Parang Nias Tiba – tiba Bertemu Tifa Kayu Batu Jadi Satu di Panggung

Para penari dari Minahasa, Sulawesi Utara  berbaur dengan penari dari Kayu Batu, Jayapura sambil mengikuti irama musik yang dimainkan penari asal Kayu Batu pada penutupan festival hari ketiga, Kamis (26/11) kemarin. (Gamel Cepos)

Menyaksikan Festival Seni Pertunjukan Tradisional yang Menjual Namun Minim Dukungan Daerah

Sudah beberapa kali ditulis bahwa persoalan seni budaya di Papua nampaknya tak beda jauh satu dan yang lainnya. Umumnya terancam punah dan mulai sepi penerus. UPTD Taman Budaya mencoba mengumpulkan guna menjaga asa.

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura

Festival seni pertunjukan tradisional tahun 2020 dimainkan selama 4 hari sejak hari Selasa hingga Jumat (hari ini) dan tercatat ada 20 tim  tari dari berbagai provinsi dan daerah yang dimainkan. Tak hanya dari Papua sebagai tuan rumah tetapi ada juga dari Bali, Nias, Ambon hingga Batak.

  Sejatinya ini jika ditonton oleh anak – anak sekolah atau kuliah tentunya bisa memberi warna baru tentang betapa kayanya budaya di Indonesia dimana jika selama ini tarian tor tor hanya bisa dilihat di tv maupun youtube namun kini bisa disaksikan langsung secara gratis.

Begitu juga dengan tari Dao Bulan dari Toraja yang hanya bisa dilihat di rumah adat Tongkonan namun kali ini ditunjukkan juga secara gratis. Hanya sayangnga kondisi pandemi covid ditambah dengan tak adanya dukungan anggaran dari pemerintah provinsi membuat pelaksanaan event seni budaya yang dilakukan UPTD Taman Budaya juga tak terlalu memiliki greget.

  Hanya mengandalkan dukungan dana alokasi khusus (DAK) dari pemerintah pusat sebesar Rp 1,3 miliar, UPTD Taman Budaya harus menggelar event seni dengan mendatangkan 20 tim dari berbagai suku di Indonesia untuk menari dan tanpa embel embel lainnya.

Kepala UPTD Taman Budaya, Herman Saud S.Pd, M.Sc menyampaikan bahwa pihaknya belum bisa berbuat banyak karena minimnya dukungan anggaran. Dua tahun terakhir ia hanya mengelola anggaran Rp 1,2 miliar di tahun 2019 dan Rp 1,3 miliar di tahun 2020. Alhasil hanya empat program yang bisa dilaksanakan dengan suasana biasa biasa saja.

Sementara dari penampilan yang dimainkan berbagai tim tari daerah mendapat sambutan yang hangat dari pengunjung.  Disini juga para peserta semua menggunakan bahasa daerah asal sehingga menambah kuat pesan tarian yang dibawakan.

Satu tarian  dari Minahasa, Sulawesi  Utara juga terlihat gagah dimana para penarinya mengenakan kostum dominan berwarna merah sambil memegang parang panjang yang dibuat dari kayu. Tak hanya parang, ada juga tombak. Tari Kabasan yang dibawakan terlihat apik dengan teriakan – teriakan spontan para penarinya.

Tari ini sendiri adalah tarian tradisional yang merupakan tarian perang masyarakat Minahasa dan cukup terkenal di kalangan masyarakat Minahasa. Makna dari Tari Kabasan sendiri diambil dari kata Wasal yang artinya ayam jantan dimana bagi masyarakat Minahasa ayam jantan merupakan simbol keberanian atau kejantanan/ Ini bisa  dilihat dari wajah para penari saat menari dengan ekspresi wajah garang, jantan gagah berani. Kata  Wasal kemudian disebut dengan kawasalan yang artinya menari seperti ayam jantan yang sedang bertarung. Namun seiring perkembangan bahasa melayu, katas Kawasalan ini berubah menjadi Kabasaran yang memiliki arti tetap sama.

Menariknya  diakhir acara Kamis kemarin, masyarakat dari suku Kayu Batu memainkan tarian Hou Nena yang berisi cerita tentang tembikar. Tembikar atau sempe memiliki makna kehidupan bagi masyarakat Kayu Batu. Dan dengan membuat sempe inilah masyarakat bisa ke kampung – kampung di teluk Youtefa dan Humbold bahkan sampai ke PNG.

Nah disaat akan  bubaran ini masyarakat Kayu Batu kembali memainkan tarian tersebut dan direspon  tim tari daerah lain sehingga terlihat panggung dan pelatarannya ramai dengan penari yang memainkan tariannya masing – masing. Disini penari dari Minahasa akhirnya ikut bergabung dalam tarian Hou Nena dengan atribut masing – masing. Yang terlihat adalah pedang, perisai dan tombak  dipegang dengan wajah sangar namun mengikuti irama tarian dari Kayu Batu. Alhasil pedang, perisai dan tombak langsung berkolaborasi dengan tifa serta triton yang dibunyikan penari asal Kayu Batu.

Usman Muhamad menyampaikan jika tahun 2019 kemarin pihaknya hanya melibatkan suku asli dalam festival, ditahun ini pihaknya merangkul suku – suku lain se nusantara.  Panitia ingin perkenalkan generasi muda agar tak hanya tahu soal budaya di Papua melainkan mengenal budaya dari luar.  “Tahun ini cukup berwarna karena tarian dari teman – teman nusantara juga banyak. Semoga bisa dikembangkan  dengan mengundang tim dari daerah lain. “Memang agak sulit juga sebab kegiatan kami selalu dipotong karena ada PON. Kami jalankan dengan kondisi yang ada dan kami tidak mengelola dana APBD melainkan hanya dana DAK. Ini juga yang jadi penyebab karena kami dikatakan  sudah menerima dan DAK sehingga APBD tidak lagi diberikan,” pungkasnya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *