Alasan Terbesar Jadi PNS karena Ingin Perjuangkan Hak Difabel

BERTABUR PRESTASI: Kekurangan dalam hal pendengaran tidak membuat Dian Inggrawati Soebangil (tengah) terpuruk. Justru melecut semangatnya.

Inspirasi dari Abdi Negara Inspiratif (2)

Terdeteksi tunarungu sejak usia 2 tahun, Dian Inggrawati Soebangil kini telah mengoleksi 400-an trofi dari dalam dan luar negeri. Setiap kali bertugas ke daerah, dia menyempatkan mampir ke SLB.

ZALZILATUL HIKMIA, Jakarta

GANGGUAN pendengarannya terdeteksi pada usia 2 tahun. Tapi, di umur 4 tahun, Dian Inggrawati Soebangil mulai mengikuti berbagai lomba. Dan, hasilnya, hingga kini lebih dari 400 trofi telah dia koleksi.

“Ini semua berkat dorongan dan dukungan dari orang tua dan tante saya,” tutur PNS (pegawai negeri sipil) di Kementerian Sosial (Kemensos) tersebut.

Raihan terbarunya adalah terpilih sebagai Top 3 PNS Inspiratif dalam Anugerah ASN 2020 yang diadakan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara-Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB).

Sebelumnya, perempuan kelahiran Jakarta, 12 April 1984, itu juga dinobatkan sebagai Duta Pendidikan Inklusi 2011 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Lalu, meraih penghargaan Anugerah Peduli Pendidikan (APP) untuk kategori Individual dan Inovator Pendidikan pada tahun yang sama.

Selain itu, alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Persada Indonesia (UPI) Yayasan Administrasi Indonesia (YAI) tersebut terpilih sebagai Duta Brand Ambassador TIMOTI 2020–2021 dari PT Timoti Beauty Indonesia hingga dipilih sebagai pemeran di iklan promosi penerjemah safety maskapai dalam negeri.   

Raihannya bahkan menjulur sampai luar negeri. Pada 2011 Dian berhasil menyabet gelar Runner-up II Miss Deaf World di Praha, Republik Ceko.

Pada tahun berikutnya, dia kembali mengikuti kontes serupa dan berhasil lolos sebagai Top 5 Miss Deaf International 2012 di Ankara, Turki. Ajang tersebut diikuti peserta dari 23 negara.

Orang tua sadar Dian mengalami gangguan pendengaran ketika dia tak merespons saat ada di dekat sumber suara. ”Bahkan suara bel pun, saya tidak menoleh,” kenangnya saat berbincang dengan Jawa Pos pada awal Januari 2021.

Setelah dibawa ke dokter, diketahui bahwa saraf telinga bagian dalamnya pecah. Ketika dilakukan tes pendengaran, kemampuan telinga bagian kanannya mencapai 110 db dan kiri 90 db. Padahal, ukuran normal biasanya kurang dari 25 db.

”Alhamdulillah, telinga kiri masih bisa mendengar musik. Volume suaranya lebih besar saja,” tutur fans Mariah Carey tersebut.

Waktu kecil Dian dimasukkan sekolah luar biasa (SLB) ternama di ibu kota. Baru ketika kelas III SD, dia dipindahkan ke sekolah umum karena kemampuannya di atas rata-rata.

Di sana hari-hari Dian mulai tak berjalan mulus. Ada beberapa teman sekolah yang mengejeknya bisu bahkan bodoh. Walaupun dia tidak mendengar secara langsung, efeknya tetap terasa.

Tapi, itu tak sampai membuatnya terpuruk. Malah sebaliknya, dia terlecut. Dukungan orang tua dan sang tante membuat Dian kecil kian percaya diri.

Dia pun selalu bersemangat mengikuti segala jenis lomba. Mulai menggambar sampai catwalk.

Tempaan berbagai lomba itu mempertebal keyakinan dirinya. Dan, itu terbawa sampai Dian dewasa.

Saat akan mengikuti Miss Deaf World di Praha, Republik Ceko, Dian tak menguasai bahasa isyarat sama sekali. Baik bahasa isyarat internasional (ASL) maupun Indonesia.

Padahal, ASL menjadi salah satu penilaian utama dalam ajang Deaf Beauty Pageant tersebut. Selain itu, ASL dijadikan satu-satunya alat komunikasi pada masa karantina.

’’Karena dulu waktu bersekolah di SLB terkenal di Jakarta itu, saya menggunakan bahasa oral. Nggak boleh bahasa isyarat sesuai aturan di sekolah,’’ jelasnya.

Namun, orang-orang terdekatnya memberikan dukungan penuh agar dia tak menyerah. Dalam waktu tiga bulan, dia matu-matian belajar ASL dengan panduan guru tuli profesional dan penerjemah profesional.

Hasilnya, selama karantina hingga puncak final acara, Dian secara luar biasa berhasil memukau juri dari semua sesi. Baik kecantikan, bakat, prestasi, latihan catwalk, kostum nasional, maupun wawancara yang wajib memakai bahasa isyarat.

Kepercayaan diri itu juga yang membuatnya berani melamar sebagai PNS pada 2015. Kebetulan, saat itu pemerintah mulai memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk bekerja sebagai abdi negara.

Dia menemukan salah satu formasi disabilitas di Kemensos saat itu. ”Saya coba mendaftar secara online dan mandiri tanpa bantuan siapa pun,” katanya.

Waktu itu, alasan terbesarnya mendaftar hanya ingin memperjuangkan hak penyandang disabilitas dan berguna bagi bangsa. Dan, dia berhasil. Menjadi tunarungu pertama dan satu-satunya yang bekerja di Kemensos kala itu yang dipimpin Khofifah Indar Parawansa. Saat ini dia ditugaskan sebagai analis tata laksana bagian organisasi, hukum, dan humas (OHH) di Sekretariat Badan Pendidikan, Penelitian, dan Penyuluhan Sosial (Set Badiklitpensos).

Untuk komunikasi selama bekerja, Dian memakai alat bantu dengar jika sedang rapat, pertemuan, dan bercakap-cakap secara tatap muka. Dia sudah mahir membaca bahasa bibir (oral).

Namun, tidak berarti masalah terpecahkan 100 persen. ”Pengalaman saya sulit berkomunikasi pada saat meeting,” ungkapnya.

Untuk mengatasinya, Dian memanfaatkan teknologi. Dia menginstal aplikasi perekam audio transcribe. Dengan perantara aplikasi itu, suara yang masuk akan langsung diubah menjadi tulisan di layar handphone. Sangat memudahkannya untuk memahami apa yang disampaikan saat rapat.

”Guna mengurangi kendala komunikasi, saya kadang berkomunikasi melalui tulisan di atas kertas atau ketik-ketik di HP,” sambungnya.

Tak pernah sekali pun dia mengalami diskriminasi di tempat kerja. Tugas yang diberikan kepadanya juga sama dengan yang dibebankan kepada rekan-rekannya. Jadi, tidak ada pengistimewaan.

Anugerah ASN 2020 diserahkan langsung oleh Menteri PAN-RB Tjahjo Kumolo pada pertengahan Desember lalu. Untuk tiap-tiap kategori, ditetapkan tiga ASN terbaik. Selain ASN Inspiratif, ada kategori Pejabat Pimpinan Tinggi (PPT) Teladan dan The Future Leader. Total usulan yang masuk mencapai 945 portofolio ASN.’’Seleksi dilakukan secara objektif dan ketat,’’ kata Tjahjo.

Di Kemensos, Dian juga pernah ditunjuk sebagai Duta Bangsa di Tingkat Global untuk memotivasi para penyandang disabilitas. Setiap ditugaskan ke luar daerah, dia juga menyempatkan diri berkunjung ke SLB tunarungu yang ada di daerah tersebut.

Dia datang untuk memberikan motivasi dan inspirasi dari pengalaman luar biasa yang pernah dijalaninya. Bukan hanya bagi anak-anak tunarungu, melainkan juga para orang tua murid agar sama-sama tak putus asa dan terus berjuang menggapai cita. ”Saya berharap semua anak-anak tunarungu bisa mandiri dan menggapai impian serta cita-citanya di masa yang akan datang,” ujarnya. (*/c7/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *