Di Mana Adilnya, Perajin Lokal Dilarang, Minuman Impor Bebas Dijual

Pekerja menyelesaikan proses pengolahan sisa sari tebu menjadi cairan alkohol di kawasan perumahan warga di Desa Bekonang, Solo, Rabu (18/11/2020). Sejak Pandemi Covid-19 melanda, pembelian alkohol murni malah menurun drastis hingga 75%. Hal ini disebabkan makin banyaknya perusahaan besar yang memproduksi hal sejenis dengan kualitas lebih baik dan harga yang lebih murah. FOTO: HENDRA EKA/JAWA POS

Daerah-Daerah yang Akrab dengan Minuman Beralkohol 

Dikenal sebagai desa ciu, sudah lama warga Bekonang beralih jadi perajin etanol. Tapi, masih ada yang sembunyi-sembunyi bikin ciu karena proses lebih ringkas dan modal cepat kembali.

ILHAM WANCOKO, Sukoharjo, Jawa Pos

GANGSI tetes tebu semerbak begitu melewati gapura bertulisan Desa Bekonang. Dalam jarak beberapa puluh meter, bau itu masih terus tercium. Tak menusuk hidung, malah terbayang manisnya gula.
Puluhan drum juga tampak di halaman rumah-rumah di desa itu. Drum-drum tersebut digunakan untuk menempatkan tetes tebu yang difermentasi menjadi ciu. Bekonang memang beken dikenal sebagai ”Desa Ciu” sejak zaman Belanda.
Bahkan, ada yang menyebutnya jauh sebelum itu. Ciu produk Bekonang disajikan untuk petinggi-petinggi keraton. ”Memang sudah turun-temurun pembuatan ciu di Bekonang ini,” tutur Ketua Paguyuban Etanol Bekonang Sabariyono kepada Jawa Pos.
Sabariyono mengakui bahwa tata cara membuat ciu diajarkan oleh orang tuanya. Dulu fermentasi tetes tebu menjadi ciu itu dengan menggunakan gentong yang ditanam di tanah.
”Beda dengan sekarang yang memakai drum plastik. Setelah saya, nanti dilanjutkan anak saya,” ujarnya kemarin (30/11).
Minuman fermentasi khas Jawa dikenal dengan berbagai nama. Mulai ciu, tuak, hingga arak. Tercatat dalam kitab Negara Kertagama bahwa dalam tiap pesta di Kerajaan Majapahit tersedia berbagai jenis minuman berfermentasi.
Sejarawan Wenri Wanhar menuturkan, dalam Prasasti Alasantara, minuman beralkohol (mihol) itu disebut dengan nama tuak. ’’Dalam prasasti lainnya juga disebut sebagai cinca dan siddhu,” katanya.
Penjualan ciu di Bekonang mengalami masa keemasan sebelum 1980. Sesudahnya berangsur-angsur perajin ciu beralih membuat etanol atau alkohol untuk kepentingan medis.
”Peralihan ini karena banyak alasan, dari banyaknya perguruan tinggi membantu membuat etanol hingga persoalan legalitas,” ujarnya.
Meski begitu, proses peralihan itu tetaplah ’’berdarah-darah”. Sabariyono menceritakan sudah tidak bisa menghitung berapa kali terjadi penangkapan pembuat ciu. ”Kalau di Bekonang penangkapan terbaru sekitar beberapa bulan lalu,” tuturnya.
Masih adanya warga yang membuat ciu untuk minuman bukan tanpa sebab. Menjual ciu membuat perajin lebih cepat balik modal. ”Karena bisa dibilang lebih cepat membuat ciu dan pasti ongkos lebih murah,” tuturnya.
Untuk membuat ciu, hanya dibutuhkan waktu sekitar tujuh hari. Dengan melakukan fermentasi pada tetes tebu. Sedangkan untuk membuat etanol, dibutuhkan waktu sekitar sepuluh hari hingga sebelas hari. ”Kalau menjual ciu, memang modal lebih cepat kembali,” jelasnya.
Dalam prosesnya, dari tetes tebu, sebelum menjadi etanol mesti melewati tahapan jadi ciu dulu. Untuk sekitar 50 liter tetes tebu, bisa dihasilkan 25 liter hingga 30 liter ciu dengan kadar alkohol 30 persen.
Nah, setelah diproses kembali, hanya dihasilkan sepuluh liter etanol atau alkohol dengan kadar lebih dari 90 persen. ”Tapi, harga etanol atau alkohol medis memang lebih mahal juga,” tuturnya.
Mungkin itulah yang membuat masih ada warga yang sembunyi-sembunyi memproduksi ciu untuk mihol. Bahkan dengan berbagai variasi. ”Masih ada, tapi bukan anggota paguyuban,” jelasnya.
Peralihan pembuatan ciu ke etanol itu lebih cepat dengan adanya bantuan pemberian alat produksi dari sejumlah perguruan tinggi. Dia mencontohkan, beberapa tahun lalu ada pemberian alat pengubah ciu menjadi etanol dari Universitas Muhammadiyah Surakarta. ”Itu sangat bermanfaat,” jelasnya.
Namun, peran pemerintah untuk mendukung peralihan itu masih minim. Selama ini yang membuat perajin ciu mentok adalah pemerintah setempat tidak memberikan izin produksi minuman beralkohol. ”Peralihan ini salah satunya karena itu,” urainya.
Pernah pula warga berupaya membuat bioetanol yang bisa digunakan sebagai bahan bakar. Tapi, harga jualnya tidak mampu bersaing dengan bahan bakar lainnya.
Biaya produksi per liter bioetanol sekitar Rp 30 ribu. ”Harga bensin di Indonesia kan sudah tahu sendiri lebih murah,” jelasnya.
Distribusi etanol juga dipikirkan warga. Dia menuturkan, warga berupaya menjualnya ke perusahaan-perusahaan, rumah sakit, hingga puskesmas. ”Kami berharap ada dukungan lebih dari pemerintah,” tuturnya.
Tapi, ada semacam ketidakadilan yang dirasakan warga Bekonang. Kala perajin ciu lokal dilarang menjual, minuman beralkohol impor justru bebas diperjualbelikan. ”Itu yang jadi perhatian,” jelasnya.
Dulu semua warga Bekonang merupakan perajin ciu, kini semua anggota Paguyuban Etanol Bekonang hanya memproduksi etanol. Ada 50 perajin etanol di Bekonang.
Yang pasti, kalau ada yang menjual ciu untuk mihol, harus ditanggung sendiri risikonya. ”Tidak ada urusannya degan paguyuban,” ujarnya.
Begitu pula dengan tradisi di Bekonang, sudah tidak ada lagi acara adat istiadat atau sekadar kumpul-kumpul yang mengharuskan untuk menyediakan ciu. Hanya segelintir warung remang-remang yang menyediakan ciu sebagai pelampiasan anak muda. ”Biasanya yang mencari kan anak muda,” katanya.
Soal RUU Mihol, Sabariyono menuturkan, ada kekhawatiran terjadi pengangguran akibat UU tersebut. Karena mau tidak mau, memang ada warga yang akan kehilangan pendapatan. ”Sedangkan di satu sisi, peralihan dari mihol ke etanol belum mendapat dukungan maksimal dari pemerintah,” jelasnya. (*/c7/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *