Pemerintah Kembali Larang Acara Kumpul-kumpul

Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Luhut Binsar Panjaitan. FOTO: HENDRA EKA/JAWA POS

Kasus Covid-19 Naik Karena Kerumunan
JAKARTA, Jawa Pos-Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan meminta agar semua pihak menghentikan sementara semua jenis acara kumpul-kumpul yang bisa menimbulkan kerumunan. Hal ini menyusul terus naiknya kasus positif Covid-19 di beberapa daerah.
Hal tersebut disampaikan Luhut dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Virtual Penanganan Covid-19 di DKI Jakarta dan Bali di Kantor Kemenko Marves, Senin (30/11). Ia meminta agar tidak ada lagi yang mengizinkan masyarakat untuk berkumpul dalam jumlah besar.
“Saya ingin kita semua bersepakat jangan ada kerumunan lagi dengan alasan apapun untuk beberapa waktu ke depan,” tegasnya kepada para kepala daerah, Pangdam, dan Kapolda di DKI Jakarta dan Bali pada rakor tersebut.
Dalam rakor tersebut, Luhut juga meminta agar Kementerian Kesehatan untuk memastikan ketersediaan kapasitas ICU, ruang isolasi serta obat di RS mencukupi untuk perawatan pasien Covid-19.
Ia secara khusus meminta Direktorat Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan saling mengecek ketersediaan obat yang ada di daerah. “Jangan sampai ada orang meninggal karena kelalaian kita untuk mengecek ketersediaan obat sehingga obat habis,” ingatnya.
Kemudian, yang tidak kalah penting, khusus untuk wilayah Bali, Menko Luhut meminta agar pemerintah daerah menambah fasilitas isolasi terpusat terutama di Tabanan. “Kalau di kabupaten, hotel tidak cukup ya geserlah. Yang penting pisahkan secepatnya dari keluarga yang masih sehat,” tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Gubernur Jakarta Anies menyebutkan bahwa dua minggu pasca libur panjang pada tanggal 28 Oktober hingga 1 November terdapat kenaikan kasus positif terutama klaster keluarga. “Dan setelah kita lakukan pelacakan dan penelusuran mayoritas Keluarga ini bepergian ke Bandung, Semarang, Lampung dan beberapa tempat di Jawa Timur,” urainya.
Dengan munculnya klaster keluarga ini, dia berharap agar pemerintah pusat meninjau ulang kebijakan libur bersama saat akhir tahun. Namun demikian, sedikit berbeda dengan DKI Jakarta, jumlah kasus terkonfirmasi positif di Provinsi Bali meningkat usai gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). “Jadi di kami Pilkada penyumbang kasus terkonfirmasi positif terbesar. Dari KPPS banyak ditemukan kasus positif. Lalu kami lakukan tracing lebih luas,” tutur Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra dalam kesempatan yang sama.
Selain itu, tambahnya, dalam minggu ini Pemprov Bali juga melakukan penelusuran ke seluruh pelaku jasa pariwisata. “Dari mereka ditemukan beberapa kasus positif,” kata Sekda Indra.
Luhut meminta kepada semua pihak yang berwenang untuk turut mengevaluasi pelaksanaan Pilkada dan dampak libur panjang pada akhir Oktober terhadap peningkatan kasus terkonfirmasi positif dan angka kematian. Hasil tersebut menurutnya penting untuk menentukan kebijakan libur panjang akhir tahun.
Dalam beberapa hari terakhir, kasus positif terus mengalami kenaikan. Rekor tertinggi pertambahan kasus terjadi pada hari Minggu (29/11) dengan 6.267 kasus baru. Dua hari sebelumnya pertambahan kasus positif juga berada di kisaran 5 ribuan kasus.
Pertumbuhan tertinggi dicatat oleh Jawa Tengah dengan 2.036 kasus. Namun, Pemprov Jawa Tengah menyangkal data ini. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yulianto Prabowo menilai ada kekeliruan dalam rilis Satgas Covid-19 tentang penambahan kasus positif di Jawa Tengah.
Pada Minggu (29/11), Satgas menyebut Jawa Tengah menjadi provinsi tertinggi penambahan kasus aktif sebesar 2.036 kasus. ”Ini berbeda jauh dari data kami, yang ada hanya 844 penambahannya,” kata Yulianto kemarin (30/11).
Yulianto menyebut bahwa da beberapa data dobel yang sudah dirilis kembali dirilis. Ada juga beberapa miss seperti satu nama yang ditulis hingga beberap kali. Sampai berita ini ditulis, Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Covid-19 Dewi Nur Aisyah maupun Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito belum merespon upaya konfirmasi dari Jawa Pos. Hingga senin malam (30/11), juga belum ada perubaha/koreksi dari rilis data komulatif dari laman resmi Satgas Covid-19
Menurut catatan Kementerian Kesehatan, klaster baru pada peningkatan kasus Minggu (29/11) lalu terjadi di empat daerah. Pertana, kejadian di Bangka Barat terjadi karena Perjalanan Dinas dari Surabaya. Selanjutnya klaster dari Lurah Petamburan Jakarta Pusat. Sebelumnya, di Petamburan terjadi perkumpulan masa untuk menghadiri pernikahan putri Habib Riziq sekaligus perayaan Maulid Nabi Muhammad.
Kemenkes juga menemukan klaster dari sekolah. Yakni klaster guru-guru di Gorontalo dan Bolango. Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menjelaskan bahwa Kemenkes juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk terus melakukan kesiapsiaagan peningkatan kasus. Caranya dengan meningkatkan kapasitas ruang isolasi dan ICU untuk perawatan pasien Covid-19.
Masyarakat juga terus diminta melaksanakan 3M dengan tertib. Menurutnya pembagian peran ini wajib dilaksanakan untuk memutus mata rantai penularan Covid-19. ” Pemerintah wajib melakukan 3T (Testing, Tracing dan Treatment, Red) sedangkan masyarakat wajib melakukan 3M (memakai masker, menjaga jarak aman dan mencuci tangan pakai sabun, Red),” tutur Terawan.
Menanggapi naiknya angka penularan beberapa waktu terakhir, Presiden Joko Widodo kemarin menggelar rapat kabinet terbatas bersama sejumlah pembantunya di Istana Merdeka. Dalam kesempatan itu, presiden meminta Mendagri untuk kembali mengingatkan para kepala daerah. Mereka harus betul-betul pegang kendali di wilayah masing-masing dalam rangka penanganan Covid-19. Tidak hanya dalam hal penanganan kasus, namun juga dalam mengatasi dampak ekonominya.
Presiden mengingatkan, saat ini ada dua provinsi yang menurut dia perlu perhatian khusus dalam penanganan pandemi. ’’Dalam minggu ini, dalam dua-tiga hari ini, peningkatannya sangat drastis sekali yaitu Jawa Tengah dan DKI Jakarta,’’ ujarnya.
Dia meminta jajarannya melihat kembali mengapa peningkatannya sangat drastis. Presiden merujuk data 29 November lalu, di mana kasus aktif di Indonesia naik menjadi 13,41 persen. Lebih tinggi dari rata-rata pekan lalu, di mana kasus aktif berada di angka 12,78 persen.
Begitu pula tren kesembuhan yang turun dari 84,03 persen menjadi 83,44 persen. ’’Ini semuanya memburuk,’’ lanjutnya. karena kasus yang memang meningkat di pekan-pekan terakhir. meskipun masih lebih baik dari rata-rata dunia, namun kenaikan angka kasus aktif dan penurunan angka kesembuhan tetap menjadi alarm bagi semua pihak.
Di Rumah Darurat (RSD) Sakit Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta sendiri. pasien positif Covid-19 juga kembali mengalir masuk dengan tren kenaikan setiap harinya. Pihak pengelola RSD pun mengkonversi Tower 4 yang sebelumnya adalah flat isolasi mandiri, menjadi rumah sakit perawatan untuk gejala ringan dan sedang.
Kepala Sekretariat RSD Covid-19 Wisma Atlet Kolonel Laut (K) dr RM Tjahja Nurrobi menjelaskan, sebelumnya Tower 4 dan 5 dipergunakan sebagai flat isolasi mandiri sementara Tower 6 dan 7 sebagai tempat perawatan. Namun saat ini, tempat perawatan menjadi Tower 4, 6 dan 7. Sementara Tower 4 tetap menjadi flat isolasi mandiri.
”Sejak seminggu lalu kita melihat bahwa ada tren penambahan jumlah kasus. Kurvanya semakin curam. Untuk itu, kemarin kira-kira 3 hari yang lalu koordinator RSD Wisma Atlit Mayjend TNI Gugus Tugas memerintahkan tower 4 untuk dipakai sebagai ruang perawatan,” katanya.
Nurrobi mengatakan, saat ini di RSD Wisma atlit merawat total 3.500 pasien. Namun ia menyebut bukan maslah prosetase maupun jumlahnya pasien yang mengkhawatirkan, tetapi kecepatan peningkatannya setiap harinya.
”Ini kita perlu antisipasi. Untuk yang isolasi mandiri sama juga kecepatannya. Saat ini kita masih dibantu dengan adanya wisma atlit pademangan ada beberapa hotel di DKI yang ditunjuk oleh dinas parekraf maupun dinas kesehatan DKI,” jelas Nurrobi.
Nurrobi menyebut saat ini flat isolasi mandiri (tower 4) sudah mencapai kapasitas 80 persen. Sementara ruang perawatan RSD telah mencapai 50 persen. ”Untuk di hotel-hotel yang sudah disiapkan dinas kesehatan maupun dinas parekraf DKI. Infornya ada beberap ayang sudah penuh juga,” jelasnya.
Meski demikian, wisma atlet saat ini kata Nurrobi mencatatkan 90 persen kesembuh. Meskipun pasien yang masuk akhir-akhir ini kecenderungannya lebih banyak dari yang keluar. ”Kalau kurvanya semakin curam, semakin cepat pertambahan pasien. Kita harus antisipasi dala m waktu cepat juga,” pungkasnya.
Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M. Faqih menyebut saat ini permasalahan utama penangana Covid-19 adalah laju penularan yang tidak bisa ditekan. Sementara untuk faktor lain sudah berjalan cukup bagus. Seperti contohnya penanganan.
”Kalau soal kesembuhan, kita ini bagus. Pasien yang dirawat bisa 83 persen lebih angka kematian bisa ditekan dulu pernah dari 9, 8 persen sekarang tinggal 3,1 persen. Upaya kita sudah bagus banget,” katanya.
Akan tetapi hal yang belum bisa dikontrol adalah laju penularan. Angka penularan terus berkembang. Ini kata Daeng adala masalah besar. Ditambah karakteristik virus Covid yang memang kecepatan penularannya. ”Bahkan beberapa ahli menyebut bahwa telah terjadi mutasivirus yang justru meningkatkan kecepatan penularan,” katanya.
Dari hasil penelitian, daeng menjelaskan, Covid-19 memiliki daya rusak yang rendah dibandingkan penyakit lain. Seperti flu burung, SARS, maupun MERS. Yang bahaya adalah kecepatan penularannya yang bisa mencapai 10 hingga 100 kali lipat dari penyakit-penyakit lainnya.
Mutasi ini kata Daeng sebenarnya tidak berpengaruh atau meningkatkan faktor keganasan virus atau kemampuannya menimbulkan kematian. Mutasi ini hanya berpengaruh pada peningkatan kecepatan penularan. ”Oleh karena itu penambahan kasus dengan kecepatan penularan yang terjadi ini karena masyrakat belum disiplin menghambat penularan,” jelasnya.
Daeng mengatakan, jika semua pihak tidak memiliki komitmen, beban rumah sakit dan tenaga kesehatan akan semakin berat. Daeng menyebut bahwa harusnya masyarakat terutama pimpinan-pimpinan dan tokoh yang didengarkan harus berkomitmen ”Ayolah kasih contoh kmitmen melakukan protokol kesehatan 3m. Kalau lengah, pimpinan tidak mencontohkan, mengkampanyekan, Kita khawatir semakin tinggi bukan semakin melandai,” kata Daeng.
Pada bagian lain, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menduga kenaikan kasus terjadi lantaran merebaknya kabar soal vaksinasi yang segera dilakukan. Hal ini kemudian membuat masyarakat lengah dan lalai dalam menjalankan protokol kesehatan. Dalam hal ini penggunaan masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalur, dan menjaga jarak.
Padahal, menurut dia, adanya vaksin bukan berarti Covid-19 telah bisa dikendalikan seratus persen. ”Yang penting sekarang menyadarkan kepada masyarakat bahwa yang namanya vaksin itu bukan senjata pemungkas yang betul-betul memungkasi Covid-19 ini,” ujarnya.
Karenanya, protokol kesehatan harus benar-benar ditegakkan. Hal ini wajib dilakukan guna mencegah penularan. ”Sebetulnya yang paling penting kembali kepada semula, yaitu disiplin masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan,” ungkapnya.
Dan salah satu yang utama ialah menghindari kerumunan di tempat tertutup dalam waktu yang lama. Dia mengungkapkan, berkumpul bersama banyak orang dalam waktu lama di ruang tertutup yang dilengkapi pendingin ruangan sangat berpotensi terjadi penularan. Apalagi, orang-orang tersebut banyak melakukan pembicaraan.
Kondisi itu memungkinan micro droplet bertebaran di udara dan terinkubasi dalam ruangan tersebut. ”Di situ beberapa kasus terjadi adalah kluster kecil dari pertemuan tertutup yang sembrono, yang tidak mau mematuhi protokol kesehatan,” keluhnya.
Oleh sebab itu, dia mewanti-wanti agar hal tersebut bisa dihindari. Sehingga, pencegahan penularan Covid-19 akan lebih mudah diatasi. ”Asalkan protokol lainnya juga dipatuhi. Pakai masker, cuci tangan juga,” sambungnya.
Seperti diketahui, pemerintah berencana segera mendistribusikan vaksin Covid-19 secepatnya. Targetnya, pada akhir tahun 2020 atau awal tahun 2021. Saat ini, pemerintah melakukan pengembangan vaksin melalui PT Bio Farma yang bekerja sama dengan perusahaan asal Tiongkok Sinovac Biotech. Kemudian, pemerintah juga tengah mengembangkan vaksin Merah Putih yang dilakukan oleh sejumlah institusi penelitian dan perguruan tinggi dalam negeri.
Untuk vaksin Covid-19 dari Sinovac, diketahui saat ini telah melalui uji klinis fase 3, dan sejauh ini aman dan tidak menunjukan efek samping. Sementara, vaksin Merah Putih masih melalui tahapan uji pra klinis. Rencananya, vaksin yang akan segera didistribusikan pemerintah adalah vaksin dari Sinovac yang telah mendapat predikat aman dalam pengujiannya.
Sebagai persiapan awal, pemerintah juga telah melatih 23.145 orang tenaga kesehatan untuk melakukan vaksinasi. Diharapkan, seluruhnya siap ketika vaksin sudah tersedia.
Vaksinolog dr Dirga Sakti Rambe mengungkapkan, saat memulai program vaksinasi nanti, menjadi sangat penting untuk memastikan proses distribusi vaksin guna menjaga kualitas vaksin. Sebagai produk biologi, vaksin diketahui sangat rentan terhadap perubahan suhu. Mayoritas vaksin harus disimpan di suhu 2-8 derajat celcius. ”Jadi perlu dijaga dari pabrik hingga puskesmas atau rumah sakit,” ungkapnya dalam diskusi FMB 9, kemarin (30/11).
Menurutnya, hal ini bukan hal baru untuk Indonesia. Karena sudah berpengalaman dalam program vaksinasi rutin. Terlebih, Bio Farma juga telah dikenal sebagai produsen vaksin dunia. Sehingga sudah memiliki sistim cold chain yang baik dan alat sesuai standar.
Bagi masyarakat, dokter spesialis penyakit dalam tersebut juga berpesan agar mulai mencari informasi soal vaksin dari sumber terpercaya. Jangan asal karena saat ini banyak sekali sumber informasi yang tidak benar.
Selain itu, kata dia, masyarakat harus memahami bahwa vaksin apapun yang sudah mendapat izin edar dari BPOM dapat dipastikan keamanannya. oleh karenanya, ketika vaksin sudah ada dan mendapat izin dari BPOM, masyarakat dihimbay tak ragu untuk divaksin sesuai anjuran pemerintah.
Meski begitu, harus dipahami bahwa amannya produk biologi pasti memliki efek samping. ”Jangankan vaksin,obat saja ada efek sampingnya. Bahkan, minum air putih pun yang berlebihan bisa berpengaruh pada ginjal,” tuturnya.
Namun, lanjut dia, harus digarisbawahi bahwa manfaat vaksinasi jauh lebih besar daripada efek sampingnya. Kemudian, kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) itu mayoritas bersifat ringan dengan reaksi local. Seperti kulit sekitar suntikan jadi kemerahan, sedikit bengkak, hingga demam. ”Demam ini juga merupakan tanda vaksin bekerja, jadi tidak perlu khawatir,” jelasnya.
Selain itu, tidak semua KIPI berkaitan dengan vaksinnya. Kadang, itu hanya berkaitan soal waktu saja. Lalu, setelah divaksin, berapa lama kekebalan muncul? Dirga mengatakan, kekebalan biasanya muncul dua minggu setelah vaksinasi. Vaksin yang masuk akan melatih sistem imunitas tubuh kita sehingga terbentuk antibodi. Untuk ketahanan vaksin sendiri tergantung jenis vaksin dan penyakitnya.
Disinggung soal beragam kandidat vaksin Covid-19 yang ada, Dirga mengungkapkan bahwa tak jadi masalah. Asal proses pengembangan sudah melalui ketentuan yang ada. Sehingga, keamanannya terjamin. ”Intinya, apapun itu harus dipastikan keamanannya dan disetujui WHO,” pungkasnya.(tau/lyn/byu/mia/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *