Nenu Tabuni: 5 Keluara Kami yang Ditembak Mati Bukan OPM atau KKB

ilustrasi

JAYAPURA – Kejadian penembakan terhadap warga di Kabupaten Puncak, tidak saja terjadi terhadap 2 pelajar Atanius Murib (16) korban tewas dan Manus Murib (16) korban selamat yang berhasil dievakuasi ke di RS Timika untuk mendapat perawatan intensif, namun ada penembakan lainnya yang menewaskan 2 siswa dan seorang ASN di lokasi yang  berdekatan di hari yang sama.

Ketiganya dilaporkan hendak pulang dari Kampung Agandugume  menuju Ibu Kota Ilaga. Di tengah jalan, mereka ditembak. Tepatnya di Puncak Belantara Limbaga antara Distrik Agandugume dan Distrik Gome Utara.

Secara keseluruhan, ada 5 korban penembakan pada Jumat (19/11), 4 koran tewas dan 1 berhasil selamat.

Korban tewas yakni,  1.  Atanius Murib, (siswa kelas III SMK Negeri I Ilaga Kabupaten Puncak). 2. Akis Alom (34,) seorang ASN Pemda Kabupaten Puncak. 3. Wenis Wenda (13), siswa kelas VI SD YPPK Katolik Mundirok  Kampung Yaiki, Distrik Gome Utara, 4. Gopenus Tabuni (19) siswa kelas III SMK Negeri I Ilaga, sedangkan  korban selamat, Manus Murib, (16) siswa kelas III SMA Negeri I Ilaga  (keadaan kritis dilarikan ke rumah sakit Timika).

Nenu Tabuni mewakili keluargga mengatakan bahwa 5 orang korban penembakan, dimana 4 orang adalah anak sekolah dan 1 orang adalah seorang ASN yang diduga di tembak aparat bahwa kelima korban adalah masyarakat sipil dan bukan TPN – PB atau kelompok bersenjata.

Kepada Cenderawasih Pos, Nenu Tabuni mewakili keluarga meminta kepada Kapolda Papua, Pangdam XVII/Cenderawasih, dan Ketua Komnas HAM RI Perwakilan Provinsi Papua di Jayapura bahwa semua korban Penembakan (5 orang dimana 4 orang adalah anak sekolah dan 1 orang adalah seorang ASN Pemda Kabupaten Puncak) tidak terlibat dalam Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau sebutan lainnya.

” Mereka adalah benar-benar anak sekolah dan 1 orang adalah seorang ASN. Tetapi aparat dengan membabi buta menembak keluarga kami tanpa ditanya identitas mereka. Mereka bukan OPM, mereka bukan KKB, mereka bukan OTK,” katanya menyesali tindakan tersebut.

Untuk itu, keluarga benar-benar kecewa dan sedih tindakan aparat yang melakukan sewenang-wenang menghilangkan nyawa keluarganya.

” Tindakan aparat selalu dianggap Orang Papua adalah kelompok kriminal bersenyata seperti ini, kami keluarga tidak terima dan tidak dibenarkan diatas muka bumi ini,” katanya.

Untuk itu pihaknya meminta adanya bantuan hukum dari semua lembaga bantuan hukum dan Komnas HAM untuk melihat persoalan ini dan melakukan proses hukum secara adil dengan mengungkap kebenarannya.

“Untuk itu, Kami keluarga meminta dan menuntut kepada Aparat Penegak Hukum segera membentuk Tim dan turun kelapangan melakukan investigasi dan proses hukum terhadap Aparat yang melakukan penembakan keluarga kami,” katanya, (oel).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *