Razia  Sajam, Miras dan Curanmor Belum Berakhir

Patroli Personel Gabungan Polres Jayawijaya yang dipimpin Kasat Reskrim Iptu Mattinetta, S.Sos, MM saat mendapati sebuah mobil di Jalan Sinapuk yang digunakan untuk miras dan ditemukan adanya sajam yang di bawah jok, Sabtu (30/1) malamlalu. ( FOTO:Denny/ Cepos)

WAMENA- Kapolres Jayawijaya AKBP. Dominggus Rumaropen, S.Sos, MM memastikan bahwa kegiatan razia terhadap senjata tajam (Sajam), kendaraan curian serta tempat pembuatan miras sampai dengan saat ini belum berakhir. Jajarannya, setiap hari patrol, mulai dari Dalmas , Sat Lantas dan Hunting Sat reskrim masih terus melakukan razia baik pagi, siang maupun malam hari.

   “Masalah pembawaan sajam ini seperti sudah menjamur di kalangan masyarakat, meskipun kita lakukan razia sajam terus menerus di daerah -daerah keramaian seperti Pasar Jibama, Potikelek, Sinakma dan Wouma, namun masih saja ditemukan ada warga yang membawa sajam, bahkan kami sudah menyita sajam tersebut,” ungkap Kapolres kepada Cenderawasih Pos, Selasa (2/2) kemarin.

   Menurut Kapolres, membawa Sajam di tempat umum ini sangat berbahaya. Apalagi yang membawa sajam ini dipengaruhi miras, pastinya setiap ada akses yang mempengaruhinya sajam ini pasti akan digunakan. Begitu juga kalau melakukan tindakan kriminal, apabila ada kesempatan maka sajam yang dibawa itu langsung digunakan untuk melakukan kekerasan kepada orang lain.

   “Kalau mau dihitung berapa banyak sajam yang diamankan itu, sudah ribuan dari berbagai jenis, karena setiap melakukan razia pastinya akan ditemukan ada masyarakat yang membawa sajam baik itu masyarakat asli atau masyarakat lainnya,” ujar Mantan Kapolres Mamberamo Raya.

  Menurutnya pembawaan sajam di tengah -tengah masyarakat ini masih banyak hingga saat ini. Karena itu, pihaknya masih terus melakukan razia, patrol dan hunting. Sebab, sajam yang dibawa ini seriung kali digunakan untuk melakukan kekerasan, begal, Jambret  dan curanmor kepada setiap korban yang terlihat sedikit lengah dalam melakukan aktifitas sehari -hari.

   “Contoh kasus penikaman Pendeta kemarin, itu terjadi siang hari saat para pelaku ini dalam keadaan mabuk karena mengkonsumsi Miras lokal jenis Balo fermentasi CT,” jelasnya.

   Rumaropen menambahkan, semua tindakan kriminal yang terjadi di Jayawijaya saling berkaitan, seperti miras dan sajam, itu akan berkaitan dengan melakukan aksi kekerasan, dan begal. Sementara untuk Curanmor, ini berkaitan dengan jambret. Artinya motor curian digunakan untuk membuat kejahatan yang lain.

  “Masalah ini menjadi fenomena yang selama ini terjadi di Jayawijaya, namun setiap kali kita temukan ada warga yang membawa sajam maka langsung sajam tersebut diamankan oleh petugas, baik dalam patroli rutin atau hunting,”tutupnya. (jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *