40 Penghuni Reaktif, Lokalisasi Yobar Tutup 

Penghuni Lokalisasi Yobar saat datang di Pusat Kesehatan Reproduksi untuk melakukan rapid test kedua setelah rapid test pertama 40 di antaranya hasilnya reaktif. ( FOTO: Sulo/Cepos)

MERAUKE-  Lokalisasi Yobar yang ada di RP 19 Kelurahan Samkai, Kabupaten Merauke, akhirnya  ditutup selama 14 hari sejak 9 Januari 2021.

Penutupan ini dilakukan setelah adanya 40 orang penghuni Lokalisasi Yobar mengikuti rapid test dan hasilnya dinyatakan reaktif.  Rapid test ini dilakukan  Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke melalui Pusat  Kesehatan Reproduksi (PKR).

Ketua  RT 19 Lokalisasi Yobar, Mathias yang ditemui saat mengikuti rapid test pertama di  PKR yang berada dalam kompleks  RSUD Merauke, kemarin (18/1) mengungkapkan bahwa dengan adanya  40  yang reaktif, maka  Lokalisasi Yobar ditutup sejak 9 Januari dan baru akan buka  pada 22  Januari mendatang.

“Harapan kami  semoga setelah rapid test ulang  ini,  aktivitas di Yobar bisa kembali seperti biasa,” ucapnya.

Senin (18/1) kemarin, 40 penghuni  yang sebagian merupakan pekerja seks komersial kembali  melakukan rapid test  kedua setelah  penutupan dan karantina.  Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke.

Mathias sendiri mengaku baru mengikuti rapid test  karena sebelumnya dirinya berhalangan. Sementara   itu, mantan ketua RT 19  bernama Mami Yuli  berharap Lokalisasi Yobar bisa kembali dibuka. “Karena anak-anak  tidak punya  pendapatan sama sekali. Kalau masalah untuk makan minum sehari-hari sebenarnya masih bisa, cuma persoalannya karena mereka ini menanggung keluarga  mereka  di tempat asalnya. Kalau dari mereka tidak ada kiriman, maka keluarganya yang ada di sana  juga jadi susah,” kata Yuli.

Dikatakan, selama penutupan berlangsung, pintu utama  masuk dan keluar ditutup serta dikunci. “Kecuali jika ada mobil tanki air yang datang bawa air baru pintu dibuka. Tapi  yang ojek sayur dan sebagainya  hanya di depan pagar  semua,” tuturnya.

Dirinya berharap ada jalan keluar bagi para penghuni sehingga aktivitas tetap  bisa berjalan. “Kalau yang reaktif mungkin  ada tempat khusus  untuk karantina. Tidak di dalam, karena  kalau di dalam nanti orang tetap takut datang,” sambungnya. (ulo/nat)    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *