Didahului Puasa 40 Hari yang Berpantang Produk Hewani

NATAL DI TENGAH PANDEMI: Romo Alexios Setir Cahyadi di Gereja Ortodoks Tritunggal Maha Kudus, Surakarta, kemarin.

Natalan Januari Kalangan Kristen Ortodoks di Solo

Seperti pemeluk Kristen lain yang Natalan 25 Desember, kalangan Kristen Ortodoks merayakan Natal 6 Januari dengan misa yang menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Mendapat kiriman paket sembako dari Gubernur Ganjar Pranowo.

ANTONIUS CHRISTIAN, Solo, Jawa Pos

KURSI-KURSI ditata. Sebagian orang lainnya menghiasi gedung. Ada pula yang memasang kamera. Di tengah pandemi seperti sekarang, segala jenis misa memang ditayangkan secara live streaming melalui kanal YouTube gereja. Tak terkecuali misa Natal tadi malam.

Ya, para pengurus Gereja Ortodoks Tritunggal Maha Kudus Surakarta kemarin siang (6/1) memang sibuk mempersiapkan misa Natal. Tak seperti mayoritas pemeluk Kristen di tanah air, pemeluk Kristen Ortodoks merayakan Natal tiap 6 Januari.

Perbedaan itu, kata Romo Alexios Setir Cahyadi kepada Jawa Pos Radar Solo, terjadi karena Kristen Ortodoks menggunakan perhitungan kalender Julius. Sementara itu, Katolik Roma dan Kristen Protestan menggunakan kalender Gregorian.

Natal, kata Alexios, bagi kalangan Ortodoks menjadi bagian terpenting karena masuk dalam 12 liturgi besar selama setahun. Sebab, adanya kebangkitan tanpa ada kelahiran tentunya tidak akan terjadi keselamatan.

’’Untuk itu, dalam persiapan sebelum Natal atau masa pra-Natal, kami menjalankan puasa selama 40 hari. Namun, berbeda dengan puasa pra-Paskah di mana makan sekali kenyang, puasa pra-Natal ini kami pantang mengonsumsi produk-produk hewani, seperti daging, telur, dan susu,’’ urai Alexios.

Mengutip situs rbth.com, kekristenan terbagi menjadi bagian Timur dan Barat pada 1054. Sejak itu gereja Katolik Roma memiliki pusat di Roma (Vatikan), Italia, yang dipimpin seorang paus. Sedangkan gereja Ortodoks memiliki pusat spiritual di Istanbul, Turki.

Masih mengutip situs yang sama, ada banyak perbedaan ritual antara Ortodoks dan Katolik. Salah satunya adalah ritual tanda salib.

Masa puasa pra-Natal kalangan Ortodoks, lanjut Alexios, berakhir kemarin sore. Berbarengan dengan terselenggaranya liturgi misa Natal.

Dia menjelaskan, proses liturgi dimulai dari Kyros (pembukaan gerbang kudus), kemudian mempersiapkan roti perjamuan. Setelah itu, liturgi dibuka dengan mengangkat Injil dan pembacaan litani panjang.

Prosesi misa dilanjutkan dengan arak-arakan Injil serta pembacaan Epistel dan Injil. Setelah itu, romo menyampaikan homili atau pesan tersirat dari bacaan Injil.

Berlanjut dengan arak-arakan perjamuan, litani untuk perjamuan, dan berakhir dengan perjamuan Kudus guna melambangkan perjamuan terakhir Yesus Kristus bersama dengan 12 murid-Nya sebelum wafat di kayu salib. Untuk Natal, romo juga akan memberkati 5 ketul roti sebagai peringatan Tuhan Yesus yang memecah 5 roti sebagai berkat di tahun baru agar jemaat selalu diberkati dan berkelimpahan berkat.

Sepanjang misa yang berjalan kurang lebih selama dua jam, jemaat berdiri. Serta, jemaat perempuan dan pria dipisah. ’’Umat perempuan berada di kiri, sedangkan umat pria berada di sebelah kanan,” katanya.

Sebagaimana umumnya semua gereja di tanah air saat Natal 25 Desember lalu, protokol kesehatan juga diterapkan secara ketat di Gereja Ortodoks Tritunggal Maha Kudus. Jarak antarjemaat diatur dan mereka yang boleh mengikuti misa Natal dibatasi hanya sekitar 40 orang.

’’Sebelum misa, ruangan disemprot dengan disinfektan, begitu juga sesudahnya. Umat yang tidak bisa datang bisa mengikuti misa melalui live streaming,’’ tuturnya.

Gereja Ortodoks Tritunggal Maha Kudus Surakarta ternyata menjadi cikal bakal perkembangan Kristen Ortodoks di Indonesia. Di gereja itulah Kristen Ortodoks lahir di Indonesia pada 1991 setelah diakui pemerintah Indonesia dan dilindungi negara. ’’Sekarang di setiap provinsi sudah ada,’’ lanjutnya.

Gereja itu juga menjadi tempat bagi calon jemaat Kristen Ortodoks menempuh serangkaian pelajaran sebelum dibaptis. ’’Selain di sini, ada di Bogor,’’ tuturnya.

Meski minoritas, selama ini pihaknya mendapat perhatian dari negara, dalam hal ini Pemerintah Kota Surakarta. Pria yang juga menjabat ketua Badan Musyawarah Antar Gereja (Bamag) Surakarta itu mengatakan acap kali diajak berkoordinasi dan berdiskusi dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Surakarta.

’’Kemarin (Selasa, Red) sore, utusan Pak Ganjar (Pranowo, gubernur Jawa Tengah) datang ke sini untuk memberikan bingkisan Natal berupa 50 paket sembako. Ini suatu anugerah Natal bagi kami, apalagi di tengah masa pandemi seperti ini,” katanya. Nanti paket sembako tersebut didistribusikan kepada jemaat kurang mampu. ’’Sudah kami data dan beberapa bahkan sudah dibagikan,’’ kata Alexios. (*/c7/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *