Sejumlah Mahasiswa Papua di Ambon Diintimidasi

Aparat mendesak masuk rumah kontrakan mahasiswa Papua di Ambon, Senin (30/11) tengah malam. Foto: Natan for Cepos

Didatangi Aparat Tengah Malam, Memaksa Masuk Rumah dengan Alasan Pendataan

AMBON – Sejumlah mahasiswa Papua yang berkuliah di Ambon, mendapatkan intimidasi dari aparat keamanan, dan warga sejak Senin (30/11) tengah malam hingga Selasa (1/12). Akibatnya, Karena disekitar tempat tinggal mereka diawasi dan dijaga oleh aparat dan warga, sebanyak 22 mahasiswa asal Papua yang ada di rumah tersebut tidak bebas keluar dan hanya terkurung didalam rumah di rumah kontrakan Jaya Wijaya atau Honai Ambon yang mereka tempati di  Desa Wayame Kecamatan Teluk Ambon RT 06, Kota Ambon.

Natan Weya, salah seorang mahasiswa  kepada Cenderawasih Pos menyampaikan, bahwa sekitar pukul 22.21 malam, Senin (30/11), ketika mereka sedang mempersiapkan perlengkapan aksi, mereka tiba-tiba didatangi ketua RT setempat, Bhabinkamtibmas, aparat dari TNI dan Polri berseragam, ada juga aparat tidak berseragam ( Intel), oknum dosen Unpatti dan beberapa warga.

“ Mereka datang, mendesak masuk dan berdiri di depan pintu menanyakan berapa orang yang didalam asrama, juga bertanya selain orang Papua, apakah ada orang lain?”. Kemudian teman-teman Papua menanyakan alasan kedatangan mereka yang bertamu larut malam,” ujar  Nathan dalam pesannya WA nya.

Perdebatan mulai terjadi, ketika ketua RT, oknum dosen wanita dari Unpatti, aparat kepolisian dan TNI dan babinkamtibmas memaksa masuk ke ruang tamu. Ketika didesak mengapa memaksa masuk, Bhabinkamtimas mengatakan mereka mau mendata. Yang aneh menurut para mahasiswa, pendataan dilakukan tengah malam oleh beberapa orang termasuk aparat, yang seharusnya hanya cukup RT saja.

Dikatakan, provokasi juga dilakukan oleh pihak aparat untuk membenturkan teman-teman Papua dengan warga seperti kata-kata yang mereka dengar, diantaranya ‘tidak memperingati 17 Agustus’, ‘tidak ada yang di anak tirikan di bangsa ini’, ‘tidak tahu terimakasih’. Juga kalimat makian seperti “semerlap” yang diartikan sebagai kata “biadab”.

Kata Nathan, hingga pukul 00.33 WIT, asrama Honai Papua masih terus dikepung atau kelilingi, dijaga oleh aparat yang terus berdatangan, memantau dan berjalan di depan asrama Honai. “ Kami berada di dalam asrama Honai dan tidak bisa keluar.

“ Sejak malam tadi, perdebatan dengan Bhabinkamtibmas, RT, Tentara, Intel, Polisi, Kami tidak bisa tidur hingga pagi ini, apalagi terjadi pelemparan batu ke asrama Honai oleh orang tidak dikenal pada pukul 03.41 WIT. Teriakan, cacian dan makian kepada kami untuk segera keluar dari Honai,” terangnya.

Dikatakan, hingga Sealsa ( 1/12) pagi,  mereka masih didalam Honai, terkurung dan tidak bisa keluar. “ Persediaan air minum kami habis, untuk beli makan pun tidak bisa, karena sekitaran Honai dikepung, dijaga aparat TNI/Polri,” katanya.

Mereka minta pantauan dari semua pihak terhadap kondisi mereka di Ambon. (luc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *