Masih Ada Misinya Belum Terwujud di Persipura

Mantan kiper Persipura Jayapura, Jendri Pitoy (kedua dari kiri) saat berpose bersama para pasukan Mutiara Hitam usai melakoni laga ujicoa Persipura kontra Sulud United di Jawa Timur, 15 Februari 2020.

Jendri Pitoy

JAYAPURA-Nama Yandri Christian Pitoy merupakan salah satu pemain Persipura Jayapura yang memiliki peran penting dalam deretan gelar juara yang telah diraih oleh pasukan Mutiara Hitam julukan Persipura Jayapura.

Kiper asal Gorontalo itu selalu menjadi pilihan utama di bawah mistar gawang pasukan Mutiara Hitam selama 5 musim (2005-2009). Jendri Pitoy sapaan akrabnya selama mengenakan seragam Merah Hitam milik Persipura mencatatakan 170 penampilan.

Selain tampil heroik di bawah mistar gawang, Jendri Pitoy juga membantu Persipura meraih gelar juara pertama Liga Indonesia Tahun 2005, dan 2008/2009, serta Community Shield Indonesia 2009.

Meski tampil apik bersama Persipura tak membuat kiper berpostur 179 Cm itu bertahan. Di musim 2010, Pitoy memilih hijrah bersama Perseman Manokwari, dan berkelana bersama Persija Jakarta (2010/2011), Persib Bandung (2011/2012), Persiram Raja Ampat (2012/2013), Persebaya Surabaya (2014), kemudian mengakhiri karier profesionalnya bersama Perseka Kaimana di Liga 2 2017.

Satu musim kemudian, Jendri Pitoy pun kembali berkarier di lapangan hijau sebagai pelatih kiper, klub Liga 2 asal Papua, PSBS Biak menjadi debutnya sebagai pelatih. Kemudian di tahun 2020 kembali ke kampung halaman membesut kiper Sulud United.

Selain di pentas liga domestik, Jendri Pitoy juga pernah malang melintang di tim nasional Indonesia. Ia pertama kali dipercayakan mengawal kiper Indonesia pada Sea Games Kuala Lumpur 2001, Sea Games Hanoi 2003, Piala Asia, Tiger Cup 2004, dan Piala Asia 2007.

Jendri Pitoy merupakan salah satu kiper tanah air yang telah memiliki track record cukup mentereng dengan beberapa prestasi yang telah ia raih bersama Persipura Jayapura.

Tapi pria yang kini berusia 40 tahun itu mengaku masih memiliki misi yang belum terwujud bersama Persipura. Bukan soal koleksi prestasi klub, melainkan generasi kiper asal Papua.

“Waktu saya di Persipura, sebenarnya cita-cita saya itu harus ada pengganti saya anak Papua di posisi kiper,” ungkap Pitoy kepada Cenderawasih Pos saat dihubungi via telepon selulernya, Rabu (27/1).

Pasalnya, Pitoy merasa miris dengan minimnya kiper putra Papua pasca era Fison Meraudje, Sillas Ohe dan Celsius Gebse. Sejak itu, Papua tak lagi memiliki kiper utama.

“Jujur, posisi kiper kurang anak Papua. Setelah Silla Ohe, Fison Meraudje dan Celsius Gebse, sudah tidak ada anak-anak Papua lagi yang menjadi kiper,” ujar Pitoy.

Sebab itu, Pitoy berharap, SSB yang ada di Papua tak hanya fokus melakukan pembinaan bagi pemain belakang, tengah dan depan. Menurutnya, sudah saatnya Papua kembali mengorbitkan kiper-kiper handal.

Apalagi menurut Pitoy, sangat disayangkan bila klub seperti Persipura serta duo klub Liga 2, PSBS Biak dan Persewar Waropen harus bergantung dengan kiper-kiper luar.

“Mungkin satu-satunya jalan ke depan bibit usia dini dari SSB untuk dilibatkan. Supaya stok penjaga gawang anak Papua bisa ada, jadi tidak perlu pakai orang lain,”pungkasnya. (eri/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *