Khawatir Tahun 2050 Lebih Banyak Plastik Ketimbang Ikan

Para anggota komunitas lingkungan dari Rumah Bakau Jayapura dan Earth Hour Jayapura berdiri sambil memegang papan kampanye yang berisi pesan – pesan lingkungan di sela-sela kegiatan Beach Clean Up di Teluk Yotefa, Jumat (4/12). Dari aksi bersih sampah ini, produk sampah botol plastik masih mendominasi. (FOTO: Gamel Cepos)

JAYAPURA – Puncak kegiatan program seal to campus, EcoNusa akhirnya Jumat (4/12) tuntas digelar. Lokasi yang diambil adalah sepanjang Teluk Yotefa atau Pantai Holtekam Jayapura. Kegiatan yang mengambil tema Beach Clean Up ini mengajak tak hanya mahasiswa tetapi juga komunitas dan juga pihak Lantamal X Jayapura. Dari total sampah yang berhasil dikumpulkan tercatat total keseluruhan berjumlah 515 Kg atau setengah ton lebih. Dari jumlah ini jenis yang terbanyak adalah sampah botol plastik merk Aqua, Teh Pucuk dan produk lokal Qualala dengan berat 269 Kg.
Kemudian sampah botol kaca yang didominasi botol minuman keras seberat 72 Kg dan sampah campuran berupa kantor plastik, teh kotak termasuk kertas nasi bungkus diperoleh 174 Kg. CEO EcoNusa, Bustar Maitar mengaku khawatir dengan persoalan sampah plastik ini mengingat persoalan yang sama juga terjadi di daerah – daerah lain. Jayapura dan Papua kata dia memiliki laut dan bibir pantai yang menarik, sayang jika akhirnya rusak dan dipenuhi sampah plastik. Kekhawatiran melihat banyaknya sampah plastik ini justru jika berlanjut jika di tahun – tahun mendatang.
Pria yang belasan tahun tergabung dengan organisasi lingkungan Green Peace ini menyebut jika produk sampah tak dibendung maka dikhawatirkan pada tahun 2050 akan lebih banyak plastik ketimbang ikan. Dan menurutnya tak menutup kemungkinan ikan yang ada di sekitar teluk sudah terkonaminasi dengan yang dinamakan micro plastik. “Sudah banyak temuan ikan yang mengandung micro plastik jadi harus lebih bijak,” jelasnya. Wakil Wali Kota Jayapura, Ir H Rustan Saru MM yang juga hadir mengapresiasi program Beach Clean Up ini. Apalagi banyak kelompok muda yang dikerahkan.
Rustan sendiri menerima masukan agar pengelola tempat wisata mau bertanggungjawab dengan sampahnya masing – masing. “Kami akan minta tiap pemilik wisata menyediakan kantor sampah jadi tidak perlu berceceran. Saya pikir kegiatan ini bisa menjadi contoh dan menjadi pendorong untuk semangat kepedulian bagi lingkungan lainnya,” imbuhnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *