Jembatan Darurat Jalan Trans Jayapura-Wamena Dikerjakan

Jembatan kali Kill

Wamen PUPR, Jhon Wempi Wetipo, saat meninjau jembatan kali Kill yang terputus diterjang longsora pada awal Januari lalu, Kamis (14/1) kemarin. ( FOTO: Wamen PUPR for Cepos)

WAMENA-Wakil Menteri (Wamen) Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Jhon Wempi Wetipo memastikan jika pengerjaan jembatan darurat untuk mengganti jembatan kali Kill yang terputus akibat longsor awal tahun 2021  bakal dikerjakan selama 50 hari kerja terhitung mulai Rabu (13/1) kemarin.

Mantan Bupati Jayawijaya dua periode ini menyebutkan, jalan trans Papua yang menghubungkan Jayapura-Wamena ini membutuhkan penanganan serius khususnya longsoran materiak yang menutupi ruas jalan. Pasalnya di sepanjang jalur jalan ini, kondisi tanahnya labil, sehingga rawan longsor.

“Penanganan di titik yang longsor dan jembatan putus ini ada dua hal yang mereka kerjakan, yaitu penanganan darurat dan permanen. Untuk penanganan darurat ini targetnya 50 hari lagi akan selesai mulai dari Rabu kemarin. Sehingga secepatnya bisa kembali dilalui kendaraan meskipun gunakan jembatan darurat,” jelasnya, Kamis (14/1).

Untuk jembatan permanen menurut Wempi Wetipo, ditargetkan rampung November mendatang. “Untuk jembatan permanen, tanggung jawab Balai Jayapura, meskipun ruas jalan ini masih tanggung jawab Balai Wamena. Nantinya akan bahas pada rapat pimpinan untuk memperjelas status pengerjaanya,” ujarnya.

“Harapan saya dengan melakukan penanangan darurat mulai dari sekarang ini bisa menjawab apa harapan dari masyarakat untuk secepatnya akses ini bisa buka kembali,” sambungnya.

Diakuinya, sejak jalan trans Papua Jayapura-Wamena ini  bisa dilalui, masyarakat sangat antusias memanfaatkan jalan ini. Antara lain sebagai jalur untuk mengangkut semua jenis kebutuhan ekonomi.

Namun dengan kondisi jalan yang longsor serta jembatan putus, semangat masyarakat diakuinya bisa menurun untuk bergeliat menghidupkan perekonomian di daerah pegunungan tengah Papua.

“Bagi yang punya uang bisa mengangkut barangnya melalui pesawat. Namun yang tidak punya uang, sangat bergantung dengan jalan ini. Oleh sebab itu, inilah solusi negara yang dikerjakan melalui Kementerian PUPR,” tandasnya.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai Wamen PUPR, Wempi Wetipo melakukan peninjauan dengan menempuh ruasjalan 392 Km. Dimana ditemukan ruas jalan sekitar 74 Km yang non status.

“Ini yang akan kami laporkan ke pusat supaya pada rapim nanti akan bahas. Ini percepat, karena jangan sampe non status ini menghambat niat baik bapak presiden untuk membangun konektivitas jalan di Papua,” tegasnya.

Wempi Wetipo mengaku memulai perjalanan dari Kota jayapura pada tanggal 11 Januari lalu bersama Balai Jalan Jayapura. Namun perjalanan ini terhenti di Km 32 yang merupakan titik perbatasan antara Balai Jayapura dan Balai Wamena.

Pihaknya tidak melanjutkan perjalan di titik jembatan amblas akibat longsor karena menurut informasi dari balai, tidak bisa menyeberang sehingga harus memutuskan untuk balik ke Jayapura. Namun Wempi Wetipo masih penasan ingin melihat kondisi ruas jalan tersebut, sehingga memutuskan melanjutkan perjalanan dari Wamena. “Sekarang kami sudah sampai di titik longsor Km 392 dari jalan Trans Papua Jayapura –Wamena,” tuturnya.

Dari hasil inspeksi yang dilakukan, Wempi Wetipo menemukan menemukan beberapa jalan aspal di Distrik Senggi dan Waris, Kabupaten Keerom yang diberikan garis pembatas lantaran mengalami kerusakan atau amblas.

“Saya mendapat banyak laporan dari masyarakat, jadi saya ingin tahu. Selama ini proses lelangnya beberapa kali gagal, namun progresnya seperti apa. Memang tidak gampang, karena total jaraknya 580 Km dari Jayapura sampai Wamena. Nah, setelah sampai di kilometer 320 ini kita baru bisa tahu kendalanya apa,” tambahnya.

Pihaknya juga menemukan ada tiga titik jalan yang sangat sulit dilalui di sekitar Distrik Airu. Hal ini sebabkan kondisi jalan yang berlumpur.

Diakuinya, beberapa titik jalan di Distrik Airu memang sulit dilalui walau sudah dibuat pengalihan jalan untuk menghindari kubangan lumpur. Namun sangat disayangkan kondisi itu tidak diakali dengan baik oleh pekerja. Padahal ada banyak material batu dan kayu yang bisa digunakan untuk menutupi.

“Setelah melihat di lapangan, saya berkesimpulan bahwa orang-orang yang bekerja ini tidak ikhlas. Ini dibiayai oleh negara, saya harap bisa konsisten. Saya minta Satker dan PPK tolong awasi pemenang. Kalau ada jembatan rusak seharusnya dengan kesadaran sendiri diperbaiki tidak perlu tunggu perintah,” pintanya.

JWW berharap, konsultan pengawas bisa mengawasi dengan baik pembangunan jalan trans Jayapura-Wamena. Sebab banyak temuan penyelewengan terjadi akibat konsultan pengawas tak pernah ada di tempat.

“Kita punya kasus di beberapa tempat karena konsultan pengawasnya tidak pernah ada, lalu volume pekerjaannya dikurangi dan akhirnya jadi temuan. Saya berharap kehadiran saya di sini menjadi semangat bagi teman-teman di Balai Jayapura untuk benar-benar mengawasi para pelaksana konsisten bekerja,” paparnya. (jo/oel/nat)

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *