Dijerat UU Pangan, 16 Orang Produsen Milo Dipenjara

Kapolres Jayawijaya AKBP. Dominggus Rumaropen saat melihat pelaku pembuat dan penjual Milo yang tertangkap beberapa waktu lalu. (FOTO: Denny/Cepos)

WAMENA-Penerapan undang -undang pangan yang mulai digunakan sejak tahun 2020 lalu bagi para produsen/pembuat dan penjual miras lokal, membuat 16 orang pelaku telah diproses hukum dan dijebloskan ke penjara.

   Kapolres Jayawijaya AKBP Dominggus Rumaropen, SSos, MM mengakui jika selama tahun 2020 pihaknya sudah gencar melakukan razia terhadap tempat pembuatan dan penjualan minuman keras lokal di Jayawijaya.   

“16 orang yang kita tangkap dan proses dengan undang -undang pangan itu sampai ke pengadilan dan berakhir dengan putusan hukuman penjara bagi para pelakunya, dan itu masih berlaku sampai dengan saat ini, siapapun dia jika tertangkap maka penerapan undang -undang pangan tetap diberlakukan,” ungkapnya,  Kamis (21/1) kemarin.

  Menurutnya, dengan penindakan terhadap tempat pembuatan dan penjualan miras lokal ini berdampak untuk menekan jumlah kriminal di Jayawijaya. Sebab, dapat dilihat dari penyebab terjadinya kriminal ini, rata -rata semua diakibatkan karena miras, sehingga masalah miras ini tetap menjadi fokus kepolisian.

  “Saya peringatkan kepada warga yang masih memproduksi (membuat) Balo yang di fermentasi menjadi CT di Jayawijaya dan Sekitarnya penerapan undang -undang pangan masih berlaku sampai dengan  tahun 2021 ini,” jelasnya.

   Apabila para pelaku pembuat dan penjual ini tertangkap, kata Rumaropen, sudah harus mengetahui konsekuensinya, yakni dikenakan undang -undang pangan. “Tahun ini kami masih terus melakukan penulusuran kepada tempat -tempat penjualan miras lokal ini dan beberapa data pembuat dan penjual telah dikantongi, tinggal kita menunggu waktu untuk eksekusi karena mereka selama ini ekstra hati -hati melakukan aksinya mengedarkan miras lokal,” katanya.

  Ia memastikan jika tak ada penyelesaian secara kekeluargaan bagi pembuat dan penjual miras lokal jika tertangkap, mereka semua harus diproses secara hukum sesuai dengan undang -undang pangan. Sebab masalah miras ini dampaknya menjadi besar apabila usai mabuk dan melakukan kriminal kepada orang lain atau menjadi gangguan kamtibmas.

   “Saya pastikan jika yang tertangkap akan diproses sampai ke pengadilan dan berakhir di penjara dalam kasus miras di Jayawijaya,”tutupnya. (jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *