GeNose Mulai Diujicoba di Stasiun Senen dan Jogjakarta

Petugas mengetes kantong nafas milik pegawai PT KAI (Persero) dengan GeNose C19 di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Rabu (3/2/2021). KAI menyelenggarakan layanan pemeriksaan GeNose C19 di stasiun, dalam rangka mendukung kebijakan pemerintah menghadirkan layanan transportasi kereta api yang bebas covid-19. FOTO : FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS

JAKARTA, Jawa Pos – Deteksi Covid-19 menggunakan GeNose mulai diuji coba di Stasiun Senen Jakarta kemarin (3/2). Rencananya penggunaan inovasi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) itu dilakukan mulai hari (5/2) di Stasiun Senen dan Stasiun Tugu Jogjakarta.

Pembukaan uji coba penggunaan GeNose di Stasiun Senen kemarin dihadiri Menristek Bambang Brodjonegoro dan Menhub Budi Karya Sumadi. Penumpang kereta api berjejer antri untuk meniup kantong plastik yang sudah disiapkan. Setelah itu kantong plastik yang sudah mengelembung dimasukkan ke alat GeNose. Terakhir penumpang menerima kertas berisi hasil pengecekan.

Setelah itu akan muncul di layar monitor informasi penumpang itu negatif atau positif Covid-19. Bambang mengatakan proses skrining GeNose berjalan kurang dari tiga menit untuk setiap penumpang. Dia menjelaskan harga satu unit alat GeNose sekitar Rp 63 juta. Alat tersebut mampu digunakan sampai 100 ribu kali pengecekan nafas. KAI menetapkan tarif deteksi GeNose Rp 20 ribu per orang.

Bambang menjelaskan GeNose adalah alat deteksi orang yang terpapar Covid-19. Objek pengamatannya adalah senyawa di pernafasan. ’’Ada senyawa (dalan nafas, Red) yang membedakan orang terpapar (Covid-19) atau tidak,’’ katanya. Selain itu Bambang mengatakan deteksi dengan GeNose nyaman karena masyarakat tidak perlu dicolok lubang hidungnya.

Bambang menjelaskan GeNose memiliki tingkat akurasi 93-95 persen dengan sensitivitas 89-92 persen dan spesifitas 95-96 persen. GeNose mendeteksi volatile organic compound (VOC) yang ada di dalam nafas seseorang. Alat ini mampu mendeteksi seseorang yang baru terpapar Covid-19 dalam waktu dua hari terakhir. Berbeda dengan tes PCR maupun rapid antigen. GeNose juga berbasis kecerdasan artifisial, sehingga kemampuannya semakin maksimal ketika sering digunakan.

Meskipun memiliki tingkat keakurasian yang tinggi, penggunakan GeNose bukan menjadi gold standar untuk diagnosis Covid-19 layaknya swab PCR. Untuk itu jika ditemukan seseorang yang positif Covid-19 dari penggunaan GeNose, perlu dipastikan kembali melalui swab PCR.

Sementara itu Menhub Budi Karya Sumadi mengatakan untuk tahap awal GeNose digunakan di Stasiun Senen dan Stasiun Tugu. Setelah itu dikembangkan ke stasiun kereta api lainnya. Termasuk juga ke moda transporstasi lain seperti udara dan laut. Dengan digawangi tenaga yang terampil, Budi mengatakan pengecekan GeNose di stasiun dapat mencapai 2.000 orang dalam satu jam.

Budi mengatakan inovasi GeNose bukan tiba-tiba saja muncul. Tetapi melalui riset dan pengembangan yang panjang. Kemudian juga sudah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan. Dia memberikan apresiasi kepada UGM atas inovasi GeNose tersebut. ’’Murah, tidak menyakitkan, dan buatan Indonesia,’’ tuturnya.

Alat penyaringan (screening) Covid-19 buatan dalam negeri “GeNose” siap digunakan sebagai syarat perjalanan penumpang kereta api jarak jauh mulai 5 Februari 2021 di dua stasiun KA yaitu Stasiun Pasar Senen, Jakarta dan Stasiun Tugu, Yogyakarta.

“Sekarang ini kami masih gunakan di dua stasiun yaitu Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Tugu Yogyakarta. Nantinya secara bertahap penggunaan GeNose akan ditambah di titik-titik stasiun lainnya,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi kemarin (3/2)

Menhub menjelaskan, berdasarkan keterangan tim penemu dari UGM, alat GeNose tidak tiba-tiba diterapkan tetapi sudah melalui proses riset yang cukup lama sebelum bisa digunakan untuk publik.

”GeNose sudah mendapat izin edar dari Kemenkes dan sudah disetujui oleh Satgas Covid-19 dengan dikeluarkannya surat edaran, sehingga kami yakin alat ini sudah teruji untuk digunakan sebagai alat penyaringan Covid-19 di simpul-simpul transportasi seperti di stasiun,” katanya.

Budi mengungkapkan, GeNose ini akan menambah opsi bagi masyarakat untuk melakukan pengecekan kesehatan selain tes rapid antigen dan PCR, yang menjadi syarat perjalanan transportasi kereta api jarak jauh.

Penggunaan GeNose sebagai salah satu syarat perjalanan kereta api jarak jauh selain tes rapid antigen dan PCR, tercantum di dalam Surat Edaran (SE) Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 5 Tahun 2021 Tentang Perpanjangan Ketentuan Perjalanan Orang Dalam Negeri Dalam Masa Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19).

Kemudian, Kemenhub menindaklanjutinya dengan menerbitkan Surat Edaran No 11 Tahun 2021 Tentang Perpanjangan Pemberlakuan Petunjuk Pelaksanaan Perjalanan Orang Dengan Transportasi Perkeretaapian Dalam Masa Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19).

Pada SE No 11 tersebut disebutkan bahwa individu yang akan melakukan perjalanan menggunakan KA antar kota mulai 26 Januari sampai 8 Februari 2021 wajib menunjukkan surat keterangan hasil pemeriksaan GeNose atau rapid test antigen atau RT-PCR yang menyatakan negatif Covid-19. Pengambilan sampel maksimal dalam kurun waktu 3×24 jam sebelum jam keberangkatan untuk perjalanan KA antar kota di Pulau Jawa dan Sumatera. (wan/tau/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *