Hipertensi, ISPA, sampai Penyintas Covid 19, Berbagai Alasan Batal Vaksin di Papua

Kepala DPPAD Papua, Christian Sohilait ST. M.Si saat menjadi penerima vaksin perdana di Papua dalam kegiatan launching vaksin di tingkat Provinsi Papua yang dilakukan di RSUD Jayapura, Jumat (15/1) lalu. (FOTO: Gratianus silas/cepos)

Melihat Perkembangan Vaksinasi Covid 19 di Papua

Sejak peluncuran vaksin perdana, ditandai dengan pemberian vaksin pertama kepada orang nomor satu di Indonesia, yakni Presiden Joko Widodo, program vaksinasi di Indonesia langsung tancap gas. Seperti apa perkembangan vaksinasi di Papua? Berikut laporan Cenderawasih Pos

Laporan: Gratianus Silas

Dialokasikan khusus untuk tiga kabupaten/kota di Papua, yakni Mimika, Kota Jayapura, dan Kabupaten Jayapura, distribusi vaksin tahap pertama – termin pertama tiba di Jayapura pada awal Januari lalu. Dinas Kesehatan Provinsi Papua tidak menunggu waktu lama, melainkan langsung melanjutkan distribusi ke tiga kabupaten/kota yang dimaksud.

Kemudian, setelah launching vaksin yang ditandai dengan pemberian vaksin kepada 21 pimpinan dan tokoh Papua, maka proses vaksinasi yang khusus diperuntukkan bagi tenaga kesehatan di tahap pertama ini langsung dimulai.

Dari ketiganya, Kota Jayapura yang tancap gas duluan dalam program vaksinasi yang dilakukan. Diikuti dengan Mimika, dan Kabupaten Jayapura. Meskipun Kota Jayapura yang duluan menjalankan progam vaksinasi di Papua, namun, berdasarkan data sementara, saat ini Mimika yang memiliki jumlah penerima vaksin paling banyak di Papua.

Dari 2.320 alokasi vaksin yang didistribusikan untuk Mimika, sejauh ini sudah 715 nakes yang sudah divaksin, 162 batal vaksin, dan 99 nakes ditunda vaksin. Kota Jayapura membuntuti di belakang Mimika, di mana dari  7.560 vaksin yang dialokasikan, hingga kini baru 576 nakes yang telah menerima vaksin. Sedangkan 225 nakes diketahui drop out atau batal vaksin, dan 77 nakes ditunda vaksinasi.

Sementara itu, untuk Kabupaten Jayapura, dari total 2.720 alokasi vaksin yang didistribusikan, tercatat baru 81 nakes yang telah menerima vaksin, 11 nakes batal vaksin, dan 9 nakes ditunda vaksin.

“Perkembangan vaksinasi di Papua sudah meningkat dari 3,36 persen menjadi 7.25 persen atau 1.363 nakes telah menerima vaksin, 399 batal vaksin, dan 186 ditunda vaksin,” terang dr. Aaron Rumainum, M.Kes., berdasarkan data vaksinasi yang disampaikan, Jumat (29/1) kemarin.

Adapun berbagai alasan batal vaksin yang diketahui, seperti halnya yang memiliki penyakit penyerta Hipertensi sebanyak 204 nakes, yang sebagai penyintas Covid 19 berjumlah 13 nakes, yang sedang menyusui sebanyak 9, menderita ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) berjumlah 4 nakes, pernah terkena Covid 19 dengan jumlah 5 nakes, maupun yang sedang hamil sebanyak 5 nakes.

“Ada berbagai alasan, seperti hipertensi. Kalau hipertensi, ya kita harus minum obat dulu sampai hipertensinya terkendali baru kita lanjutkan lagi. Kalau penyintas Covid 19 ya tidak bisa, tidak masuk dalam sasaran vaksinasi. Sedangkan yang menyusui, nanti setelah masa menyusui baru boleh untuk divaksinasi,” terangnya.

Kata dr. Rumainum, target merampungkan vaksinasi tahap pertama dari Kementerian Kesehatan ditetapkan pada akhir Februari 2021. Namun, menurut dr. Rumainum, dengan melihat kondisi Papua, di mana harus diberikan pelatihan vaksinator bagi tenaga kesehatan di 15 kabupaten, maka khusus Papua diragukan bisa rampung sesuai waktu yang ditetapkan.

“Kondisi Papua  ini 4 kali lipat dari pulau Jawa, dari infrastruktur internet dan geografis, serta masalah keamanan, sehingga kita tidak terlalu memasang target yang tinggi. Target merampungkan vaksinasi tahap pertama dari Kemenkes itu akhir Februari. Tapi melihat kondisi bahwa ada 15 kabupaten yang pelatihan, maka kita tidak bisa benar-benar selesai di akhir Februari itu,” tambahnya.

“Namun, untuk kota besar seperti Kota Jayapura, Mimika, dan Kabupaten Jayapura, serta  Merauke yang bertindak sebagai penyelenggara PON, saya berharap, akhir Februari itu kita sudah selesaikan vaksinasi tahap pertama. Sebab, kita mau sukseskan PON 2021,” pungkasnya.(*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *