Kampung Nelayan Mulai Tak Menarik

Kondisi jembatan besi di Kampung Nelayan, Hamadi yang terlihat rusak dan membahayakan pengguna jalan saat dilewati seorang warga pada Jumat (20/11). Tak hanya jembatan yang rusak, di lokasi ini juga banyak sampah plastik yang terbuang ke dalam air. (FOTO : Gamel/Cepos)

JAYAPURA – Setelah diresmikan pada Januari 2019, Kampung Nelayan yang sempat menjadi tempat yang paling diburu untuk didatangi ternyata kondisinya kini tak lagi nyaman. Selain banyak sampah, jalur yang dipakai untuk berjalan kaki banyak ditemukan pecahan botol dan sampah – sampah kecil sehingga langkah kaki saat menapak juga dirasa tak nyaman.
Tak hanya itu, akses jembatan besi yang menjulang tinggi ternyata rusak parah. Pijakan tangga yang terbuat dari besi banyak yang terlepas dan berkarat sehingga siapa saja yang mau melintas wajib berhati – hati jika tidak akan terperosok hingga ke laut. “Kalau rusak memang sudah lama tapi sekarang malah lebih rusak dan banyak plat besinya sudah keropos dan kosong jadi kalau mau injak ya injak tulangan tangganya,” kata Rahma, salah satu warga Kampung Nelayan, Hamadi, Jumat (20/11).
Cenderawasih Pos yang mencoba menaiki dan menuruni tangga tersebut sebanyak dua kali merasa tidak nyaman karena banyak besi yang karat dan tajam menganga begitu saja. Untuk orang baru jika mau naik dan turun juga kemungkinan harus pegangan karena hampir seluruh anak tangga sudah jebol. Namun Rahma yang saat itu bersama seorang anaknya mengaku tak masalah karena setiap hari ia pasti melintas di jembatan tersebut. Ia bahkan terlihat meninggalkan beberapa langkah sang anak yang turun sendiri. “Kalau kami sudah terbiasa,” jawabnya sambil berlalu.
Tak hanya kondisi jembatan yang rusak dan membahayakan, kondisi sampah di lokasi ini juga banyak. Yang cukup mengotori adalah sampah plastik khususnya sampah plastik es batu. Ini sejatinya menjadi persoalan klasik karena sampah plastik lebih banyak dibuang langsung ke laut ketimbang ke bak penampungan. “Tidak tahu juga kenapa macam sulit tapi ya seperti itu, sampah plastik yang paling banyak,” kata Amir salah satu nelayan. Sampah plastik ini saat berada di dalam air ternyata bentuknya mirip sekali dengan ubur-ubur yang menjadi makanan penyu sehingga tak hanya mencemari air tetapi juga bisa membunuh penyu yang notabene satwa dilindungi. (ade/wen)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *