Buka 4 Ha Untuk 15.000 Bibit Kopi Arabika Wamena

TANAM KOPI: Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua, SE., M.Si., didampingi istri bersama Forkopimda dan masyarakat  melakukan penanaman 15.000 bibit kopi di lahan seluas 4 Ha di Distrik Pyramid, Kabupaten Jayawijaya. ( FOTO: Denny/ Cepos)

WAMENA-Sebanyak 15.000 bibit tanaman kopi ditanami di lahan seluas 4 hektar oleh Pemda Jayawijaya bersama masyarakat di Distrik Pyramid, Selasa (24/11) kemarin.

Tanaman kopi ini terus dikembangkan karena memiliki prospek yang bagus untuk petani. Selain itu,  pemerintah daerah juga telah mengantongi izin dari Kemenkumham untuk membuat satu brand guna melindungi kopi Wamena.

Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua, SE., M.Si., mengatakan, pemerintah melihat potensi kopi yang ada di Jayawijaya ini sangat baik dan hasilnya juga cukup menjanjikan bagi petani kopi. Oleh karena itu untuk mengembangkan produksi kopi, Pemda Jayawijaya sudah membuka 4 hektar lahan yang bakal ditanami 15.000 bibit kopi untuk terus dikembangkan.

“Kami akan minta ke dinas terkait untuk juga mengembangkan kopi di distrik yang lain. Jadi bukan hanya di Distrik Pyramid saja untuk bisa mengembangkan kopi, karena kita tahu potensi untuk kopi ini sangat bagus,” ungkapnya kepada awak media di sela-sela penanaman bibit kopi, kemarin.

Bupati Jhon Banua mencontohkan petani kopi bapak Dani dan ibu Tersina di Distrik Pyramid yang setiap minggu bisa menghasilkan kopi sekira 600-700 Kg. Bahkan ibu Tersina menurutnya memiliki petani binaan di Pyramid, Bolakme dan Yalengga. Dia juga merupakan pengepul kopi dari ketiga wilayah tersebut untuk dipasarkan.

“Saya kira untuk hasil kopi yang ada dari petani di Jayawijaya ini, kita masih bisa dipasarkan dengan harga yang cukup bagus. Untuk itu, salah satu petani kita di Pyramid ini masih bersemengat untuk menjadi pengepul kopi di beberapa distrik,” jelas Jhon Banua.

PETIK CABE: Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua, SE., M.Si., bersama istri sejumlah ibu-ibu saat berada di kebun cabe di sela-sela kegiatan penanaman 15.000 bibit kopi. ( FOTO: Denny/ Cepos)

Ia juga mengaku jika sekarang semua kafe yang ada di Wamena rata-rata menggunakan kopi Wamena sebagai bahan dasar membuat minuman dari kopi.

Adapun jenis kopi yang ditanam ini merupakan jenis kopi Arabika. Kopi ini dipilih karena hanya bisa didapatkan di dataran tinggi.

Untuk melindungi produksi kopi lokal, Bupati Jhon Banua mengaku telah memiliki brand sendiri. “Kita sudah memiliki izin resmi untuk brand Kopi Wamena dari Kementrian Hukum dan HAM. Mungkin nanti kita akan tingkatkan dalam label dan kemasan tersendiri sehingga tak bisa diciplak oleh orang lain,” ucapnya.

Dirinya mencontohkan di Jakarta, dimana ada yang mengklaim kopi dari Wamena dan masuknya banyak dengan jumlah besar. Namun sesungguhnya diketahui produksi kopi Wamena tidak sebanyak itu. Hal seperti ini yang sangat tidak diinginkan, dimana ada pihak yang  menggunakan nama Kopi Wamena namun bukan kopi dari Wamena.

“Setelah kami punya izin resmi Kopi Wamena dari Kemenkuham, saya sudah minta kepada dinas terkait untuk melihat harga kopi. Khusus kopi Wamena supaya ada satu standar harga. Kasihan kalau petani bisa menjual kepada pedagang yang lain dengan harga Rp 50.000 atau Rp 70.000 perkilogram. Ini yang kita jaga agar harganya itu merata,” tandasnya.

Bupati memastikan, jika harga kopi ini sudah sesuai dengan standarnya atau diberikan harga yang bagus, mungkin lahan kopi masyarakat yang tak pernah diurus bisa kembali dibersihkan dan dikembangkan lagi. Sementara untuk harga yang sekarang, pemerintah membeli dari petani dengan harga  Rp 110.000 dalam bentuk biji kopi khusus dari petani Jayawijaya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya J. Hendry Tetelepta mengatakan untuk kopi di Jayawijaya merupakan Kopi Arabika dengan kwalitas S-795.

Penanamannya menurut Hendry Tetelepta masih menggunakan metode jarak tanam organik 2,5 x 2,5 meter, dimana petani tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimia.

“Kalau metode jarak tanam  organik ini terus digunakan maka kadar kesuburan tanah akan berkurang sehingga kalau ditanami lagi jaraknya harus diperlebar. Artinya dalam lahan seluas 1 hektar itu idealnya tanaman kopi yang ditanam 1.000 pohon,”tutupnya. (jo/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *