Tiap Angkut Jenazah, Terbayang Kesedihan Keluarga Korban

Tim penyelam TNI-AL menemukan serpihan bodi pesawat, serpihan mesin pesawat dan hidrolik kabin penumpang.

Tragedi Sriwijaya Air dan Tugas Kemanusiaan di Dalam Laut (1)

Dari pagi sampai sore, para penyelam militer dan sipil bahu-membahu mencari korban pesawat Sriwijaya Air yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu. Ada yang sukarela datang dari Makassar, pamit anak-istri karena merasa terpanggil.

SAHRUL YUNIZAR, Jawa Pos, Jakarta

BELASAN hingga puluhan meter di dalam laut, keharuan itu tetap saja menyeruak. Tiap kali ada jenazah yang berhasil ditemukan.

’’Selalu terbayang kesedihan keluarga yang ditinggalkan,” kata Budi Cahyono, salah seorang penyelam POSSI (Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia).

Maka, yang bisa dilakukan Budi dan para penyelam lain yang tergabung dalam operasi SAR (search and rescue) Sriwijaya Air SJ182 adalah memperlakukan semua jenazah dengan hormat. Mengambilnya dengan pelan dan hati-hati, lalu memasukkannya ke kantong plastik.

Kesedihan memang tidak serta-merta hilang. Tapi, setidaknya keluarga korban di rumah punya kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir.

Tugas kemanusiaan itulah yang membuat begitu banyak orang, militer dan sipil, terpanggil. Rela berhari-hari berjibaku di dalam laut untuk mencari korban dan pesawat yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu Sabtu lalu (9/1) itu.

BERHARI-HARI MENYELAM: Personel tim penyelam TNI-AL dari Denjaka menunjukkan temuannya di perairan di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang Kepulauan Seribu (10/1).JADWAL sudah tersusun. Pasukan dan kapal siap sedia, undangan juga telah disebar. Panglima Komando Armada (Koarmada) I Laksamana Muda TNI Abdul Rasyid Kacong sudah dijadwalkan memimpin apel besar.Tapi, agenda Hari Dharma Samudera di Dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta Utara, itu buyar begitu kabar jatuhnya Sriwijaya Air SJ182 yang mengangkut 62 orang menyebar. TNI-AL membatalkannya, menggantinya dengan agenda sederhana.

KRI Dewaruci yang disiapkan berlayar untuk acara tabur bunga berdiam diri di Dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil). Sore itu, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono memerintah seluruh jajaran Angkatan Laut mengerahkan kekuatan penuh untuk mencari pesawat yang hilang kontak dan tenggelam empat menit setelah take off dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, tersebut.

Malamnya KRI Teluk Gilimanuk-531 langsung bergerak ke titik jatuh. Membawa prajurit Komando Pasukan Katak (Kopaska) berkualifikasi penyelam. Kapal-kapal TNI-AL yang bersiaga didatangkan, tenda-tenda posko didirikan.

Berbagai instansi pemerintah, swasta, dan organisasi non pemerintah berdatangan. Mendaftar untuk ikut ambil bagian. ”Saya sudah di Merak, mau istirahat semalam di rumah langsung cari travel ke Jakarta. Motor ditinggal,” kata salah seorang awak KRI Tjiptadi-381.

Kapal perang yang terkenal dengan aksi heroiknya di perairan Natuna Utara beberapa bulan lalu itu ikut bergabung dalam misi kemanusiaan tersebut. Padahal, kapal itu sebenarnya sedang ’’istirahat”.

Senjata-senjata yang menempel di badan kapal harus menjalani perawatan lantaran sudah berbulan-bulan beroperasi di lautan. Tapi, operasi SAR Sriwijaya Air mendesak. Kapal yang dikomandoi Letkol Laut (P) Ricky Intriadi itu harus berlayar lagi. Membantu kapal-kapal lain.

Penyelam-penyelam terbaik TNI-AL dari Detasemen Jala Mangkara (Denjaka), Batalyon Intai Amfibi (Taifib) Korps Marinir, Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) bekerja sama dengan Kopaska dikirim ke lokasi kejadian.

Setiap hari sejak pesawat bernomor penerbangan SJ182 itu menghunjam laut yang berada di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki, para penyelam tersebut bekerja. Menjelang matahari terbit, mereka sudah berada di atas sea rider atau speedboat.

Bergerak ke titik jatuh. Kemudian bergantian menyelam di titik-titik yang terdeteksi ada bagian-bagian pesawat di dasar laut. Sampai menjelang malam, mereka tidak henti-henti bekerja.

”Selama 30 sampai 40 menit menyelam, naik lagi, diganti (penyelam) lagi. Terus-menerus gitu,” kata Yudo.

Orang nomor satu di TNI-AL tersebut menyatakan, sedikitnya ada 153 penyelam TNI-AL yang terlibat dalam operasi SAR Sriwijaya Air. Mereka hanya berhenti bertugas bila ada tanda bahaya atau peringatan dari posko dan pusat komando. Bila tidak ada, hujan maupun gelombang tidak bisa menghentikan mereka.

”Saya tinjau, ombaknya agak besar, saya tanya, ada kendala nggak? Nggak, Pak. Di laut ombak itu biasa, yang nggak ombak di kolam,” jelas Yudo yang menirukan jawaban anak buahnya.

Para penyelam yang dikerahkan TNI-AL dalam operasi pencarian Sriwijaya Air sudah makan asam garam menjalankan misi-misi serupa. Mayor Laut (T) Iwan Kurniawan yang mengangkat flight data recorder (FDR), misalnya.

Personel TNI-AL dari Dislambair Koarmada I itu turut serta dalam misi kemanusiaan pencarian Lion Air PK-LQP. Saat bertemu dengan Jawa Pos (12/1), perwira menengah dengan satu kembang di pundak itu menyebut sudah berhari-hari meninggalkan keluarga. ”Empat hari lalu berangkat,” imbuhnya.

Tapi, pengorbanan Iwan dan kawan-kawan terbayar. Salah satu bagian penting dari pesawat itu berhasil mereka temukan.

Sepuluh hari pencarian berlangsung, kondisi bawah permukaan laut tentu berubah. Bagian-bagian pesawat sudah terendam cukup dalam. ”Lumpur di dasar laut dengan ketebalan sekitar 1 meter,” kata Serma Marinir Hendra Syahputra yang berasal dari Batalyon Taifib 1 Korps Marinir.

Ketebalan lumpur itu membuat para penyelam harus bekerja lebih keras. Mereka harus mengangkat temuan dari lumpur, kemudian membawanya ke permukaan laut sebelum diserahkan kepada kapal-kapal TNI-AL.

Ketebalan lumpur itu pula yang membuat jarak pandang kian terbatas. ’’Dasar lautnya kan lumpur. Jadi, ketika kami ngambil puing-puing, partikel-partikel lumpurnya naik. Visibility kami jadi terganggu,’’ terang Lettu Soffi Ramadhani yang juga dari Korps Marinir.

Belum lagi ada potongan-potongan pesawat yang tajam. Dia dan penyelam lain harus berhati-hati agar tidak terluka.

Ratusan penyelam TNI-AL juga dibantu penyelam sipil. Di antaranya, para penyelam profesional dari POSSI yang dikoordinasi Budi Cahyono. Mereka termasuk yang langsung menyatakan siap membantu saat Badan SAR Nasional (Basarnas) membuka posko di JICT.

Relawan POSSI berdatangan dari berbagai daerah, bukan cuma sekitar Jakarta. Ada yang berasal dari Palembang, Surabaya, bahkan Palu. ”Mereka sukarelawan, tidak diminta,” ujar Budi.

Seperti penyelam-penyelam TNI-AL, penyelam dari POSSI juga berangkat pagi dan kembali sore. Dalam operasi SAR Sriwijaya Air, mereka tidak menumpang kapal Basarnas atau TNI-AL.

Mereka menggunakan speedboat sendiri yang base-nya berada di Pantai Mutiara, Penjaringan. Setiap hari, ada tujuh penyelam yang ikut ke lokasi pencarian.

Budi mengungkapkan, mereka menyelam dua kali sehari. Pertama menjelang tengah hari, kedua lewat tengah hari. Durasi menyelam pun serupa dengan TNI-AL. Yakni, 30 sampai 40 menit sekali menyelam.

Berdasar pengalamannya mencari objek di laut, Budi menyebut kedalaman perairan Kepulauan Seribu sebenarnya tidak jadi masalah. Sebab, hanya berkisar 15 meter sampai paling dalam di angka 25 meter.

Meski demikian, tidak berarti penyelaman tanpa kendala. ”Jarak pandangnya pendek, hanya 1 meter,” ucap dia.

Para penyelam juga harus berjibaku setiap menemukan objek berupa bagian bodi Sriwijaya Air PK-CLC. Mayoritas objek-objek itu sudah terendam lumpur. Ditambah arus bawah permukaan laut, mengangkat benda-benda tersebut menjadi tidak mudah.

Semua temuan itu dibawa ke posko di JICT. Diserahkan kepada Basarnas untuk diproses lebih lanjut. Bagian pesawat diurus Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Sementara itu, jenazah menjadi urusan tim medis dari Polri.

Aji Panangean, salah seorang penyelam POSSI, merasa bangga bisa ikut bergabung menjadi relawan. Sebelumnya, dia juga ikut dalam operasi SAR Lion Air yang jatuh di perairan Karawang dua tahun lalu. ”Saya ingin memanfaatkan ilmu yang ada untuk kemanusiaan,” imbuh Aji.

Karena itu, dia tidak ragu sama sekali berangkat dari Makassar ke Jakarta untuk memberikan bantuan kepada tim yang berjibaku dalam misi pencarian Sriwijaya Air PK-CLC. ”Yang penting anak dan istri sudah mengizinkan. Kami pamit bahwa kami terpanggil untuk ikut,” tambah dia.

*

Kegigihan semua pihak yang tergabung dalam operasi SAR Sriwijaya Air mewujud temuan-temuan berharga. Sebanyak 310 kantong jenazah, 60 kantong serpihan kecil pesawat, 55 potongan besar pesawat, black box berisi FDR, dan cangkang atau bagian luar cockpit voice recorder (CVR) sudah didapatkan.

Temuan-temuan itu sangat penting bagi keluarga korban. Juga berpengaruh besar dalam upaya KNKT menginvestigasi kecelakaan pesawat tersebut. Kemarin (18/1) Basarnas juga menambah waktu operasi SAR selama tiga hari. Mulai hari ini (19/1) sampai Kamis nanti (21/1).

Dan, Soffi, Hendra, Iwan, Budi, Aji, dan semua penyelam lain pun siap kembali masuk ke laut, menghadapi ombak, bertemu lumpur yang mengganggu pandangan, dan risiko terluka benda-benda tajam serpihan bodi pesawat.

”Kami yang terjun di lapangan tidak mengharapkan apa-apa. Harapan saya dan tim, keluarga korban selalu mendoakan para korban supaya dapat beristirahat dengan tenang di sisi Tuhan yang Maha Esa,” kata Soffi. (*/c7/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *