Dua Terduga Teroris Tewas, Satu Luka Tembak

Polisi melakukan olah TKP rumah terduga teroris di Kompleks Villa Mutiara Cluster Biru, Jalan Boulevard, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, Sulsel, Rabu (6/1/2021). Sebanyak dua orang yang diduga teroris tewas saat ditangkap tim gabungan Detasemen 88 Antiteror Polri bersama tim Gegana Polda Sulsel dan aparat Polrestabes Makassar. ( foto: IDHAM AMA/FAJAR)

17 Terduga Teroris Dikirim ke Jakarta

JAKARTA, Jawa Pos-Densus 88 Anti Teror kembali beraksi. Tak tanggung-tanggung, dalam satu kejadian terdapat 20 terduga teroris yang ditangkap di Vila Mutiara Biru, Birikanaya, Makassar. Dua diantaranya tewas saat melawan petugas dengan senjata angina PCP dan senjata tajam. Satu diantaranya, mengalami luka tembak dalam kejadian tersebut.

Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Pol.  Merdisyam menjelaskan, saat penangkapan terhadap kelompok teroris jaringan Vila Mutiara itu, ternyata dua orang melakukan perlawanan terhadap petugas. Dua orang yang melawan berinisial MR,46, dan SA, 23. ”Keduanya melawan dengan senjata angin PCP dan senjata tajam,” tuturnya.

Karena perlawanan tersebut, petugas merespon dengan tindakan tegas dan terukur. Sehingga, mengakibatkan keduanya tewas dalam kejadian. Lalu, juga ada satu terduga teroris yang mengalami luka tembak. ”Saat ini dalam perawatan,” terangnya.

Dia menuturkan, untuk 17 terduga teroris lainnya telah ditangkap dan akan dikirim ke Jakarta untuk pemeriksaan. 20 orang tersebut diduga merupakan anggota kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang terafiliasi dengan ISIS.”Terhubung dengan Ponpes Aridho, pimpinan Ustad Basri. Basri sendiri tewas di Nusakambangan dalam kasus terorisme,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya kemarin.

Mereka juga dikenal sebagai kelompok Vila Mutiara karena pusat kegiatannya berada di perumahan tersebut. Terdapat kajian khusus untuk para pendukung daulah di Vila Mutiara dan Yayasan Aridho. ”Untuk MR dan SA ini memiliki hubungan keluarga dan terdapat sejumlah catatan keterlibatannya,” jelasnya.

Keduanya pernah berupaya bergabung dengan ISIS di Suriah. Namun, petugas berhasil menggagalkan upaya tersebut di Bandara Seokarno Hatta pada 2016. ”Pasca itu, keduanya juga diduga terlibat dalam pengiriman dana untuk bom Katedral Zolo di Filipina,” urainya.

Pelaku bom Katedral Zolo itu merupakan anggota jaringan Vila Mutiara. Tak hanya itu, kelompok ini mulai aktif melakukan pelatihan menembak dan naik gunung. ”Aktivitas pelatihan itu dilakukan sejak Oktober 2020,” ujarnya.

Sementara Kabagpenum Divhumas Polri Kombespol Ahmad Ramadhan mengatakan, keduanya juga terlibat dalam melarikan buronan Andi Baso, pelaku bom Gereja Oikumene. ”Saya tegaskan mereka bukan terduga teroris, tapi teroris,” tuturnya. (idr/JPG)

Dua Terduga Teroris Tewas

Dua terduga teroris yang tewas memiliki hubungan keluarga, MR merupakan mertua dari SA. Keduanya tewas saat melawan petugas.

Keterlibatan

          Baiat kepada ISIS pada 2015 di ponpes Aridho pimpinan Ustad Basri. Basri telah meninggal saat menjalani hukuman di Nusakambangan karena kasus terorisme.

          Pada 2016 MR dan SA bersama anggota keluarga lainnya berupaya bergabung dengan ISIS di Suriah. Namun, digagalkan saat akan berangkat di Bandara Soekarno Hatta.

          Pasca gagal berangkat ke Suriah, keduanya aktif dalam kajian khusus pendukung daulah di Vila Mutiara dan Yayasan Aridho.

          Keduanya terlibat pengiriman dana untuk bom bunuh diri di gereja Katedral Filipina. Pelaku bom bunuh diri anggota kelompok Jamaah Vila Mutiara.

          Sejak Oktober 2020, kelompok Vila Mutiara rutin menggelar latihan militer seperti menembak dan survival di gunung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *