Sering Bertemu Banyak Orang, Perlu Aman dan Sehat dari Penularan Covid-19

Mengikuti proses vaksinasi di RSUD Jayapura, Jumat (15/1) kemarin, Jurnalis Kompas.com, Dhias Suwandi, menjadi orang pertama di profesinya yang menerima vaksin Covid 19 di Papua.( Foto: gratianus silas/cepos)

Dhias Suwandi, Jurnalis Pertama di Papua yang Menerima Vaksin Covid 19

Setelah tiba di Papua, agenda vaksinasi di tahap pertama – termin pertama memang diperuntukkan bagi tenaga kesehatan (nakes). Namun, saat launching vaksin dilakukan di RSUD Jayapura, Jumat (15/1), terdapat 20 volunteer yang menjadi penerima vaksin pertama. Salah satu di antaranya Dhias Suwandi, jurnalis Kompas.com ini menjadi yang orang pertama di profesinya yang menerima vaksin di Papua. Bagaimana kisahnya? Berikut laporan Cenderawasih Pos.

Laporan: Gratianus Silas

Vaksin Sinovac masih menjadi trending di bumi Indonesia. Setelah Presiden Joko Widodo menjadi penerima vaksin pertama secara nasional, setiap daerah yang telah didistribusikan vaksin juga mulai dengan agenda vaksinasi.
Papua sendiri telah mendapat vaksin yang didistribusikan Kementerian Kesehatan. Sebanyak 14.608 vaksin tiba di Jayapura beberapa waktu lalu. Kemudian, mengacu pada edaran Kemenkes, sebagaimana di tahap pertama – termin pertama vaksinasi dilakukan bagi tenaga kesehatan di ibukota provinsi, serta kabupaten/kota yang berbatasan dengan ibukota provinsi.
Adalah Kota Jayapura, Kabupaten Mimika, dan Kabupaten Jayapura yang menjadi tiga daerah pertama yang mendapat pasokan vaksin. Namun, sebelum vaksinasi bagi tenaga kesehatan dilakukan di daerah, launching di tingkat provinsi dilakukan di Kota Jayapura, tepatnya di RSUD Jayapura, Jumat (15/1) kemarin.
Adapun dalam launching vaksin Covid 19 tersebut, para pimpinan dan tokoh di Papua diminta menjadi penerima vaksin pertama. Hal inipun mengacu pada edaran Kemenkes, sehingga mulai dari Pangdam XVII/Cenderawasih, Ketua IDI Papua, Kabid Humas Polda Papua, Kepala DPPAD Papua, Kabid P2P Dinkes Papua, dan yang lainnya bersedia menjadi volunteer penerima vaksin Sinovac perdana di Papua.
Namun, dari para pimpinan dan tokoh Papua tersebut, terselip satu nama yang bersedia menjadi perwakilan dari insan pers di Papua. Adalah Dhias Suwandi, jurnalis Kompas.com yang memberanikan diri untuk divaksin pada momen launching vaksin Covid 19 perdana itu.
Dhias memang tak terdaftar awalnya. Namun, dikarenakan adanya volunteer yang tidak hadir pada kesempatan tersebut, serta masih adanya ketersediaan vaksin bagi volunteer, alhasil Dhias memberanikan diri untuk bersedia menjadi penerima vaksin buatan Tiongkok tersebut.
“Setelah vaksinasi terhadap 18 relawan, saya hanya iseng saja bilang ke dr. Aaron Rumainum (Kabid P2P Dinkes Papua) apakah saya bisa masuk menjadi relawan. Dan dokter pun bilang bisa, sehingga saya mengikuti table flow vaksinasi. Yang penting ketika screening saya dinyatakan bisa menerima vaksin. Dari hasil screening, saya diizinkan untuk divaksin,” terangnya.
Dhias mengaku merasa sedikit mengantuk pasca vaksinasi dilakukan. Namun, rasa kantuknya itu masih bisa ia tahan dan melakukan tugasnya sebagai jurnalis.“Sejam setelah divaksin itu terasa mengantuk. Tapi, saya masih bisa melakukan tugas saya sebagai jurnalis walaupun sedikit mengantuk. Rasa kantuk ini masih bisa saya tahan,” jelasnya.
Kesediaan Dhias menjadi salah satu volunteer penerima vaksin pertama di Papua tidak lepas dari manfaat vaksin itu sendiri dalam mencegah penularan Covid 19, di mana vaksin memberikan pertahanan dan perlindungan bagi tubuh dari ancaman penularan Covid 19.
“Ya vaksin ini bagian dari aksi untuk aman dan sehat dari ancaman penularan Covid 19. Terlebih profesi jurnalis yang mengharuskan kita untuk bertemu dan berkomunikasi dengan banyak orang yang datang dari berbagai latar belakang dan profesi, mulai dari pejabat, pelaku ekonomi, hingga masyarakat pada umumnya,” tambahnya.
Keinginan yang kuat untuk menjadi salah satu penerima vaksin pertama di Papua sekaligus memberikan sosialisasi bagi masyarakat bahwa vaksin yang disediakan pemerintah ini sudah melalui uji klinis dan mendapat rekomendasi emergency use authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta fatwa halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
“Jadi ini sekaligus menjadi bagian dari sosialisasi bagi masyarakat. Artinya membantu membuktikan bagi masyarakat bahwa vaksin ini aman,” pungkasnya.(*/wen)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *