Duduk di Brankar, Lewat Jalanan Curam ke Desa yang Seminggu Terisolasi

PERIKSA KEHAMILAN: Dokter Diar Mia Ardani SpTHT-KL (K) memeriksa Dharma di dalam tenda pengungsian di Salutambung, Majene (29/1) ( Foto: Septinda Ayu Pramitasari/ Jawa Pos)

Menyisir Pantai, Naik Turun Gunung, Membantu Korban Gempa Sulbar (1)

Jarak antartitik pengungsian jauh, sebagian pasien menolak dioperasi, dan fasilitas terbatas adalah sebagian aral yang dihadapi tim relawan di bawah komando Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga. Berikut catatan wartawan Jawa Pos SEPTINDA AYU PRAMITASARI yang mengikuti langsung perjalanan mereka di Sulawesi Barat.

MOBIL puskesmas keliling (pusling) itu reyot. Gagang pintu mobil sudah putus. Tidak ada kursi penumpang di belakang. Hanya ada brankar yang telah usang dan berdebu.
’’Maaf ya, Dok, hanya ada mobil ini. Tidak bisa pakai mobil biasa. Jalannya menanjak dan curam,’’ kata bidan Sarti, koordinator bidan Desa Kabiraan yang masuk wilayah Puskesmas Ulumanda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar).
Dari Dusun Masigi, Desa Salutambang, yang berada di kecamatan yang sama, menggunakan pusling itu, kami –bidan Sarti, dr Diar Mia Ardani SpTHT-KL (K), dan saya– mencoba menuju Kabiraan. Salah satu kawasan terdampak gempa Majene yang paling terisolasi.
Akses menuju desa di atas gunung itu tertutup longsoran tebing selama satu minggu sejak gempa menghembalang Majene dan Mamuju pada 14 Januari lalu. Bantuan hanya bisa didatangkan melalui jalur udara dengan menggunakan helikopter.
Pada Jumat siang pekan lalu (29/1), longsoran memang sudah dibersihkan. Tapi, menempuh jalanan yang, mengutip bidan Sarti, ’’menanjak dan curam’’ menggunakan mobil pusling yang kondisinya memprihatinkan tetap saja mendebarkan.
Disopiri pengemudi dari Puskesmas Ulumanda, kami pun duduk di atas brankar dengan memegang besi yang mengelilingi brankar. Badan yang tidak seimbang tidak jarang menggeser posisi duduk ke arah yang tidak jelas. Seperti roller coaster. Perut pun sukses terkoyak-koyak.
’’Kalau lancar, bisa 30 menit. Kalau tidak lancar, bisa sampai 1 jam,’’ ujar Sarti ketika kami berkali-kali bertanya berapa lama sampai.
Kalaupun benar 30 menit, bisa jadi itu bakal menjadi 30 menit yang lama sekali…
*
’’Morning report, morning report!’’
Tiap pukul 07.00, seperti Jumat pagi lalu itu, teriakan tersebut terdengar dari kabin ke kabin Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) yang tengah merapat di Majene. Panggilan untuk seluruh relawan agar berkumpul di geladak kapal.
Mulai para dokter spesialis, apoteker, tim psikologi, tim filterisasi, koki, hingga kapten kapal. Direktur RSTKA dr Agus Harianto SpB (K) selalu memimpin langsung morning report.
Setiap tim melaporkan hasil kinerja yang dilakukan hari sebelumnya dan perencanaan yang dilakukan dalam misi kemanusiaan bencana Mamuju-Majene. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memastikan langkah yang akan dilakukan tepat sasaran.
Setelah morning report, seluruh relawan menyebar ke lokasi pengungsian untuk menjalankan program sesuai dengan tupoksi masing-masing. Kali ini saya ikut dalam penyisiran korban bencana di tenda-tenda pengungsian bersama dokter Mia. ’’Hari ini mau menyisir ibu-ibu hamil risiko tinggi di tenda-tenda pengungsian,’’ kata Mia.
Banyak titik yang akan ditempuh dalam penyisiran. Dari Pelabuhan Palipi, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, tempat RSTKA berlabuh ke wilayah-wilayah terdampak gempa cukup jauh. Dibutuhkan waktu 1,5 jam hingga 2 jam lebih.
Dari tepian pantai, menyisir dataran, hingga menuju tempat-tempat pengungsian yang menyebar di perbukitan. Mobil milik Ikatan Apoteker Indonesia Majene yang menjemput tiba pukul 10.30. Sedikit terlambat dari rencana perjalanan awal.
Mia langsung mengambil beberapa perlengkapan penyisiran. Mulai hand scoop, masker, hingga hand sanitizer. Tiga benda wajib lantaran saat ini masih masa pandemi Covid-19.
’’Kita ke Salutambung dulu ya, Pak,’’ perintah dokter Mia kepada sopir.
Salutambung adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Ulumanda. Lokasi tersebut menjadi salah satu tempat pengungsian gempa dari berbagai desa di kecamatan itu.
Jaraknya sekitar 40 kilometer dari Pelabuhan Palipi. Setidaknya dibutuhkan waktu 1 jam untuk sampai ke lokasi tersebut.
Sepanjang perjalanan menuju Puskesmas Salutambung, mata disuguhi pemandangan tenda-tenda pengungsian yang berada di kanan kiri jalan. Penduduk Majene hingga saat ini belum berani menempati rumah meski tidak mengalami kerusakan yang cukup parah.
Sementara itu, warga yang rumahnya hancur berada di posko-posko pengungsian yang sudah disediakan pemerintah setempat. ’’Majene ini dekat dengan bibir pantai, juga perbukitan. Kalau ada gempa, mereka lari ke gunung untuk berlindung. Takut ada tsunami,’’ kata Burhan, driver yang memandu kami.
Tidak terasa, satu jam perjalanan ke Salutambung terlewati. Meski jalan nasional tersebut berkelok-kelok, ada pemandangan pantai yang indah menyejukkan mata.
Irmayanti, bidan Puskesmas Salutambung, sudah menunggu. Dia langsung mengajak dokter Mia mengunjungi tenda pengungsian di belakang puskesmas. Lokasinya sedikit naik ke gunung.
Ada 300-an penduduk yang tinggal di sana. Mereka adalah pengungsi dari Dusun Masigi, Desa Salutambung, Kecamatan Ulumanda. Ada satu ibu hamil tua di salah satu tenda pengungsian tersebut.
’’Ada satu orang yang hamil, Dok. Usia delapan bulan,’’ kata Irmayanti sambil menunjukkan tenda pengungsian berwarna biru paling ujung.
Dharma namanya. Perempuan 24 tahun itu sedang hamil tua. Dia tinggal di tenda pengungsian bersama keluarga. Anaknya yang lain pun masih kecil-kecil.
Dia disarankan dioperasi Caesar. Namun, Dharma tidak mau dan memilih di tenda saja. ’’Diperiksa dulu saja ya. Sebaiknya mau dibawa ke RSTKA di-USG (ultrasonografi). Nanti bisa lihat bayinya dari foto,’’ bujuk Mia kepada Dharma.
Lagi-lagi Dharma menolak dibawa ke rumah sakit. Takut dilakukan swab test antigen. ’’Nanti dikira Covid-19,’’ jawab Dharma.
*
Bukan 30 menit seperti yang dibilang bidan Sarti, melainkan 10 menit lebih lambat sampai akhirnya kami tiba di Kabiraan. Deretan tenda pengungsi terlihat di sepanjang jalan.
Rumah-rumah penduduk roboh. Tidak terkecuali kantor Puskesmas Ulumanda. Pelayanan kesehatan puskesmas pun terpusat di halaman gedung sekolah dengan dibangun tenda darurat.
Sarti menyatakan, ada delapan desa di bawah jangkauan layanan Puskesmas Ulumanda. Tiga di pesisir pantai dan lima desa di atas gunung. Desa Karibaan adalah salah satu kawasan yang paling parah terdampak gempa.
’’Dua hari setelah gempa, ada ibu hamil tua yang mau melahirkan karena goncangan. Saya bantu melahirkan secara normal di tenda,’’ katanya.
Peristiwa tersebut tentu menjadi salah satu hal yang istimewa. Sebab, bayi yang dilahirkan berkondisi baik. Begitu juga ibunya.
Penyisiran ibu hamil risti (risiko tinggi) pun dilakukan. Dokter Mia mendatangi satu per satu tenda pengungsian. Selain memeriksa ibu hamil, dokter yang juga berdinas di RSI Jemursari, Surabaya, itu mencari pasien-pasien yang membutuhkan tindakan medis untuk dirujuk ke RSTKA.
’’Korban yang mengalami fraktur atau kesakitan akibat gempa kami persuasi agar mau dibawa ke RSTKA,’’ ujar Mia.
Mia mengatakan, dalam kondisi pascagempa, ibu hamil menjadi salah satu prioritas untuk ditangani. Karena itu, perlu ada penyisiran dan pengecekan kondisi kandungan. Jika masuk kategori risti, mereka disarankan untuk dibawa ke RSTKA.
’’Gempa sangat berisiko terhadap ibu hamil. Kondisi kandungan dan psikis sang ibu juga perlu diperhatikan,’’ kata dia.
Beberapa ibu hamil mengeluhkan kandungannya. Di situ tim relawan akan memberikan pendampingan dengan dibantu puskesmas.
’’Sejauh ini, kondisi ibu hamil yang berhasil disisir masih kategori tidak risti. Meski begitu, bidan desa ditugaskan untuk terus mengontrol kondisi ibu hamil di tenda-tenda pengungsian,’’ ujarnya. (*/c19/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *