Kembali ke Titik Awal Untuk Sebuah Kesaksian dan Pemulihan

Pasangan Didimus Yahuli – Esau Miram memanjatkan lagu puji – pujian bersama timnya dalam ibadah ucap syukur atas penetapannya menjadi bupati dan wakil bupati terpilih periode 2021 – 2025 di Gereja GIDI Klasis Port Numbay, Entrop, Distrik Jayapura Selatan, Kamis (28/1).(Foto : Gamel/Cepos)

JAYAPURA – Setelah ditetapkan sebagai bupati dan wakil bupati terpilih periode 2021 – 2025 pada 23 Januari lalu, pasangan Didimus Yahuli – Esau Miram langsung menyapa masyarakatnya dengan menggelar ibadah ucap syukur di Entrop, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura.
Ibadah ucap syukur ini dihadiri juga oleh sejumlah tokoh semisal mantan Bupati Yahukimo, Ones Pahabol serta pimpinan – pimpinan partai pengusung.
Dalam ibadah ini baik Didimus maupun Esau sama – sama memberikan testimoni kesaksian tentang perjuangan mereka yang sejatinya sulit jika dipikir secara normal. Bagaimana tidak, keduanya mengaku saat mengawali pencalonan banyak hal yang dirasa kurang. Namun kekurangan ini dibalut dengan keyakinan, doa serta optimsme bahwa Yahukimo harus berbenah, harus dipulihkan dan disitulah seluruh doa dimantapkan untuk sebuah perjuangan.
Hasilnya? Tak sia – sia, keduanya diyatakan menang dalam Pemilukada dan kini tinggal menunggu SK pelantikan. Tak hanya itu, tak sedikit yang memprediksi jika kabupaten terbesar di Papua ini akan berakhir dengan sebuah proses yang berdarah – darah bahkan harus berakhir di Mahkamah Konstitusi. Namun semua prediksi ini salah dan terbalik.
Pilkada di Yahukimo justru lancar, aman dan terkendali. Bahkan tak sampai menunggu proses MK. Bupati Abock Busup yang menjadi kompetitor menunjukkan sikap kedewasaan dalam berpolitik dengan tidak mempersoalkan hasil suara.
Bahkan ia sendiri yang menjelaskan kepada masyarakat pemilihnya bahwa ia menerima hasil tersebut dan meminta masyarakat juga bisa menerima. Abock tak mau mempersoalkan karena menganggap yang memimpin juga adalah putra-putra Yahukimo.
Didimus menganggap Pilkada Yahukimo ini unik. Sebab dari yang tidak ada menjadi ada. “Bekal kami hanya doa dan semangat rakyat. Sehingga image bahwa jika ingin menjadi bupati harus punya uang, harus dekat dengan penguasa dan harus punya relasi termasuk dekat dengan bupati. Saya pikir ini gugur kemarin, sebab kami sudah membuktikan. Orang juga tahu bagaimana kondisi kami saat mengawali kemarin namun campur tangan Tuhan semua berubah. Tuhan mengamankan suara – suara itu,” kata Didimus diakhir ibadah syukur di Gidi Klasis Port Numbay, Entrop, Kamis (28/1).
Ia melihat kompetitornya petahana Abock Busup juga tidak mengajukan gugatan ke MK karena memang tak ada alasan untuk ke MK. “Dan di tempat ini saya pernah bilang bahwa sekalipun incumben memiliki instrumen lebih lengkap, keuangan, partai dan aparatur, namun kami bekerja dengan instrumen surga sehingga protokoler Tuhan yang jalan,”beber Didimus.
Ia menyebut pertolongan Tuhan seperti ada yang membantu helikopter, kendaraan dan banyak fasilitas lainnya. Lokasi ibadah ini juga menjadi titik kekuatan pertama pasangan Dy – Em ini mengingat sebelum bertarung, keduanya melakukan ibadah bersama.
“Ada orang yang bilang kami terlalu lebay, seolah – olah Tuhan hanya Didimus dan Esau yang punya. Ada yang mengatakan seperti itu dan kini Tuhan sudah menjawab atas perkara besar yang sudah dilakukan. Kami pikir di manapun bisa mengucap syukur dan mengangkat nama Tuhan,” jelasnya. Salah satu politisi senior di DPRD Yahukimo ini juga meminta dukungan doa dari seluruh masyarakat kabupaten Yahukimo dan pendoa lainnya agar proses SK bisa berjalan lancar dan DPR bisa mengumumkan dengan baik agar ia dan Esau bisa memulai dengan 100 hari kerja.
“Kami segala hormat meyampaikan kepada pan Ones dan Pak Abock dan misi pemulihan ini soal tak ada pemusuhan antara orang Yali dengan Kimyal, orang Hubla dan orang Meek, orang Yali dengan orang Ngalik itu tak perlu terjadi lagi. Cukup sudah makanya kami dorong lewat pemulihan Yahukimo dalam doa dan kesepakatan jangan ada perang lagi dan kami juga akan dorong dalam peraturan daerah,” sambung Didimus.
Pemulihan ini akan diawali dengan cara rohani lalu memulihkan cara lain semisal angka kematian harus ditekan dan angka kelahiran harus ditingkatkan, infrastruktur untuk guru dan mantri harus disiapkan.
Ekonomi kerakyatan diciptakan dan purta daerah harus menjadi tuan di atas tanahnya sendiri. Ini bisa diwujudkan dengan kebijakan membuat BUMD dan direktur – direkturnya ditempati anak – anak Yahukimo. “Siapa yang mau jadi pengusaha atau UMKM ini harus difasilitasi oleh pemerintah makanya kami rencana mengurangi elselon dua dan memperkuat eselon tiga. Jadi Miskin struktur namun kaya fungsi sehingga pemulihan terjadi di semua sektor. Dengan demikian kami akan memastikan disetiap kecamatan ada guru kontrak yang mengajar sesuai kurikulum nasional, mantri dan melayani dengan standart kesehatan nasional. Rumah dan sarana internet perlu dilengkapi,” jelasnya lagi.
Hanya saja diakui ini tak mudah dan butuh dukungan banyak pihak. Untuk itu, Didimus mengatakan bahwa perlu hubungan dan komunikasi yang baik dengan DPR RI, DPR Papua termasuk kementerian sehingga sebagian akan dikerjakan oleh kementerian namun konsep perencanaannya dari dirinya. “Kami masih mencari kepala Bapeda dan kepala dinas kesehatan yang berkualitas yang bisa menerjemahkan visi kami untuk mendorong pemulihan tadi, saya pikir hakekatnya disitu,” tutup Didimus.
Esau Miram sebagai wakil bupati terpilih dalam testimoninya lebih banyak berbicara memberikan motivasi khususnya kalangan anak muda. Ia mewakili generasi millenial meminta mahasiswa untuk bisa berpikir kreatif dan inovatif.
Ia mencontohkan ketika dirinya masih kuliah di Biak, ia sempat ditunjuk menjadi ketua asrama. Ketika itu bangunan sudah dibeli pemerintah yang dipimpin Ones Pahabol. Hanya saja tak ada pagar dan sangat tidak aman jika terus dibiarkan. Ia sendiri sungkan untuk meminta bantuan pemerintah karena menganggap pastinya pemerintah masih harus berpikir banyak hal termasuk kondisi mahasiswa di daerah lain.
Dari perasaan minder inilah ia mengumpulkan seluruh penghuni asrama kemudian mencari kayu. Kayu – kayu inilah yang selanjutnya dibuat pagar mengelilingi asrama. “Jadi mirip rumah – rumah penduduk di Wamena, yang dikelilingi pagar kayu. Persis seperti itu,” jelasnya.
Pagar ini juga bermanfaat dimana penghuni yang telat pulang atau di atas jam 10 malam tak boleh masuk asrama. Secara tidak langsung penghuni asrama harus tertib. “Ada penghuni asrama yang pernah saya keluarkan. Ada juga yang pulang terlambat tidak kami bukakan pintunya,” cerita Esau.
Waktu berlanjut hingga ia terpilih menjadi anggota DPRD Yahukimo dan dari peluang ini ia menyatakan tidak lupa dengan asrama tersebut. Esau akhirnya membangun pagar secara permanen termasuk menambah 1 kamar. “Jadi di sini pesan yang mau saya sampaikan adalah mahasiswa jangan hanya berharap yang instan tapi bagaimana berinovasi, menumbuhkan ide kreatif untuk membantu memecahkan masalah. Jika itu bisa dilakukan maka dengan sendirinya ada bekal untuk menjawab setiap tantangan lainnya dikemudian hari dan saya membuktikan itu,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat serta pimpinan partai yang mau berjuang bersama – sama.
Di tempat yang sama mantan Bupati Yahukimo dua periode, Ones Pahabol melihat kemenangan Didimus – Esau adalah kemenangan murni dari rakyat dan Tuhan yang memberi jalan. Pasalnya di awal banyak kekurangan namun Tuhan bekerja dan memberikan semuanya.
Didimus dan Esau dikatakan berjalan dengan minim dukungan namun ada doa dan sentuhan dari pencipta sehingga doa dari anak – anak kecil yang terabaikan kemudian doa mereka diangkat dan terwujud.
“Satu yang terpenting dan yang saya lihat dari semua persoalan baik pembiayaan transportasi dan akomodasi lainnya mereka bisa keluar dari persoalan tersebut. Menang dan kalah itu hal biasa namun yang terpenting adalah ada harapan masyarakat yang dititipkan kepada bahu mereka,” katanya.
Ones mengingatkan untuk tidak melupakan hal– hal kecil yang dianggap orang lain itu kecil namun justru itu harus disentuh. Ia mengibaratkan sapi jika memakan rumput pasti yang tinggi – tinggi padahal ada rumput bagus tapi berada di bawah. Nah rumput ini justru diinjak oleh sapi itu sendiri. “Jadi jangan sepelekan hal – hal kecil. Saya sampaikan ini karena saya sudah merakit dan mendesign semuanya untuk 51 distrik dan 517 kampung. Kalau menguasai ruang Yahukimo maka tidak sulit membangun di Yahukimo,” bebernya.
Didimus – Esau dikatakan memulai dari tangannya dan di sini keduanya harus masuk dalam hati masyarakat. Namun tak hanya pemimpin di Yahukimo tapi seluruh pemimpin di Papua harus masuk di hati masyarakat. “Jika masyarakat menerima saya pikir tidak sulit untuk menyelesaikan persoalan – persoalan di Papua,” tegasnya.
Ones sendiri mengaku memiliki gambaran soal bagaimana mendorong wilayah pegunungan dengan menyentuh Kabupaten Yahukimo, Yalimo dan Pegunungan Bintang. Jika ini digarap ia meyakini Papua mau dibuat seperti apa itu sudah ada gambaran.
Sementara Ketua Tim Pemenangan, Yarius Balingga menyampaikan bahwa waktu ibadah pertama pihaknya belum 100 persen mendapat kursi dan orang mengatakan ia gila. Ia kemudian menggelar ibadah bersama di gereja dan melepas pasangan Didimus – Esau yang dihadiri mahasiswa.
“Kami sampaikan selamat jalan dan akhirnya ada jalan Tuhan, ada kemenangan,” tambahnya.
Iapun menitip pesan bahwa tugasnya sudah selesai untuk mengantar pasangan ini dan kini silahkan memimpin Yahukimo. “Lalu semboyan bersatu berjuang menang (BBM) itu bisa diganti dengan Bersatu Membangun Yahukimo (BMY) di mana siapapun dia apakah lawan politik kemarin itu juga harus dirangkul, Yahukimo harus bersatu,” pungkasnya. (ade/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *