini menuturkan bahwa sejak 1996 ia sudah tertarik dengan dunia koki dan kemudian mewujudkan niat tersebut dengan membuat komunitas Papua Jungle Chef dan hasilnya, ia banyak diundang kesana kemarin termasuk ke luar negeri bahkan bertemu Presiden Jokowi hanya karena konsistensi tadi. Senada disampaikan Vonny Aronggear yang meminta untuk anak muda jangan meninggalkan dunia literasi sebab dengan menulis serta membaca diyakini bisa merubah dunia. “Kalau ingin mengkritisi tidak perlu berkoar – koar di media sosial tapi cobalah lewat tulisa sebab menurut saya menulis adalah cara yang paling terhormat untuk bisa mengkritisi,” bebernya diiyakan Igir Al Qatiri dan Andre Liem.

Penulis 17 buku kolaborasi ini menambahkan bahwa selama ini yang ia lihat semangat anak muda hanya angin anginan. Mau ikut ramai kalau ada tujuan dan kecenderungannya hanya agar bisa dikatakan eksis di media sosial. “Harusnya tidak seperti itu, anak muda itu pemikir kritis yang harus berada dalam relnya. Bukan bergerak hanya karena ingin diketahui orang,” imbuhnya. Igir juga sependapat, ia menyampaikan bahwa bakat haruslah diasah sebab jika tidak maka akan berkarat. Penulis 32 buku ini menyampaikan untuk tidak menyerah dan terus belajar dan tidak terbuai dengan kemudahan – kemudahan teknologi.

“Emas agar terlihat cantik kan harus dilebur, dipanaskan, dicairkan kemudian dibentuk,” nah semangat harus diasah seperti itu. Sementara sosok paling senior, Andre Liem menyampaikan bahwa di eranya dulu tak ada Hp, yang ada adalah wartel. Lalu tak ada SMS melainkan surat menyurat. Tadi dari kondisi yang penuh keterbatasan tersebut ia mampu berkeliling Papua bahkan ke luar negeri dengan mengawali belajar tentang sosial budaya Papua. “Saya pernah membawa beberapa masyarakat adat dari Asmat ke Amerika  dan kami pentas disana. Orang luar itu datang dan mencaritahu tentang Papua kemudian mendokumentasikan, membuat tulisan dan film nah kita sendiri paham tidak tentang budaya sendiri,” sindirnya.  “Jangan orang luar lebih paham dibanding kta di daerah sendiri. Ini lucu nantinya,” tutup Andre. (ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *