Jangan Euforia Vaksin, Prokes Wajib!

DIVAKSIN: Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Ignatius Yogo Triyono, tersenyum dan mengacungkan jempol kanannya kepada para jurnalis ketika mendapatkan suntikan vaksin Covid-19 perdana saat launching vaksin Covid 19 di tingkat provinsi Papua, di RSUD Jayapura, Jumat (15/1) kemarin. (Foto:Gratianus Silas/Cepos)

JAYAPURA-Juru Bicara Satgas Covid-19 Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K)., menegaskan bahwa ketika seseorang telah divaksin, tidak bermakna bahwa dirinya dapat bereuforia dengan keluyuran ke mana saja tanpa menerapkan protokol kesehatan (Prokes). Seperti tidak mengenakan masker maupun tidak menjaga jarak.
Hal ini disampaikan dr. Sumule di sela-sela launching vaksin Covid-19 secara perdana di Provinsi Papua, yang dilakukan di RSUD Jayapura, Jumat (15/1) kemarin. Dirinya menekankan pentingnya Prokes untuk dapat tetap diterapkan walaupun sudah menerima vaksin.
“Setelah divaksin, tidak bermakna bagi kita untuk jalan ke mana-mana, melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan prosedur protokol kesehatan. Protokol kesehatan itu harus tetap dilaksanakan. Tidak bisa tidak. Karena, kita akan melihat akibat dari seseorang divaksin, yang bisa kita pantau berapa kadar antibody yang dibentuk. Pemantauan ini dilakukan secara terus menerus oleh teman-teman di Dinkes dan organsasi profesi,” jelas dr. Silwanus Sumule menjawab Cenderawasih Pos, Jumat (15/1) kemarin.
Penegasan ini bukannya tanpa alasan, melainkan karena protokol kesehatan yang memang dilihat semakin berkurang penerapannya di masyarakat, khususnya di Papua. Hal inilah yang menurut dr. Sumule tidak seharusnya terjadi.
“Pasalnya, protokol kesehatan menjadi upaya pencegahan penularan Covid-19 yang paling mendasar. Jadi, upaya pencegahan itu ada tiga. Yang pertama itu penerapan protokol kesehatan, dengan wajib pakai masker, rajin cuci tangan, tidak berkumpul, jaga jarak, hingga perilaku hidup bersih dan sehat,” tambahnya.
“Upaya pencegahan kedua adalah ketika kita ada keluhan atau gejala Covid-19, maka lakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan, baik rumah sakit ataupun puskesmas. Sedangkan upaya pencegahan ketiga adalah melalui vaksinasi. Jadi, kita harus tetap laksanakan protokol kesehatan karena keselamatan warga itu menjadi tanggung jawab kita bersama,” sambungnya.
Persoalan Prokes yang berkurang karena euforia vaksin ini ada kaitannya dengan tren perkembangan kasus Covid -19, khususnya di Papua. Hingga saat ini, berdasarkan data Satgas Covid 19 Provinsi Papua, kasus terkonfirmasi sebanyak 14.432 kasus. Dimana 1.294 kasus dalam perawatan, 12.872 kasus sembuh, dan 266 kasus meninggal dunia.
“Angka kesembuhan memang bagus. Tapi angka kematian kita perlahan merangkak naik juga. Kemudian, tracing kita juga menurun. Masyarakat yang terpapar Covid-19, datang ke rumah sakit juga dalam kondisi sakit berat,” ungkapnya.
Kata dr. Sumule, memang pelayanan pasien dengan kondisi sakit berat atau kritis (Covid-19) itu, khusus di Kota Jayapura, hanya dapat dilakukan di dua rumah sakit. Yakni RSUD Jayapura dan RSUD Abepura karena peralatan dan tenaga kesehatan yang lengkap.
“Namun, ini jadi perhatian bagi kita dengan tidak menganggap enteng penyakit ini dan datang ke rumah sakit dalam kondisi sudah kritis. Sebab, cukup berat bagi tenaga kesehatan memberikan pelayanan yang optimal ketika kondisi pasien kritis, yang mana upaya apapun yang diberikan, dalam beberapa kasus itu tidak memberikan hasil yang optimal,” katanya.
Seperti diketahui, sebagaimana disampaikan dr. Sumule, vaksin juga menjadi salah satu upaya pencegahan penularan Covid-19 yang dilakukan. Dengan telah didistribusikannya vaksin dari pemerintah pusat ke pemerintah tingkat daerah, maka program vaksinasi mulai dilakukan.
Launching vaksin Covid-19 di tingkat provinsi Papua dilakukan di RSUD Jayapura, Jumat (15/1) kemarin, dengan diikuti oleh para pimpinan dan tokoh di Papua, mulai dari Pangdam XVII/Cenderawasih, Kepala DPPAD Provinsi Papua, Kabid Humas Polda Papua, Ketua IDI Papua, hingga para relawan lainnya yang totalnya dibatasi hanya 20 orang saja.
“Yang jelas vaksin ini program pemerintah dan upaya pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid 19. Kalau kita sehat, kita bekerja, maka ekonomi akan kembali berjalan seperti semula. Dimana kita bisa bounce back dan ekonomi kita yang jatuh karena Covid 19 bisa bangkit lagi. Itu tujuan utamanya,” ungkap Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Ignatius Yogo Triyono.
Pangdam juga berpesan pada masyarakat untuk tidak percaya terhadap hoaks yang disebar-sebarkan melalui media sosial, terutama dalam kaitannya dengan vaksin ini.
“Semua masyarakat jangan percaya dengan hoaks, dengan berita tidak benar. Tapi percayalah berita resmi dari pemerintah bahwa vaksin ini sangat berguna untuk memutus mata rantai Covid-19. Saya berharap, seluruh masyarakat berbondong-bondong menerima vaksin Covid 19 ini,” tambahnya.
Kepala Dinas Pendidikan Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPPAD) Papua, Christian Sohilait, juga menjadi penerima vaksin di urutan kedua setelah Pangdam XVII/Cenderawasih.
“Saya sebagai Kepala Dinas memiliki 22 – 24 ribu guru dan mereka akan berinteraksi dengan hampir 600 – 700 ribu anak sekolah di seluruh Papua. Setelah saya divaksin, ini imbauan saya bagi para guru untuk kita jaga imunitas tubuh kita. Sehingga kita bisa melakukan aktivitas di sekolah ketika tatap muka. Sebaliknya, kalau kita tidak divaksin, kita akan menjadi masalah bagi lingkungan pendidikan di sekitar kita,” terang Christian Sohilait.
Sedangkan Ketua IDI Wilayah Papua, dr. Donald Aronggear, menekankan kepada nakes bahwa selain protokol kesehatan, vaksin menjadi salah satu yang wajib.
“Khusus bagi nakes yang menjadi benteng pertahanan terakhir, yang selalu berinteraksi dnegan pasien, dengan masyarakat yang datang membutuhkan pelayanan, sehingga kalau tidak divaksin, dengan sendirinya akan membuat kasus terpapar makin tinggi. Jadi untuk putus mata rantai penularan, selain prokes, vaksin menjadi salah satu yang wajib,” jelas dr. Donald Aronggear.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol AM Kamal sebagai perwakilan Polda Papua telah disuntikan vaksin. Setelah divaksin, Kamal mengaku dirinya merasa baik-baik saja dan dapat beraktivitas seperti biasa.
Menurut Kamal, masyarakat harus mendukung program pemerintah dalam vaksinasi Covid-19. Program Vaksinasi Covid-19 yang menggunakan vaksin halal dalam tahap ini vaksin Covid-19 produksi Sinovac Life Science C. Ltd sebagai salah satu ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh dan mencegah semaksimal mungkin terjadinya penularan wabah Covid-19 di tengah masyarakat.
“Polda Papua terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai manfaat dan pentingnya vaksinasi dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Sosialisasi dan edukasi perlu dilakukan secara persuasif, melibatkan seluruh elemen dari berbagai latar belakang, sehingga ada kesadaran yang utuh mengenai pentingnya vaksinasi,” kata Kamal. (gr/fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *