Masyarakat dan Tokoh di Papua Bikin Petisi, Kecam Rasisme Terhadap Natalis Pigai

Capture penghinaan terhadap Natalis Pigai yang beredar di media sosial. (Ist)

JAYAPURA – Sejumlah Tokoh, keluarga dan warga di Papua dan luar Papua dari berbagai kalangan melakukan aksi petisi dengan judul tangkap dan adili Ambrocius Nababan atas sikap rasis dan penghinaan bagi Natalis Pigai.

Aksi petisi yang dilakukan tersebut dilakukan tersebut sebagai gerakan spontan merespon status bernada rasisme oleh akun facebook atas nama Ambrocius Nababan di media sosial yang beredar luar sepekan ini.

Kecaman datang dari berbagai kalangan. Lalu munculah petisi di berbagi Group Whatsapps dimana ada sejumlah Tokoh adat, Agama, aktivis, ASN, Bupati, Tokoh, Perempuan, Akademisi, Pemuda Gereja, Mahasiswa dan juga masyarakat Papua.

Seperti yang ada di Group WhatsApp Spirit Of Papua yang di dominasi tokoh-tokoh intelektual Papua menyampaikan petisi agar Ambricius Nababan diproses hukum dan mempertanggungjawabkan penghinaan yang sudah dilakukan tidak saja kepada Natalis Pigai tetapi terhadap orang Papua.

Sejumlah tokoh seperti Theo Sitokdana, Pieter Ell, Jimmy Douw, Emus Gwijangge, Theo Hesegem, Yan Christian Warinussy, Otis Tabuni, Aman Yikwa, Nenu Tabuni, Fernando Tanaty, Yosep Rumaseb, Herry A Naap, Fredrik Sokoy, Silvo Lobya, Benyamin Gurik, Maria Goo, Pascalis Kossay, FX Mote, Rifai Darus, dan masih banyak lagi.
Hingga sampai saat ini (Senin 25/1) aktifitas ini terus berlanjut di beberapa Group WA dengan dukungan petisi dari masyarakat Papua seperi Group WA Papua Island Comunity (PIC) yang didominasi Intelektual Muda Asli Papua, dari 7 wilayah ada di Papua juga ada Forum Peduli Pembangunan Kabupaten Lanny Jaya (FPPKLJ), Group Alumni Uncen, dan berbagai WAG lainnya juga petisi ini dijalankan.
Sampai Senin (25/1) pagi, yang tergabung dalam petisi ini mencapai lebih dari 500an orang dari berbagai kalangan baik di Papua maupun di luar Papua.

Sementara itu, mewakili pihak keluarga, Jhon Gobay, yang juga selaku Sekertaris Dewan Adat Papua, (DAP) mengatakan Rasisme adalah pandangan terhadap ideologi atau paham yang dianut oleh masyarakat yang menolak atau tidak suka pada suatu golongan masyarakat tertentu yang biasanya berdasarkan rasnya, derajat, dan lain sebagainya.

Mengutip Pramoedya Ananta Toer, Rasisme atau rasialisme ialah pemahaman yang menolak suatu golongan masyarakat yang berdasarkan atau berbeda ras. Dengan kata lain, mempunyai kelainan daripada umumnya.
Menururnya, pasca adanya ujaran rasis di Surabaya 2019, masyarakat secara spontan melakukan aksi di Papua, masyarakat yang aksi ini karena masyarakat Papua dihina dengan kata kata hewan.

“Aksi itu adalah aksi OAP yang sakit hati karena luka yang sudah terlalu lama di alami oleh orang papua sejak tahun 1961,beberapa Tokoh Papua juga telah dihina, antara lain Gambar Frans Kaisiepo dan juga beberapa kali juga dialami oleh Natalis Pigai, selama ini kami diam dan memaafkan, tapi kami menilai tidak dilaksanakan UU No 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi rasial dan etnis untuk menjerat orang yang melakukan tindakan rasisme bagi Orang Asli Papua. Kami menilai seakan akan ada pembiaran terhadap kasus kasus seperti ini, ” Katanya.

Mewakili pihak keluarga ia tegaskan, Natalis Pigai dan keluarga adalah manusia sejati.
“Kami bukan keluarga gorila, kami bukan keluarga kera, kami adalah manusia sejati bagian dari bangsa Papua, asal suku Mee, di Tanah Papua, ” Katanya.

Lanjutnya, harus di sadari, bahwa umat manusia berkedudukan sama di hadapan Tuhan Yang Maha Esa dan umat manusia dilahirkan dengan martabat dan hak-hak yang sama tanpa perbedaan apa pun, baik ras maupun etnis, bahwa segala tindakan diskriminasi ras dan etnis bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia bahwa segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan berhak atas perlindungan

“Kami menuntut sesuai Pasal 16, UU No 40 tahun 2008, Setiap orang yang dengan sengaja menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang lain berdasarkan diskriminasi ras dan etnis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b angka 1, angka 2, atau angka 3, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Maka kami meminta kepada Kepolisian Republik Indonesia agar menangkap dan menghukum saudara Ambrosius Nababan yang menghina saudara kami Natalis Pigai harus dihukum sesuai dengan ketentuan Pasal 16, UU No 40 tahun 2008,” Tegas Gobay.
Sebagaimana beredar di media sosial sepekan ini, akun Facebook atas nama Ambroncius Nababan, memposting status pada 12 Januari 2021 mengomentari berita terkait pernyataan Natalius Pigai yang menyatakan bahwa “Sesuai UU, rakyat berhak menolak divaksin”. Status yang diposting berbunyi .Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Vaksin Sinovac itu utk MANUSIA bukan untuk .. (menyebut nama hewan) (oel).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *