Dari Ngaji on the Bus sampai Agrowisata Buah

DOSEN JUGA,PETANI IYA: Fathul Aminudin Aziz bercocok tanam buahbuahan di desanya, Cilacap.

Inspirasi dari Para Abdi Negara Inspiratif (1)

Dari rumahnya di desa lereng gunung, Fathul Aminudin Aziz memandu kuliah dari kebun seraya melahirkan berbagai inovasi. Pesantren yang didirikan pun berbasis pertanian buah-buahan.   

M. Hilmi Setiawan, Jawa Pos, Jakarta

PANDEMI Covid-19 membuat Fathul Aminudin Aziz banting setir dalam melakoni kehidupan sehari-hari. Dosen IAIN Purwokerto itu meninggalkan kota dan memilih hidup di pedesaan. Tepatnya di kawasan Gunung Pesahangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Sebagaimana diketahui, dampak dari pandemi Covid-19, perkuliahan tatap muka di kampus dihentikan sementara. Termasuk di IAIN Purwokerto. Perkuliahan diganti secara daring atau jarak jauh.

Kondisi itu membuat Fathul punya banyak waktu di rumah sampai akhirnya memilih untuk tinggal di pedesaan. Jarak dari tempat tinggalnya ke desa sekitar dua jam perjalanan darat.

’’Alhamdulillah, meskipun di desa, sinyal internetnya bagus. Jadi, saya work from garden,’’ candanya ketika dihubungi.

Di waktu sela ketika tidak memandu kuliah atau kegiatan akademik lain, dia memanfaatkannya untuk bertani. Fathul juga memaksimalkannya untuk lebih banyak melahirkan inovasi.

Inovasi-inovasi itulah yang akhirnya membuat dia terpilih sebagai satu di antara Top 3 PNS (Pegawai Negeri Sipil) Inspiratif 2020, satu di antara tiga kategori yang dilombakan dalam Anugerah ASN 2020 yang digelar Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB).

Salah satu inovasi yang dijalankan adalah Ngaji on the Bus. Itu dimaksudkan untuk mengatasi rasa bosan para santri yang di-lockdown tidak boleh keluar pondok selama pandemi Covid-19. Jadi, pada waktu-waktu tersebut, para santri naik bus milik pondok, lalu mengaji di dalam bus. ’’Sambil keliling Purwokerto,’’ kata pria kelahiran Cilacap, 3 April 1968, tersebut.

Para santri yang mengikuti kegiatan Ngaji on the Bus itu adalah santri dari pesantren-pesantren yang didirikan Fathul. Pada 2015 dia mendirikan empat pesantren: Elfira 1, Elfira 2, Elfira 3, dan Elfira 4.

Empat pesantren Elfira itu dibangun untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa IAIN Purwokerto. Total santri di empat pesantren tersebut sekitar 900 orang.

Tiap pesantren memiliki kekhususan. Elfira 1 lebih mengutamakan kemampuan membaca kitab kuning. Elfira 2 untuk mahasiswa yang mengawali kemampuan baca tulis Alquran dan praktik pengamalan ibadah. Elfira 3 untuk meningkatkan kemampuan bahasa Arab dan Inggris. Lalu, Elfira 4 untuk mencetak para penghafal Alquran.

Ketika memilih tinggal di pedesaan, dia pun memutuskan untuk kembali mendirikan pesantren.  Kali ini pesantren yang didirikan adalah pesantren gratis berbasis pertanian buah-buahan.

Para santri diajak berkebun buah-buahan di lahan pesantren. Hasilnya dipakai untuk menopang kegiatan operasional pondok.’’Santri hanya membayar untuk kebutuhan makan. Biaya mondok-nya gratis,’’ katanya.

Bahkan, ketika kelak buah-buahan yang ditanam panen dan menghasikan uang, para santri yang terlibat merawat buah-buahan itu bisa mendapatkan uang tambahan. Pohon yang ditanam, antara lain, durian, jambu citra, jeruk lemon, dan alpukat.

Anugerah ASN atau ASN Award 2020 diserahkan langsung oleh Menteri PAN-RB Tjahjo Kumolo pada pertengahan Desember lalu. Untuk tiap kategori, ditetapkan tiga ASN terbaik.

Selain kategori PNS Inspiratif, ada kategori Pejabat Pimpinan Tinggi (PPT) Teladan dan The Future Leader. Total usul yang masuk mencapai 945 portofolio ASN.

Ada empat instrumen penilaian yang digunakan. Yaitu, inspirasi, inovasi, dampak, serta kepemimpinan.

Saat memberikan sambutan dalam malam puncak Anugerah ASN (Aparatur Sipil Negara) 2020, Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyebut pentingnya sebuah birokrasi diisi orang-orang kreatif. ’’Dalam alam kompetisi yang ketat, hanya birokrasi dan ASN (aparatur sipil negara) yang bekerja secara inovatif yang akan mampu bersaing dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,’’ ujar Ma’ruf.

Fathul mengatakan, dirinya berjuang untuk menghadirkan lembaga pendidikan yang murah atau terjangkau. Khususnya di pedesaan.

Alasannya, dia ingin mengatasi persoalan angka putus sekolah yang masih tinggi di pedesaan. Sebagian besar kasus putus sekolah itu dipicu faktor ekonomi atau biaya pendidikan.

Pria yang tinggal di Sindangsari, Cilacap, itu memang bertekad menekuni dunia pertanian, khususnya buah-buahan. Bahkan, sebagian sawahnya ditanami buah-buahan.

Bagi Fathul, menanam padi punya muatan politis. Sebab, saat harga pupuk naik, harga jual hasil panen malah ditekan. Karena itu, hasilnya kurang menguntungkan. Berbeda halnya dengan menanam buah-buahan. Selain itu, dia melihat pola tanam petani di sekitar gunung Pesahangan sangat tradisional sehingga kurang membawa hasil maksimal.

Dia berinovasi dengan berkebun model tumpang sari. Kebunnya seluas sekitar 2 hektare ditanami durian, pohon pandan duri sebagai bahan baku kerajinan tikar, dan kencur.

Menurut Fathul, petani memiliki pemikiran yang khas. Tidak perlu diberikan penyuluhan yang rumit. Cukup dengan contoh, sudah banyak yang mengikuti.

Tidak berhenti sampai di situ. Fathul bersama kelompok tani yang berjumlah 20-an orang membentuk agrowisata berbasis buah-buahan. Lahan yang digunakan mencapai 10 hektare. Saat ini masih dibangun jalan bagi kendaraan yang nanti menyusuri kebun buah-buahan.’’Bagi yang tidak punya mobil, nanti disiapkan sewa Jeep,’’ tuturnya.

Dia sempat ragu akan gagasan membangun agrowisata itu. Sebab, para petani harus merelakan lahan mereka dipotong untuk digunakan sebagai jalan. Bukannya keberatan, justru banyak yang berebut lahannya dijadikan jalan.

Sebab, mereka mendapatkan banyak manfaat dengan pembangunan jalan tersebut. Misalnya, mereka bisa masuk ke lahan dengan menggunakan motor. Tidak perlu jalan kaki. Harga lahan juga terangkat karena dilewati jalan.

Beberapa bulan lagi agrowisata yang melibatkan badan usaha milik desa (BUMDes) setempat itu beroperasi. Dia menunggu dua jenis tanaman buah-buahan yang berbuah dan siap dipetik. Dengan begitu, pengunjung bisa lebih dimanjakan.

’’Pengunjung nanti bisa memetik langsung buah durian, jambu citra, jeruk lemon, dan lainnya,’’ katanya. (*/c19/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *