Rawan Masalah, Bila Hasil Ciptaan Dikomersialkan Orang Lain

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Provinsi Papua, Anthonius. M Ayorbaba, SH, MSi, saat memberikan keterangan di ruang kerjanya, Jumat (22/1). ( FOTO: Yewen/Cepos)

Upaya Kanwil Kemenkumham Papua Mendorong Hak Cipta di Papua (Bagian I)

Hak cipta atau hak kekayaan intelektual merupakan bagian yang sangat penting untuk didaftarkan. Namun, banyak masyarakat di Papua yang belum mengetahuinya. Oleh karena itu, Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Papua akan terus mendorongnya, sehingga hak cipta harus bisa didaftarkan. Seperti apa dorongan yang dilakukan Kanwil Kemenkumham Papua?

Laporan: Roberthus Yewen, Jayapura

Hak cipta sendiri sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 2014 yang mengatur tentang Hak Cipta. Hak cipta sendiri menjadi bagian dari hak kekayaan intelektual. Tentunya hal ini timbul dari hasil olah pikir, karsa dan rasa dari manusia, sehingga menghasilkan suatu proses atau produk, barang atau jasa yang berguna bagi manusia itu sendiri.

  Berdasarkan hal ini, maka pihak Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) melalui Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual ikut terus mendorong agar semua masyarakat yang memiliki hak kekayaan intelektual untuk harus didaftarkan, sehingga tetap dilindungi oleh negara sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

   Hak cipta sendiri menjadi bagian dari hak kepemilikan yang sifatnya personal dan hak kepemilikan yang sifatnya komunal, misalnya dalam bentuk ekspresi budaya tradisional, pengetahuan tradisional, sumber daya genetik dan potensi indikasi geografi.

   Sedangkan, hak kepemilikan yang sifatnya personal seperti hak cipta dan hak kekayaan industri yang terdiri dari paten, merk, desain industri, rahasia dagang, desain tata letak sirkuit terpadu dan varitas tanaman tertentu yang dihasilkan.

   Dengan demikian, maka Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Provinsi Papua, Anthonius. M Ayorbaba, S.H, M.Si  mengatakan, pihaknya akan intens untuk melakukan proses pendaftaran hak cipta harus dilakukan di seluruh wilayah kerja Kantor Kemenkumham Papua.

  Menurut Anthonius, hak cipta sendiri bersifat eksklusif, dimana pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif. Dimana, setelah satu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuatu sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

  “Karena sifatnya deklaratif, maka sepanjang orang mencipta sesuatu misalnya, lagu sehingga sekalipun tidak daftar, tetapi orang bisa mengetahui bahwa dia pencipta, tetapi hasil karya itu akan menjadi masalah ketika hasil ciptaannya itu dikomersialisasikan,” katanya kepada Cenderawasih Pos di ruang kerjanya, Jumat (22/1).

   Hak cipta yang dapat dilindungi sesuai dengan peraturan perundang-undangan, misalnya buku, program komputer, pamplet, perwajahan atau layout, karya tulis yang diterbitkan dan semua karya tulis lainnya. Tak hanya itu, hak cipta yang dilindungi juga berupa ceramah, kuliah, pidato dan ciptaan lain yang sejenisnya, alat pendidikan dan ilmu pengetahuan, lagu dan atau musik dengan dan tanpa teks, drama atau drama musik, tari, koryegrafi, pewayangan dan pantomin, seni rupa dalam segala jenis bentuk, arsitektur, seni batik, peta, phografi, sinimetografi, terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, data base dan karya lainnya.

   Hal ini semua masuk dalam kategori hak cipta, sehingga tentu pihaknya dari Kantor Wilayah Kemenkumham Papua akan mengidentifikasi dan mengkategorisasikan. Hal inilah yang akan dilihat untuk memilahkan di Papua ini tingkat pelanggaran terbesar dari hak cipta ini paling besar ada dalam kategori kelompok yang mana.

  “Kalau kita lihat dari perkembangan masyarakat dan gendernya, itu paling banyak di lagu,” ucap mantan Kakanwil Kemenkumham Provinsi Papua Barat ini.

  Lantas bagaimana upaya Kanwil Kemenkumham mendorong kesadaran masyarakat, terutama pekerja seni yang banyak di sejumlah daerah di Papua, untuk mendaftarkan hak ciptanya itu? Ikuti edisi berikutnya. (*/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *