DAP Wilayah Jayawijaya Nilai Rasisme Pengalihan Isu dari Revisi UU Otsus Papua

Ketua DAP Wilayah Jayawijaya Domenikus Sorebut (FOTO: Denny/ Cepos)

WAMENA – Dewan Adat Papua Wilayah Jayawijaya menilai jika usai viralnya ujaran rasis yang dilayangkan kepada Natalius Pigai kini ada lagi rasis yang bermunculan di medsos selain pelaku Ambrosius Nababan, namun masalah ini dinilai jika ada elit politik yang memainkan ini agar masyarakat Papua tidak terfokus pada perubahan undang -undang otsus.

Ketua DAP Wilayah Jayawijaya Domenikus Sorebut menilai jika Rasisme sebenarnya bukan hal yang baru, itu sudah lama dimana dari Indonesia mengklaim Integrasi, tapi orang Papua klaim anaksasi, sebelum anaksasi itu Rasisme sudah ada misalnya pemerintahan Ali murtopo yang menyatakan orang Papua tak boleh hidup ditanah ini, minta tempat ke amerika atau akan ditempatkan dibelantara lain.

  “Ssetelah itu rasisme ini terus berkembang dan berinvlasi dalam bentuk yang halus , namun sekarang ini mulai muncul, sehingga rasisme terhadap orang Papua itu bukan hal yang biasa, selalu luar biasa,”ungkapnya Jumat (29/1) kemarin.

  Untuk rasisme yang baru muncul kemarin ini , Kata Domenikus Sorabut, itu terkadang ada dimana situasi terburuk di Papua, misalnya saat ini telah terjadi masalah pengalihan isu tentang perubahan undang -undang otsus Papua, supaya orang Papua tidak melakukan reaksi -reaksi yang kontra dari perubahan undang -undang itu.

“Kalau dari saya ini adalah pengalihan isu soal perubahan undang -undang otonomi khusus , agar orang Papua tidak bereaksi dan fokus pada rasisme sehingga sengaja memunculkan isu yang seperti ini,”katanya.

  Ia melihat ada aktor intelektual sedang memainkan peranan ini supaya orang orang jakarta tetap memetik manfaat dari situasi ini, danh orang Papua tetap akan terjebak skenario-skenario dan propaganda yang dibangun dalam rasisme.

“Selama ini rasisme ini sudah ada, jika ada penembakan di Papua maka rasisme yang dimunculkan dan diviralkan , namun kemarin tidak mkuncul tetapi ada perubahan undang -undang otsus sehingga masalah ini kembali dimunculkan agar orang Papua tidak boleh melakukan perlawanan terhadap itu,”bebernya.

  Ia juga menambahkan jika rasisme ini bukanlah hal yang baru, ini sudah lama tetapi selalu digunakan untuk melakukan pengalihan isu agar orang Papua tidak fokus kepada apa yang sedang diperjuangkan bersama masyarakat. “ Rsismen ini adalah hal yang sudah lama terjadi dan kita tahu itu, masalah ini sengaja dimunculkan dalam situasi tertentu,”tutup Sorabut.(jo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *