Pansus DPRP Akan Kunjungi Korban Selamat

JAYAPURA-Kejadian penembakan warga sipil di Kabupaten Puncak pada 19 November lalu dimana salah satu korbannya adalah anak sekolah ditambah insiden yang sama beberapa hari sebelumnya mendapat respon dari Pansus Kemanusiaan DPR Papua. Pansus menyatakan akan mendalami kasus ini dengan meminta keterangan dari korban yang masih dirawat di rumah sakit termasuk mengambil keterangan dari pemerintah dan masyarakat di Puncak.
Intinya Pansus mengecam insiden tersebut siapapun pelakunya. Pernyataan ini juga disampaikan pimpinan DPRP, Yulianus Rumboirusy yang memimpin jumpa pers, Kamis (26/11) malam. Rumboirusy menyampaikan bahwa pihaknya menyampaikan keterangan berkaitan penembakan di Kabupaten Puncak 19 November 2020 dimana adanya aspirasi dari masyarakat yang disampaikan mahasiswa asal Puncak pada 25 November lalu dan diterima sebagian anggota Komisi I dan Pansus Kemanusiaan yang kemudian dilakukan rapat Pansus hingga memperoleh kesimpulan.
“DPRP sampaikan prihatin atas terjadinya tragedi kemanusiaan yang kembali terjadi di Papua. Kami sampaikan duka cita mendalam karena ada warga sipil termasuk pelajar yang menjadi korban dari kejadian tersebut,” kata Rumboirusy membacakan pernyataan sikap.
Kedua pihaknya mengutuk tindakan penembakan hingga terjadi korban meninggal dan ada yang dirawat. Siapapun pelakunya dan alasan apapun tetap tidak dibenarkan. DPRP kata politisi PAN ini meminta aparat kepolisian dan Komnas RI untuk melakukan investigasi secepatnya untuk diketahui siapa aktor di balik penembakan tersebut.
“DPR akan mengawal proses tersebut. Pansus kemanusiaan akan mengunjungi pasien yang masih dirawat. Termasuk meminta keterangan dari pemerintah setempat maupun warga agar ada penyelesaian yang bermartabat. Kami minta semua pihak harus menahan diri tidak mengedepankan kekerasan karena hanya menambah korban warga sipil,” tegasnya.
DPRP akan mendatangi pemerintah dan masyarakat untuk mendapatkan informasi sehingga DPRP akan memiliki bahan terkait kasus tersebut.
Sementara Ketua Pansus Kemanusiaan, Feryana Wakerkwa didampingi anggota pansus, Paskalis Letsoin menyampaikan bahwa jika pihak kepolisian menginginkan dilakukan otopsi maka hal tersebut dirasa akan sulit. Terlebih jika korban sudah dimakamkan. “Saya pikir ini sulit mengingat itu dianggap bertentangan dengan budaya dan kami orang gunung dimana jika sudah dimakamkan kemudian digali lagi maka ini ibarat akan ada lagi yang mati,” bebernya.
Disinggung wartawan bahwa catatan akhir tahun sejak 2014 hingga kini selalu saja terjadi kekerasan kemanusiaan, Rumboirussy enggan berspekulasi. DPRP kata dia tidak mau menjustifikasi selalu terjadi diakhir tahun karena sekalipun kecenderungan ke arah itu ada. “Yang pasti namanya musibah dan kejadian seperti ini tidak pernah diinginkan siapapun. Kami sendiri akan merangkum apa yang dihasilkan Pansus untuk selanjutnya mengeluarkan keputusan lembaga,” imbuhnya.(ade/oel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *