Melambangkan Perjuangan Rakyat Kecil Mencari Nafkah

BAKAL JADI IKON: Relief di Gedung Sarinah yang dibuat di zaman kepemimpinan Presiden Soekarno.

Relief Bersejarah yang ’’Ditemukan” di Tengah Revitalisasi Gedung Sarinah

Kebakaran Gedung Sarinah hampir empat dekade silam, disusul renovasi, membuat relief yang dibuat di zaman Presiden Soekarno menghilang dari pandangan. Belum diketahui siapa pembuatnya, tapi akan dijadikan ikon gedung.   

TAUFIQ A.-AGFI S., Jakarta, Jawa Pos

UNGGAHAN akun Instagram @liayuslan Jumat dua pekan lalu (8/1) menjadi titik mula relief di Gedung Sarinah, Jakarta, diperbincangkan. Si pemilik akun mengunggah tiga buah foto yang diambil dari proyek revitalisasi gedung tersebut.

”Ada kejutan di proyek ini dengan ditemukan sebuah patung peninggalan masa pemerintahan Presiden Soekarno setinggi 3 x 12 meter yang selama ini disembunyikan di dalam struktur bangunan,” tulis @liayuslan pada caption foto.

Saat ramai diperbincangkan, sedikit demi sedikit fakta di balik relief tersebut mulai terungkap. Menurut Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), sangat mungkin relief itu dibuat kelompok seniman dari Jogjakarta.

Anggota TACB Candrian Attahiyat menduga pembuat relief tersebut adalah Edhi Sunarso. Dugaan itu mengacu pada sejarah dibangunnya patung tersebut oleh Presiden Pertama Indonesia Ir Soekarno pada periode 1960-an.

Terlebih, sambung Candrian, Presiden Soekarno sangat menyukai karya-karya patung buatan pria asal Jogjakarta tersebut. Edhi adalah pembuat Tugu Pancoran atau Patung Dirgantara, Patung Selamat Datang, dan Patung Pembebasan Irian Barat. Semuanya ada di Jakarta.

Namun, itu masih dugaan. TACB masih mencari sosok pasti pembuat relief tersebut. Sebab, saat dikonfirmasi TACB, keluarga Edhi belum bisa memastikan apakah itu patung buatan Edhi atau bukan.

”Sebenarnya kalau dibilang identik dengan karya Edhi sih nggak. Tapi, kalau dilihat dari sejarah, Bung Karno sering memakai jasa Edhi,” ujar Candrian.

Berdasar informasi, relief itu berlokasi di belakang salah satu gerai restoran cepat saji. Tepatnya berada di ruang mekanikal dan elektrikal gedung perkantoran tersebut.

Anggota TACB lainnya, Asikin, menerangkan, relief tersebut menampilkan para penjaja dan pelapak. Itu melambangkan perjuangan rakyat kecil dalam mencari nafkah.

Menurut dia, karya seni tersebut sangat epik dan gigantik. ”Saya meyakini karya seni itu dibuat menggunakan teknologi pengecoran panel tunggal modern,” ungkapnya.

Direktur Utama PT Sarinah (Persero) Fetty Kwartati membenarkan bahwa relief tersebut melambangkan kegiatan ekonomi rakyat jelata. Saat itu, kegiatan ekonomi rakyat bertumpu pada hasil pertanian, perkebunan, perikanan, dan kerajinan.

Relief tersebut juga menjadi tanda bahwa Bung Karno adalah seorang seniman. ”Bung Karno adalah seniman yang mencetuskan karya seni ini. Keberpihakan pada ekonomi kerakyatan merupakan semangat para pendiri bangsa ini,” paparnya.

Fetty menerangkan, relief itu juga terus mengingatkan amanah Sarinah untuk membesarkan ekonomi kerakyatan. Karena itu, relief tersebut ada sejak bangunan Sarinah didirikan puluhan tahun silam.

Bahkan, relief itu telah didata sebagai bagian dari Gedung Sarinah. ”PT Sarinah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah mengetahui keberadaan relief tersebut sejak dulu,” ucap Fetty.

Awalnya relief tersebut bisa terlihat jelas saat pengunjung mendatangi Gedung Sarinah. Namun, posisi relief jadi tertutup saat ada insiden kebakaran yang melanda Gedung Sarinah pada 1984. Kebakaran itu membuat Gedung Sarinah direnovasi.

Saat ini Gedung Sarinah yang merupakan aset Kementerian Badan Usaha Milik Negara sedang menjalani revitalisasi. Rencananya, revitalisasi Gedung Sarinah yang dimulai pada Juni 2020 itu selesai pada 10 November tahun ini.”Relief tersebut akan menjadi ikon cagar budaya Gedung Sarinah,” tegas Fetty.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan rasa kagum sekaligus prihatin setelah melihat relief yang tersembunyi tersebut. Erick yang mengaku sebagai pencinta seni merasa sedih melihat karya yang kurang terawat.

”Karena itu, saya meminta, kita perbaiki kembali seperti dahulu,” ujar Erick di sela kunjungannya ke Gedung Sarinah pada Jumat pekan lalu (15/1).

Erick meminta relief yang tersembunyi di basemen Gedung Sarinah tersebut dijadikan salah satu ikon untuk pembangunan Sarinah baru. ”Bangsa besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya. Dan, tentu bangsa besar itu cinta karya seninya,” kata Erick. (*/c7/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *