Dimensi PCC: Koordinasi dan Integrasi Asuhan dalam Aktivitas Perawat Case Manager di Rumah Sakit

Marthen Sege, SKep.Ns ( FOTO: Marthen Sege For Cepos)

JAYAPURA- Patient Centered Care ( PCC) atau perawatan yang berpusat pada pasien merupakan perawatan yang menghormati dan responsif terhadap preferensi, kebutuhan dan nilai pasien individu, dan memastikan bahwa nilai-nilai pasien memandu semua keputusan klinis.
“Patient Centered Care merupakan pergeseran dari pendekatan tradisional, paternalistik, berbasis penyedia, berfokus pada penyakit menuju sistem perawatan kesehatan yang menghormati preferensi, kebutuhan, keinginan dan pengalaman pasien. PCC memberdayakan pasien, dan memungkinkan penyedia layanan kesehatan untuk bermitra dengan pasien untuk lebih memenuhi kebutuhan pasien,” kata mahasiswa Pasca Sarjana Manajemen Keperawatan STIKES Karya Husada Semarang melalui press lease yang diterima Ceposonline.com, Minggu (31/1).
Menurut Marthen, salah satu dimensi PCC adalah koordinasi dan integrasi asuhan. Mengkoordinasikan dan mengintegrasikan asuhan pasien untuk mengurangi perasaan cemas dan takut selama pasien dirawat. Pasien diharapkan mampu mengidentifikasi perasaan cemas dan takutnya melalui upaya koordinasi dan integrasi, baik koordinasi tentang perawatan apa yang akan dia terima maupun rencana pemulangan setelah pasien keluar dari rumah sakit.
“Perawat Case Manager yang merupakan bagian dari tim manajemen pelayanan pasien berperan memfasilitasi pemenuhan kebutuhan asuhan pasien, termasuk keluarganya juga. Ketakutan akan proses perawatan dan ketidakpastian pemulangan harus dapat diidentifikasi oleh perawat case manager sebagai salah tugas dalam langkah asesmen kebutuhan pasien,” tutur perawat RS Dian Harapan ini.
Marthen mengatakan, hasil identifikasi ini yang menjadi bahan koordinasi dengan pasien dan keluarga serta pemberi asuhan lainnya misalnya dokter, apoteker, tenaga gizi, petugas keuangan, petugas BPJS dan lainnya. Minimnya koordinasi dan integrasi asuhan ini yang dapat menyebabkan mutu asuhan pasien tidak optimal dan kurangnya kepuasan pasien akan asuhan yang diterimanya sehingga menimbulkan akibat ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan suatu rumah sakit.
“Bagi rumah sakit, perawat case manager dapat memberikan keuntungan sebagai berikut: biaya pelayanan menjadi efektif, orientasi pelayanan yang holistik, kontinuitas pelayanan di seluruh tatanan pelayanan, pasien mampu mengetahui siapa yang harus dihubungi saat mereka membutuhkan bantuan selama dirawat,” ujarnya.
Ditambahkan, rumah sakit mendapat manfaat atas kehadiran perawat case manager bukan hanya terkait masalah asuhan penyakit pasien tapi lebih komprehensif sampai kepada koordinasi penyelesaian masalah pembiayaan serta perencanan pemulangan pasien setelah dirawat.
“Secara ratio ketersediaan case Manager di suatu rumah sakit adalah 1: 25, yang artinya 1 case manager dapat menangani 25 pasien yang membutuhkan bantuan case manager. Case manager dapat dilaksanakan oleh seorang perawat dan dokter yang sudah terlatih oleh lembaga berkompeten dan ditetapkan oleh pimpinan rumah sakit,” pungkasnya. (bet/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *