Keluarga Korban Menuding Aparat yang Lakukan Penembakan

ilustrasi

SEEMENTARA itu, Julinus Murib yang mengaku mewakili keluarga korban menuding aparat keamanan yang melakukan penembakan terhadap korban.

Julinus Murib saat bersama keluarga besar berkumpul membicarakan kasus ini Minggu (22/11) mengatakan, keluarga mereka yang ditembak tersebut bertujuan melakukan perjalanan dari ibu kota Ilaga  ke Distrik Agandugume. Mereka melalui rute jalan darat yang sudah menjadi kebiasaan masuarakat melintas namun mereka di tembak mati.

“Karena libur mereka ke kampung di Agandugume. Sampai di satu bukit di perjalanan dan anggota TNI tembak mereka, satu meningal di tempat dan satunya meloloskan diri jadi masih hidup,” ungkapnya.

Dirinya menuding sebelumnya TNI telah mengambil tempat tersebut dengan mendarat menggunakan helikopter dan menempatkan posisi di tempat sehingga mereka melakukan penembakan kepada warga yang sebenarnya merupakan tempat mereka melintas sejak turun-temurun.

“Aparat langsung  tembak yang di depan dan kena adik saya Tenius Murib langsung meninggal di tempat. Sementara yang satunya, berhasil menyelamatkan diri,” ungkapnya.

Meski sempat melarikan diri, namun korban yang berhasil lolos tersebut ditangkap aparat. Dirinya menyebutkan aparat diduga melakukan rekayasa menaruh pistol di perutnya dan melakukan foto untuk mengalihkan informasi bahwa korban adalah KKB. Namun karena korban yang melihat senjata tersebut langsung kabur hingga ke bawah sungai dan melarikan diri sampai di ibukota Ilaga dengan keadaan luka.

Korban Manus Murib menurutnya berhasil menyampaikan kepada keluarga dan mendapat perawatan medis.

“Mereka sengaja alasan tangkap adik (Manus Murib) yang hidup ini, baru mereka taruh senjata di badan anak muda ini. Karena malas, dia merontak dan langsung lari ke arah kali dengan harus terguling-guling dan koprol hingga tiba di sungai hingga berhasil lolos ke keluarga dan menelpon kami semua. Kami mengumpulkan keluarga lainnya dan anak ini dikirim ke Timika untuk mendapat perawatan,” bebernya.

Tak hanya itu keluarga korban juga menjelaskan bahwa juga terjadi penembakan terhadap tiga orang yang hendak pulang dari Kampung Agandugume menuju Ilaga. Ketiganya keluarga korban ditembak di lokasi yang sama.

“Ada tiga orang pada hari yang sama mereka dari Distrik Agandugume  yaitu Aki Alom PNS Pertanian, Wapenus Tabuni (17) siswa Sekolah Alkitab dan  yang kecil satu Warius Murip (12 Tahun) murid SD di Agandugume. Tiga orang meningal dunia langsung, jadi yang ditembak mati semua ada 4 orang. Satu masih hidup yang melarikan diri sementara dirawat RSUD Timika,” ungkap Julinus Murib yang mengaku mendapat informasi langsung dari rekan sejalan korban yang memilih jalan potong hingga selamat sampai di Ilaga.

“Kami keluarga korban minta kepada pemerintah dan tim Kapolres dan juga aparat TNI yang ada di lokasi kejadian untuk berikan akses kepada kami untuk melihat keluarga. Karena budaya kami harus kami kubur atau bakar mayat mereka. Jadi saat ini kami keluarga sedang kumpul untuk berbicara hal ini agar mereka segera dibakar,” paparnya.

Dia juga mengatakan pihak keluarga tidak membuka ruang kepada siapapun untuk memberikan keterangan terkait penembakan. Karena yang menjadi saksi sementara dirawat di rumah sakit sehingga semua peristiwa ini akan dijelaskan oleh saksi secara rinci maka aparat kepolisian ataupun TNI diharapkan untuk tidak menyimpan informasi yang sepihak.

“Sempat mereka datang minta data, kami keluarga tolak dengan tegas. Karena saya katakan bahwa kalian biasa ambil data, tapi biasa buat propaganda di media maka kami semua larang tegas. Tidak ada  yang diberikan izin mengambil data di keluarga korban. Dan 4 orang yang ditembak ini sementara mayat masih di hutan diatas di belantara,” bebernya.

“Kami minta segera bentuk tim dan kita pergi bakar jenazah. Kita harus pergi lihat, jadi tolong jangan halangi dan pemerintah dalam hal ini bupati harus bicara ini,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *