Buang Air Kecil di Jembatan Merah Berujung Maut

Mobil jenazah yang bersiap-siap membawa jenazah  Fembri Paul Fonataba (28) mahasiswa Fakultas Kedokteran Uncen usai divisum di RS Bhayangkara, Rabu (13/1) malam pukul 20.25 WIT. ( FOTO:Priyadi/Cepos)

Seorang Mahasiwa Kedokteran Ditemukan Tak Bernyawa Dalam Bak Mandi

JAYAPURA-Dua warga ditemukan meninggal dunia di dua lokasi berbeda di Kota Jayapura, Rabu (13/1).

Di Jembatan Youtefa atau yang sering disebut masyarakat jembatan merah, seorang pemuda bernama Marinus Ajam (29) warga Distrik Demta Kabupaten Jayapura dilaporkan tewas lantaran terjatuh dari Jembatan Youtefa, Distrik Jayapura Selatan, Rabu (13/1) dini hari sekira pukul 02.30 WIT.

Di lokasi yang berbeda, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura bernama Fembri Paul Fonataba (28), ditemukan tak bernyawa di Perumahan BPN Dok IX RT 03 RW IV Kelurahan Tanjung Ria, Distrik Jayapura Utara.

Kapolresta Jayapura Kota Kombes Pol Gustav R Urbinas yang dikonfirmasi melalui Kasubag Humas Polresta Jayapura Kota, AKP. Jahja Rumra membenarkan adanya dua warga yang ditemukan tak bernyawa di dua lokasi yang berbeda, kemarin.

Untuk kejadian di Jembatan Youtefa, Jahja Rumra mengatakan, korban bernama Marinus Ajam (awalnya bersama empat rekannya SK, ME, IU dan MB bergerak dari Holtekamp menuju APO menggunakan mobil.

Dalam perjalanan, tepatnya di pertengahan Jembatan Youtefa, korban meminta mobil berhenti karena ingin buang air kecil,

Saat mobil berhenti, korban langsung turun diikuti saksi IU sedangkan yang lain tetap di atas mobil.

“Saksi SK sempat mengatakan hati-hati ke korban, dimana saat itu saksi IU berdiri di samping kiri mobil sambil buang air kecil. Sedangkan korban menuju ke arah pagar pembatas jembatan dan sudah melewati pembatas jembatan, tiba-tiba korban langsung terjatuh kebawah kolong jembatan,” ungkapnya.

 Melihat hal tersebut, para saksi langsung keluar mobil untuk mengecek keberadaan korban dan melihat korban sudah tergeletak di bawah tiang jembatan. Para saksi langsung turun ke bawah guna menolong korban. Namun kondisinya agak melewati laut maka saksi ME dan IU ke Pantai Cibery mencari speed boat untuk mengevakuasi korban ke darat dan selanjutnya dilarikan ke RS Bhayangkara menggunakan mobil.

“Korban meninggal dunia pada waktu perjalanan dari TKP ke RS Bhayangkara lantaran waktu terjatuh korban sempat meminta tolong kepada para saksi,” tuturnya.

Kasus ini menurut Jahja Rumra saat ini ditangani Unit Reskrim Polsek Jayapura Selatan. Dimana penyidik telah melakukan olah TKP, memintai keterangan saksi dan membuat laporan polisi.

Mengenai penemuan jenazah di Perumahan BPN Dok IX RT 03 RW IV Kelurahan Tanjung Ria Distrik Jayapura Utara, Jahja Rumra mengatakan, jenazah Fembri Paul Fonataba  pertama kali ditemukan rekannya bernama Untung Saputra Manulang (28) yang saat itu hendak berkunjung ke rumahnya.

 “Saksi datang bermaksud mengantarkan switer milik korban. Namun setibanya dirumah korban, saksi melihat pintu depan dalam keadaan terbuka. Saksi kemudian mengecek korban ke setiap ruangan hingga menemukan korban di dalam bak kamar mandi dengan posisi mengambang,” ungkap Jahja.

Mendapati rekannya tidak sadarkan diri di dalam bak mandi, saksi kemudian mendatangi Mapolsek Jayapura Utara.

“Merespon laporan saksi, anggota langsung mendatangi TKP dan menemukan korban masih dalam posisi mengambang didalam bak kamar mandi. Anggota langsung menghubungi tim Inavis Polresta Jayapura Kota yang langsung tiba di TKP dengan dipimpin Kasat Reskrim Polresta Jayapura Kota AKP Komang Yustrio Wirahadi Kusuma,” jelasnya.

 Usai melakukan olah TKP, jenazah korban kemudian dievakuasi menggunakan mobil ambulance dari Bidang Dokkes Polda Papua ke RS Bhayangkara untuk dilakukan visum luar. Karena pihak keluarga menolak untuk dilakukan autopsi.

 “Kejadian ini dalam penanganan Unit Reskrim Polsek Jayapura Utara yang dibackup Satuan Reskrim Polresta Jayapura Kota. Saat ditemukan pada tubuh korban tidak ditemui adanya tanda-tanda kekerasan,” tutupnya.

Sementara itu, orang tua dan keluarga sangat terpukul dengan kepergian almahum. Sebelum ditemukan tak bernyawa, almarhum masih sempat berkomunikasi dengan ibunya bernama Sarah yang tinggal di Arso 14, Kampung Wulukubun, Kabupaten Keerom.

Sarah ibu almarhum yang ditemui Cenderawasih Pos di Ruang Jenazah Rumah Sakit Bhayangkara Kotaraja terlihat sangat terpukul namun tetap sabar dan ikhlas karena ini sudah takdir Tuhan Yang Maha Kuasa.

Meskipun demikian, Sarah meminta polisi untuk melakukan penyelidikan guna mengungkap penyebab kematian anak semata wayangnya. Pasalnya dari hasil visum luar tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan di tubuhnya. Namun almarhum menurutnya juga tidak ada riwayat penyakit atau saat itu sedang sakit.

 “Anak saya sempat berkomunikasi dengan saya seperti biasa, karena dia tinggal di Kota Jayapura dan saya di Arso 14. Mendengar kabar anak saya meninggal dunia ditemukan di bak kamar mandi saya sangat terpukul. Kenapa ini bisa terjadi dia tidak ada riwayat sakit. Saya harap ini bisa dilakukan penyelidikan supaya keluarga kami bisa tahu penyebab meninggalnya anak  semata wayang saya ini,” pintanya.

Amalia kerabat korban juga mengakui kalau almarhum tidak dalam keadaan sakit atau memilik riwayat penyakit.

Dari pantauan Cenderawasih Pos, usai dilakukan visum luar, jenazah langsung dibawa keluarga ke rumah duka di Arso 14, Rabu (13/1) malam sekira pukul 20.25 WIT.(fia/dil/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *