Gandeng KLHK, Dishut Papua Tinjau Kondisi Sungai di Sentani

Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Jan Jap Ormuseray (kemeja kotak-kotak) bersama Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring dan kepala BPDAS Mambramo, Dr. Mahendro saat meninjau sungai Nauli di Kampung Doyo Baru, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Kamis (4/2). ( FOTO: Robert Mboik/Cepos)

SENTANI-Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Papua dan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Mamberamo melakukan peninjauan terhadap seluruh sungai yang mengalir dari gunung Cycloop ke danau Sentani di Kabupaten Jayapura, Kamis (4/2) kemarin.

Peninjauan ini dilakukan guna memastikan ada tidaknya potensi bencana alam banjir bandang seperti yang pernah terjadi pada Maret 2019 lalu.

Peninjauan dan pengecekan itu dilakukan bersama antara 3 instansi tersebut dengan mengunjungi langsung sejumlah sungai yang dimulai dari Kampung Harapan sampai  di sungai Nauli Kampung Doyo Baru Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura.

Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Jan Jap Ormuserai mengatakan, pemantauan terhadap kondisi aliran sungai yang dilakukan secara bersama oleh tiga instansi tersebut merupakan tindak lanjut dari ramalan cuaca yang  dikeluarkan  pihak BMKG. Terkait adanya bahaya Lanina atau intensitas hujan yang cukup tinggi pada periode bulan Januari hingga April mendatang.

“Hari ini (kemarin, red) kami mengunjungi beberapa  sungai yang ada di Kabupaten Jayapura atau di Sentani. Ini terkait dengan adanya kondisi hujan yang terus-menerus selama beberapa hari ini. Oleh karena itu kita mengunjungi sungai-sungai ini untuk melihat secara langsung bagaimana kondisi real sungai-sungai ini,” ungkap Ormuseray kepada wartawan di sela-sela peninjauan itu, Kamis (4/3).

Dengan melihat kondisi di lapangan, Ormuseray mengatakan, pihaknya bersama dua instansi (BKSDA dan BPDAS Mamberamo) di lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, bisa menganalisis dan melakukan upaya lanjutan guna mengantisipasi segala kemungkinan terjadinya potensi banjir bandang, seperti yang sudah pernah terjadi di bulan maret 2019 yang lalu.

Ormuseray mengakui dengan keterlibatan tiga instansi yang berbeda ini, pihaknya ingin memberikan ketegasan dan penjelasan kepada masyarakat mengenai kondisi sebenarnya yang terjadi selama masa curah hujan tinggi di Kabupaten Jayapura.

Dimana tentunya dengan melihat fakta yang terjadi dari aliran sungai tersebut paska hujan deras yang terjadi beberapa hari belakangan ini.

“Hari ini (kemarin, red) Dinas Kehutanan mengambil langkah cepat bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah mengecek langsung ke beberapa sungai,” tandasnya.

Dari data yang diperoleh saat peninjauan itu, memang ada sejumlah sungai yang mengalirkan airnya dengan tingkat kekeruhan yang cukup. Dari situ juga diketahui bahwa memang ada beberapa titik longsoran yang terjadi di bagian hulu sungai. Namun itu tidak berpotensi menimbulkan bendungan-bendungan alam yang nantinya justru akan berdampak pada terjadinya banjir bandang.

“Beberapa kesepakatan yang akan kami lakukan nanti dari Dinas Kehutanan bersama dengan  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan menggunakan drone untuk secara detail. Kami telusuri alur sungai itu untuk melihat posisi kemungkinan terjadinya longsor di daerah hulu. Dimana longsoran itu akan berpotensi munculnya bendungan-bendungan alam yang dapat menyebabkan banjir bandang,” jelasnya.

Di tempat yang sama kepala BPDAS Mamberamo, Dr. Mahendro mengatakan, pasca kejadian banjir bandang di Sentani tahun 2019 lalu, pihaknya telah melakukan berbagai upaya pencegahan. Khususnya di kawasan hulu dari sejumlah daerah aliran sungai yang mengalir dari pegunungan Cycloop.

“Melalui RHL dan rehabilitasi Cycloop yang saat ini sedang berlangsung oleh PT Freeport. Namun yang penting lagi adalah pembinaan masyarakat dalam menghadapi potensi-potensi atau peluang terjadinya bencana. Jadi Bagaimana masyarakat sedini mungkin harus tahu,” tandasnya.

Sementara itu, kepala Balai BKSDA Provinsi Papua, Edward Sembiring mengatakan pihaknya sebenarnya telah melakukan upaya untuk mengantisipasi terjadinya bencana banjir bandang,  yaitu dengan mengaktifkan Mitra Polhut dan juga masyarakat untuk terus memantau kondisi aliran sungai di bagian hulu termasuk ada tidaknya longsoran.

“Untuk mengantisipasi terjadinya bencana, tim kami kepala resort dengan masyarakat dan mitrapolhut setiap hari sebenarnya sudah melakukan pemantauan itu.  Hari ini kami hadir untuk melihat fakta di lapangan. Yang perlu kita antisipasi adalah terbentuknya Bendungan alam yang ada di bagian Hulu,” tutupnya.(roy/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *