Tak Ubahnya Ibu, Bebas Dicurhati soal Utang dan Rumah Tangga

BERPRESTASI: Tri Wahyu Nurlia bersama dengan suami, Andri Priyanto, dan putrinya, A. Madinah C.Tiffara Priyanto, saat menerima Indonesia Migrant Worker Award 2020 sebagai P3MI Berkinerja Terbaik I Tingkat Nasional.

Kehangatan dan Nirbiaya, Kunci Sukses PT Parco Laut Raih Penghargaan Kemenaker

Tri Wahyu Nurlia gigih menerapkan kebijakan tanpa biaya kepada para pekerja migran yang dia bantu penempatannya, bahkan sebelum mengakuisisi PT Parco Laut. Dia memperlakukan mereka seperti keluarga sendiri.

MAYA APRILIANI, Sidoarjo, Jawa Pos

KANTOR bersahaja itu berada di tengah permukiman penduduk. Bentuknya tidak jauh berbeda dengan rumah warga lain. Tak ada pagar tinggi yang mengelilingi. Tanpa petugas sekuriti.

Tapi, dari kantor berhalaman luas itu, ribuan orang terbantu mendapatkan pekerjaan di Hongkong. Ribuan orang terbantu mendapatkan penghasilan yang lebih baik di negeri bekas koloni Inggris itu.

Kinerja yang membuat PT Parco Laut, nama perusahaan di kawasan Jalan Sukorejo, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, tersebut diganjar penghargaan. PT Parco Laut terpilih sebagai Perusahaan Penempatan Pekerja Migran (P3MI) Terbaik I Tingkat Nasional 2020.

Penghargaan bertajuk Indonesia Migrant Worker Award (IMWA) itu diberikan oleh Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker). Dan, diserahkan pada 18 Desember 2020, bertepatan dengan momen Hari Migran Internasional.

Keberhasilan yang, kata Tri Wahyu Nurlia, sang pemilik, salah satu kuncinya ada pada kehangatan. ’’Bagi kami, para pekerja migran itu seperti keluarga sendiri,” katanya kepada Jawa Pos.

Kehangatan itu sedikit banyak juga tecermin pada suasana kantor. Halaman yang luas itu tak hanya digunakan untuk parkir kendaraan. Tanah berpaving tersebut juga sering dijadikan sebagai tempat bermain anak-anak.

Musala yang berada tepat di sebelah kiri kantor pun aktif digunakan beribadah warga. ’’Musala itu dulu langgar panggung,’’ ucap Lia, sapaan akrab Tri Wahyu Nurlia, yang dulu dibesarkan di tempat yang kini menjadi kantornya tersebut.

Sebelum pandemi, para PMI (pekerja migran Indonesia) yang akan bekerja ke luar negeri biasa mengaji di tempat tersebut.

Mereka ditempatkan di asrama. Letaknya di belakang bangunan kantor utama.

Tempat tinggal sementara milik perusahaan berprestasi di tingkat nasional itu jauh dari kesan mewah. Tapi, kondisinya bersih dan rapi.

Asrama tersebut memiliki 20 kamar. Sebelum pandemi, para warga pendatang itu pun berbaur dan berinteraksi dengan penduduk asli.

Perempuan yang 16 Januari lalu tepat berusia 45 tahun itu  menempatkan diri sebagai seorang ibu untuk para PMI. Mereka bisa curhat dan berbicara segala hal dengan alumnus Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang itu. Mulai masalah rumah tangga hingga utang yang belum terbayarkan.

Bahkan, untuk urusan makanan, Lia juga tidak campur tangan. Mereka diberi uang dan dibebaskan mengatur sendiri belanja untuk makan sehari-hari.

Kepedulian Lia pada para PMI tumbuh sejak lama. Saat masih menjadi mahasiswa, dia sudah berinteraksi dengan para penyumbang devisa negara tersebut.

Ibu satu anak itu bersentuhan dengan mereka saat dipercaya mengelola balai latihan kerja (BLK) di Malang. Salah satu kelompok yang mendapatkan pelatihan darinya adalah para PMI.

Saat pelatihan, sering kali dia mendengar cerita dari mereka. Gambaran tentang PMI yang harus rela gajinya dipotong beberapa lama demi bisa bekerja di luar negeri. Hingga, mereka harus berutang ke bank demi bisa terbang dengan jaminan harta benda milik keluarga yang tak seberapa.

’’Dari situ saya merasa ada yang tidak beres dengan proses perekrutan dan penempatan PMI,’’ ucap Lia dengan penuh semangat.

Dia pun mulai belajar tentang seluk-beluk perekrutan dan penempatan PMI yang benar. Hingga, dia paham bahwa seharusnya para PMI bisa bekerja di luar negeri tanpa mengeluarkan biaya alias zero cost. Tanpa pemangkasan gaji berbulan-bulan dan bisa mendapat bayaran utuh di tangan dari hasil keringat sendiri.

Demi ingin melihat para PMI sejahtera, Lia pun rela belajar marketing langsung ke Hongkong. Selepas kuliah, dia mendapat izin dari orang tua pergi ke luar negeri.

Sebelumnya, saat orang tua belum mengizinkan, Lia berusaha mendirikan perusahaan sendiri. Perusahaan yang tidak akan memberlakukan potong gaji untuk PMI.

Tapi, bukan izin yang diterima untuk usahanya, dia malah mendapat penolakan. Saat itu, tidak mungkin terjadi seorang PMI tanpa dipotong gaji. Dasar aturannya untuk melakukan itu belum ada.

Lia tidak putus asa. Ketika akhirnya bisa ke Hongkong, dia mulai belajar dan merintis perusahaan untuk penempatan PMI. Perempuan kelahiran Sidoarjo itu memilih Hongkong karena memiliki aturan jelas dan tegas tentang penempatan dan perlindungan bagi PMI. ’’Saya di sana (Hongkong), adik-adik dan kakak yang mengurus di sini,’’ katanya.

Cita-cita Lia untuk membantu PMI mulai terwujud di sana. Melalui perusahaan Sinar Jaya Co Ltd yang berkantor di Nathan Road, Kowloon, Hongkong, dia mulai menerapkan nirbiaya alias zero cost. Seluruh biaya ditanggung pengguna jasa pekerja.

Tapi, saat ingin memulai di negeri sendiri, ternyata tak semudah yang dibayangkan. Hingga akhirnya, Lia tetap menerapkan pengurangan gaji dengan berat hati. Dengan nominal jauh di bawah potongan perusahaan lain.

Misalnya, di perusahaan lain pengurangan dilakukan selama tujuh bulan. Dia menerapkan lima bulan. ’’Jika ngotot langsung tanpa biaya saat itu sangat berat,’’ lanjut perempuan yang hobi membaca dan traveling tersebut.

Saat itu pemerintah belum mendukung penuh. Tidak ada undang-undang yang mendasari pemberlakuan PMI bekerja di luar negeri tanpa biaya. Selain itu, belum semua PMI memahami bahwa tanpa potongan gaji bisa terjadi.

Bahkan, ada juga yang mengatakan tanpa potongan gaji itu ilegal. Bisa-bisa nanti dijual di negara orang.

Menghadapi hambatan tersebut, Lia tetap bersemangat. Sampai akhirnya, dia bisa benar-benar menerapkan penempatan PMI tanpa potongan gaji.

Warga yang bekerja di luar negeri tidak ditarik biaya sepeser pun. Nur Fajar Riyanti, salah seorang PMI, membenarkannya.

Menurut dia, di PT Parco Laut, tidak ada pungutan sama sekali. Karena itu, ibu dua anak dari Tuban, Jawa Timur, tersebut mantap mendaftarkan diri sebagai PMI melalui perusahaan tersebut. ’’Saya tahunya (PT Parco Laut) dari Facebook,’’ ucap perempuan 28 tahun itu.

Awal menjalankan usaha penempatan PMI, Lia belum memiliki perusahaan sendiri. Dia masih ikut perusahaan orang lain.

Cuma setor modal. Dengan syarat, perekrutan para PMI dari Lia dan tetap dia yang menjalankan. Hanya, saat pemberangkatan PMI darinya, dia ikut nama perusahaan orang lain tersebut. ’’Saya terapkan itu zero cost,’’ katanya.

Tapi, penerapan sistem tersebut ternyata membuat perusahaan yang diikuti merasa rugi. Para PMI dari perusahaan itu ribut saat mengetahui PMI yang direkrut Lia tak mengeluarkan biaya. ’’Saat perusahaan mengetahui itu, saya di-cut. Tidak boleh mengikutkan PMI lagi,’’ kenang Lia.

Berkali-kali hal seperti itu terjadi. Akhirnya Lia bisa berdiri sendiri. Memiliki PT Parco Laut yang sahamnya dia beli sekitar 2013.

Menurut Esni Darsono, PMI lain, dalam perjanjian yang dibuat oleh PT Parco Laut jelas tertera bahwa tidak ada potongan gaji sepeser pun. Bahkan, perusahaan tidak mengizinkan pemakai jasa PMI memberikan gaji di bawah upah standar di Hongkong. Harus sesuai standar. ’’Bahkan, ada yang mendapat lebih karena memiliki kemampuan ekstra. Misalnya, menguasai banyak bahasa asing hingga ahli mengemudi,” katanya kepada Jawa Pos.

Tentu Parco Laut juga punya persyaratan ketat yang harus dipatuhi PMI. Di antaranya, mereka harus jujur. Semua dokumen asli, tidak ada yang dipalsu. Saat datang ke perusahaan, mereka harus bersama orang tua atau suami. ’’Saya juga mengajarkan kepada para PMI untuk berani mengurus dokumen sendiri,’’ ucap Lia.

Baik di tingkat desa maupun saat mereka membuat paspor. Tujuannya, mereka mengetahui prosedur dan lebih berpengalaman serta pintar. Jika ada hal yang tidak benar, mereka berani menyuarakan.

Lia selalu memotivasi para PMI sebelum berangkat ke luar negeri. Bagi yang muda, saat berangkat kerja sebagai lulusan SMP, kala kembali ke tanah air harus bisa menjadi sarjana.

PMI yang sudah berumah tangga atau memiliki anak disemangati dan dibekali ilmu agar dapat membangun usaha sendiri. ’’Alhamdulillah, sudah banyak anak yang berhasil sampai sekarang,’’ tutur Lia dengan mata berbinar.

Ada PMI yang memiliki omzet ratusan juta tiap bulan dari hasil berjualan bahan makanan Indonesia. ’’Ada juga PMI yang berhasil memiliki ratusan kambing,’’ ucap Lia.

Beragam kisah suka duka dalam penempatan PMI membuat Lia ingin terus membantu sesama. Lia juga mendirikan Yayasan Al-Madinah Kamil yang menaungi Rumah Al-Quran Al Madinah Kamil. Tempat anak-anak belajar sekaligus menghafal Alquran secara gratis. Tanpa dipungut biaya.

Ratusan anak yang belajar di rumah tersebut berasal dari berbagai wilayah di Sidoarjo.

Para PMI yang mengetahui tempat belajar itu pun menginginkan anak mereka bisa menimba ilmu di sana. Tapi, keinginan tersebut baru bisa terwujud semester depan.  ’’Insya Allah semester depan (yang rumahnya jauh) sudah bisa mukim,’’ ujar Lia.

Andri Priyanto, sang suami, selama ini mendukung penuh Lia. Mereka berdua membesarkan perusahaan penempatan PMI bersama.

Selama Lia di Hongkong seusai mereka menikah, Andri tetap setia mendukung. Andri juga paham sang istri sosok aktif dan pemberani sejak muda.

Laki-laki 45 tahun itu pun turut merasakan saat ancaman datang mendera ketika mereka teguh pendirian tidak memungut biaya sepeser pun kepada PMI. Tidak hanya teror di Kantor Cabang Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Lampung, ancaman pembunuhan pun sering mereka terima.

Hal itu tak sedikit pun membuat mereka gentar. ’’Hidup mati itu di tangan Allah. Bukan kehendak seseorang,” kata Andri.

Tak jarang pula ada yang salah mengira tentang PT Parco Laut. Dianggap perusahaan yang berhubungan dengan hasil laut. ’’Beberapa kali orang menelepon menanyakan soal ikan,” tutur Andri, lantas terkekeh.

Padahal, PT Parco Laut adalah pelopor penerapan zero cost kepada para PMI. Saat ini aturan tersebut sudah tertuang dalam Undang-Undang No 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.

Lia dan keluarga bertekad untuk terus membantu sesama. Tidak hanya bagi PMI, tapi juga warga sekitarnya. Selain Rumah Al-Quran, Lia mempersiapkan perpustakaan.

Harapannya, ilmu pengetahuan anak-anak bertambah. Tidak hanya berkutat dengan gawai. Khusus untuk PMI, dia berharap pemerintah tetap memberikan perhatian.

Misalnya, memberikan pelatihan yang dibiayai negara agar mereka makin terampil bekerja. ’’Bukankah negara juga mendapat nama baik saat pekerja pintar dan bagus kinerjanya,’’ katanya. (*/c7/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *