Zaman Boleh Modern, Seni Budaya Harus Terus Membumi

Satu grup tari dari Arso Kabupaten Keerom menampilkan tarian Jejer Gandrung asal Jawa Timur pada Festival Seni Pertunjukan yang dibuka mulai Selasa (24/11) kemarin.  Ada 20 suku se nusantara akan ambil bagian dalam event ini. (Gamel Cepos)

JAYAPURA – Agenda Festival Seni Pertunjukan Tradisional tahun 2020  yang digelar UPTD Taman Budaya Provinsi Papua benar – benar menjadi  panggung pertunjukkan bagi kelompok seni tari dari berbagai suku yang mendiami Jayapura, Keerom maupun Kabupaten Jayapura. Satu persatu tarian dari  berbagai  suku di Indonesia menunjukkan ragam tarian dengan berbagai pesan. Tak hanya dari Papua tapi ada juga dari Sumatera Utara, Jawa Timur termasuk Bali, Toraja, Manado dan NTT.

Kepala Dinas  Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua, Yimin Weya S.Pd, M.AP   mengungkapkan bahwa event ini menunjukkan kebhinekaan dan pluralisme masyarakat yang ada di Papua sebagai bangsa yang majemuk. Ia menyebut sebagai anak bangsa siapa saja wajib melestarikan ini agar tidak punah ditelah kemajuan zaman. Zaman boleh modern tapi seni adat istiadat dan budaya harus terus melekat sebagai jati diri  dan menjadikan semuanya sebagai warisan leluhur yang patut dijaga. “Sekali lagi saya tekankan bahwa budaya dan adat serta seni jangan terkikir karena zaman. Zaman akan terus berkembang namun nilai – nilai budaya patut dipertahankan,” jelas Yimin membuka festival seni pertunjukan tradisional di Taman Budaya Papua, Expo Waena, Selasa (24/11).

Dikatakan festival seni budaya ini menjadi satu upaya pemerintah pusat membantu pemerintah daerah melalui dana DAK non fisik untuk terus mengembangkan potensi yang ada.  “Harus diakui bahwa saat ini masyarakat kita tengah dibanjiri produk – produk dari negara – negara besar dan ini mau tidak mau akan mempengaruhi perkembangan seni tradisional dari segi fungsi dan nilai ritualnya karenanya event seperti ini perlu terus dilakukan dan digelar diberbagai tempat termasuk di kabupaten kota,” sambungnya. Ia memberi garis besar bahwa menjadi penting untuk mewariskan tradisi seni dan budaya hingga ke anak cucu agar tidak lupa akibat perkembangan zaman tadi.

Sementara Ketua Panitia, Usman Muhamad S.IP menyampaikan bahwa tercatat ada 20 suku yang sudah menkonfirmasi akan menampilkan tariannya dan event ini akan digelar hingga 27 November 2020. “ Tujuan event ini adalah memperkenalkan kepada masyarakat luas bahwa kelompok – kelompok kesenian etnik di Papua masih hidup dan berkembang dengan baik  lalu untuk menambah wawasan dan khasanah budaya bangsa agar lebih menghargai kesenian dan karya bangsa sendiri termasuk meningkatkan kualitas pengelolaan taman budaya agar memenuhi standart pelayanan teknis sesuai perundang – undangan,” jelas Usman.

Yang ditampilkan pertama kemarin adalah tarian Wor dari suku Biak, Tari Tor tor dari Suku Batak, Tari Jejer Gandrung dari Jawa Timur, Tari Akhoi – akhoi dari Kampung Yokiwa Sentani dan tari dari Kemtuk Gresi. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *