Suami Punya Simpanan dan Miras, Imbasnya 46 Perempuan Alami KDRT

Puluhan Anak Menjad Korban Kekerasan, Persetubuhan dan Pencabulan

JAYAPURA- Sepanjang tahun 2020, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Jayapura Kota menerima sebanyak 151 aduan kasus yang menimpa perempuan dan anak. Mulai dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), pencabulan, persetubuhan, kekerasan terhadap anak hingga kasus penelantaran.
Dari 158 kasus tersebut, 35 kasus terselesaikan sementara 123 kasus lainnya sedang dalam proses penyelesaian. Dimana rata-rata pelaku adalah orang-orang terdekat korban.
Kanit PPA Polresta Jayapura Kota Ipda Tantu Usman mengatakan, sebanyak 123 dalam proses penyelesaian lantaran ketika dilakukan pemanggilan si pelapor ataupun terlapor nomor kontaknya tidak aktif lagi. “Kendalanya dalam proses pemanggilan. Namun, kalau cukup alat bukti kita tetap naikan ke sidik dan kita selesaikan,” ucapnya kepada Cenderawasih Pos, Kamis (3/12)
Lanjutnya, ada juga kasusnya terselesaikan dengan mengunakan restorasi justice artinya, penyelesaian masalah di luar proses hukum dengan mengembalikan kondisi semula seperti biasa dengan denda atau sebuah perjanjian kepada pelaku untuk tidak mengulangi perbuatannya.
Dari 151 kasus sepanjang tahun 2020 yang ditangani Unit PPA Reskrim Polresta Jayapura Kota, kasus KDRT paling menonjol yakni 46 kasus disusul kasus kekerasan anak sebanyak 27 kasus, persetubuhan 24 kasus dan pencabulan 17 kasus. “KDRT penyebab awalnya adalah Miras, adanya wanita idaman lain dan faktor ekonomi. Sementara kekerasan terhadap anak karena faktor Miras,” kata Ipda Tantu.
Menurutnya, salah satu penyebab KDRT karena kurang pahamnya sebagian orang terhadap UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Sehingga itu, perlu dibuat regulasi sebelum kedua Pasutri memasuki jenjang pernikana maka ada pra nikah. “Sebelum maju ke jenjang pernikahan dia harus memperoleh rekomendasi bahwa dia sudh melalui pra nikah. Hal ini agar meminimalisir terjadinya kekerasan dalam rumah tangga,” kata Tantu.
Sementara itu lanjut Tantu, terkait dengan kasus persetubuhan rata-rata korbannya adalah anak dibawah umur dengan pelaku orang terdekat korban. Teman korban, kaka ipar korban hingga kakek korban sendiri.
“Adanya kesempatan hingga mereka memanfaatkan, karena mereka setiap hari bersama sehingga orang terdekat tidak menaruh kecurigaan,” terangnya.
Dikatakan, untuk memutus mata rantai kekerasan dan pencabulan. Setiap korban harus berani melaporkan atas apa yang ia alami, sebagaimana perlindungan terhadap perempuan ada UU khusus dan ancaman hukumannay sangat berat apabila dilanggar.
“Ketika masyarkat mengalami kekerasan entah seksual aau fisik, janga segan untuk melaporkan kepada pihak kepolisian. Agar cepat tertagani dan pelaku bisa kita tangkap dan proses sesuai hukum yang berlaku,” tegasnya.
Dirinya juga mengingatkan para orang tua memperhatikan lingkungan anaknya bermain dan teman bergaulnya. Selain itu, bijak dalam menggunkan medsos secara baik dan konten yang tidak sesuai maka tidak seharusnya dikonsumsi si anak. (fia/wen)

Data kasus 151 laporan polisi :
Diskriminasi dan penculikan terhadap anak 2 kasus
Kekerasan anak 27 kasus
Persetubuhan 24 kasus.
Pencabulan 17 kasus
Eksploitasi seksual terhadap anak 1 kasus
KDRT 46 kasus
Kekerasan secara psikis dan penelantaran 12 kasus.
Perzinaan 7 kasus
Perkosaan dan pencabulan orang dewasa 10 kasus.
Penganiayaan 2 kasus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *