Terlecut Tradisi Lebung di Kawasan Rawa Banjiran

PELESTARIAN IKAN: Arif Wibowo dan trofi PNS Inspiratif di Palembang (3/2).

Inspirasi dari Abdi Negara Inspiratif (3-Habis)

Inovasi Arif Wibowo tidak cuma bisa mendatangkan penghasilan dari ikan, tapi juga penjualan karbon. Ikan selalu membetot perhatian Arif, S-2 dan S3-nya pun tentang DNA ikan.

EKO PRASETYO, Palembang, Jawa Pos

IDE yang bermuara pada penghargaan itu datang dari tradisi. Lebung namanya, yang banyak dijumpai di sejumlah kawasan di Sumatera Selatan (Sumsel).

Lebung merupakan cekungan yang berada di kawasan rawa banjiran. Saat musim hujan, kondisi rawa dipenuhi genangan air.

Memasuki musim kemarau, genangan mulai surut dan hanya menyisakan air di lubang yang ada. Ya di lebung tadi. Berbagai jenis ikan akan terjebak dan bisa dipanen warga.

Arif Wibowo dan timnya di Badan Riset Perikanan Perairan Umum dan Penyuluhan Perikanan (BRPPUPP) Palembang mengadopsi tradisi tersebut. Dan, lahirlah SPEECTRA (Special Area for Conservation and Fish Refugia). Dengan inovasi itu, badan yang dikepalai Arif dan berada di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan itu berhasil melestarikan berbagai spesies ikan khas Sumsel yang hampir punah.

Keberhasilan itu juga mengantarkan Arif meraih penghargaan PNS Inovatif dalam Anugerah ASN 2020. Pergelaran tersebut diadakan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara-Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB).

’’SPEECTRA ini juga membuka peluang masyarakat pedesaan untuk memperoleh pendapatan,” kata Arif ketika ditemui Sumatera Ekspres di kantornya di Palembang, Rabu (3/2).

Bergabung di Badan Riset Perikanan Perairan Umum dan Penyuluhan Perikanan Palembang memang sejalan dengan dasar keilmuan Arif. Ikan menjadi daya tariknya.

Dia menempuh pendidikan sarjana, magister, hingga doktoral dengan bidang keilmuannya fokus di sektor perikanan. Gelar sarjana dan magister diraihnya dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Sementara itu, gelar doktoralnya diraih dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Selain itu, dia sempat berkeliling Eropa untuk mengikuti berbagai pelatihan dan pendidikan magang di beberapa universitas. Pada 2011–2013, Arif bolak-balik Jerman untuk mengikuti pendidikan di sana.

Lalu, pada 2014, dia mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan di Finlandia.’’Konsentrasinya terhadap ilmu DNA ikan. Penelitian S-2 dan S-3 saya juga fokus DNA ikan,” katanya.

Lebung menarik perhatian Arif karena berfungsi sebagai lokasi perkembangbiakan indukan. Indukan akan berproduksi selama berada di dalam lebung. Ketika hujan datang, benih ikan yang sudah ada akan terbawa hingga menuju sungai. ’’Dengan cara ini, populasi ikan di sungai dan perairan semakin banyak,’’ katanya.

Menurut Arif, dalam setahun kawasan SPEECTRA yang luasnya 1 hektare bisa menghasilkan 4 juta benih ikan. Hasil dari ikan berpotensi mendatangkan pendapatan hingga Rp 160 juta. Selain itu, SPEECTRA berpotensi menghasilkan pendapatan dari sektor lain, yakni penjualan karbon.

Sebab, tingkat storage karbon yang dihasilkan kawasan SPEECTRA mencapai 300–350 metrik ton. Secara ekuivalen, potensi pendapatannya bisa mencapai Rp 20 juta.

Mengutip situs Universitas Jember, perdagangan karbon merupakan suatu mekanisme berbasis pasar untuk membatasi peningkatan kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfer dengan menjual jatah karbon yang bisa diserap suatu kelompok tanaman atau hutan kepada negara industri yang menghasilkan polusi karbon. Sebagai bagian dari Protokol Kyoto, perdagangan karbon memiliki perspektif global yang menyangkut kepentingan berbagai pihak, baik negara maju maupun negara berkembang.

Karena melalui skema perdagangan karbon, negara maju bisa memenuhi target penurunan emisi dengan biaya yang relatif rendah, sedangkan negara berkembang akan memperoleh tambahan dana yang bisa digunakan untuk melanjutkan pembangunan. Dan, tentu saja hal itu juga sesuai dengan prinsip yang digariskan dari konvensi perubahan iklim tentang tanggung jawab bersama yang dibedakan sesuai dengan kemampuan negara masing-masing dalam mencari solusi untuk menyikapi permasalahan pemanasan global.

Arif menambahkan, pengelola SPEECTRA bisa mendapat dana dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup yang sudah dibentuk. Indonesia nanti mendapatkan dana Rp 800 miliar dari pemerintah Norwegia. Belum lagi dari pemerintah lain. Dana itulah yang akan dibagikan kepada pengelola kawasan lingkungan.

Arif menuturkan, pihaknya saat ini telah mengembangkan tiga kawasan SPEECTRA di Sumsel. Di sana diisi indukan spesies ikan lokal yang nyaris punah. Dengan begitu, kelestarian spesies bisa terjaga.

Sumsel memiliki 229 spesies ikan. Sangat banyak. Bandingkan dengan Jawa Timur, misalnya, yang hanya punya 30 spesies. ’’Hanya, butuh upaya kita semua untuk melestarikannya,’’ katanya.

Saat ini BRPPUPP menjajaki kerja sama dengan pemerintah daerah di Sumsel untuk pengembangan kawasan SPEECTRA di wilayah masing-masing. Jika nanti bisa diterapkan di desa-desa yang rawan karhutla, tentunya kerugian negara akibat bencana tersebut yang per tahun mencapai Rp 15 triliun–Rp 20 triliun bisa dikurangi.

’’Sumsel cocok untuk pengembangan karena memiliki lahan rawa yang sangat luas. Harapannya bisa diaplikasikan di seluruh wilayah,’’ bebernya.

Menteri PAN-RB Tjahjo Kumolo berharap kiprah para ASN yang meraih penghargaan bisa menjadi inspirasi bagi ASN lain. ’’ASN di segala bidang pekerjaan harus terus meningkatkan kualifikasi, kompetensi, dan kinerja dalam melayani masyarakat,” kata Tjahjo.

Bagi Arif, ikan menjadi pilar penting sektor ketahanan pangan. Harganya pun lebih murah jika dibandingkan dengan daging sapi dan ayam. Karena itu, kelestarian spesies ikan harus terus dijaga.

’’Ini juga selaras dengan tujuan pemerintah yang ingin mengurangi angka stunting,’’ jelasnya. (*/c7/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *