Kasus Investasi Bodong di Papua Masih Minim

Adolf Fictor Tunggul Simanjuntak

JAYAPURA – Menyikapi maraknya penawaran investasi bodong, OJK Papua dan Papua Barat selalu melaksanakan komunikasi pada Tim Satgas Waspada Investasi terkait perkembangan investasi bodong di Papua.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Papua dan Papua Barat, Adolf Fictor Tunggul Simanjuntak mengatakan,  untuk kondisi investasi bodong di Papua dan Papua Barat, sangat tergantung pada informasi dari masyarakat.

“Jika masyarakat tidak menyampaikan pengaduan kepada OJK selaku Tim  Satgas Waspada Investasi, maka kami juga tidak akan mengetahui apakah mereka berinvestasi pada investasi bodong atau tidak. Lain halnya dengan kondisi di Keerom terkait investasi sapi, memang tidak ada yang mengadu ke OJK, tapi kita melihat penawaran yang tidak wajar dari investasi tersebut,”ungkap Adolf kepada Cenderawasih Pos, Kamis (19/11).

Dengan melihat penawaran tersebut, maka pihaknya langsung turun lapangan untuk melakukan pengecekan secara langsung terkait investasi tersebut. Namun sampai dengan perusahaan investasi tersebut ditutup, memang tidak ada nasabah yang melakukan pengaduan ke OJK maupun Tim Satgas Investasi agar dapat ditindaklanjuti.

“Fungsi kami hanya bisa memberikan edukasi kepada masyarakat, dengan tujuan agar masyarakat tidak terjebak lebih jauh. Sampai sejauh ini memang untuk kasus investasi bodong di Papua dan Papua Barat belum ada karena tidak ada juga yang melapor,” tambahnya.

Dengan adanya Satgas Waspada Investasi, pihaknya berharap dapat menekan perkembangan investasi bodong di Papua maupun Papua Barat, khusus untuk tahun 2020 hanya ada dua yaitu kasus Susu Sapi Perah dan  yang ditemukan dan itu pun sudah langsung di tutup, oleh Tim Satgas Waspada Investasi.

“Kami juga terus mengimbau seluruh masyarakat di Papua dan Papua Barat, jika menemukan investasi yang imbal hasilnya lebih tinggi atau tidak sesuai dengan yang seharusnya, harap segera melaporkan ke kami,” terangnya.

Menurutnya, khusus untuk Papua memang daerah yang jumlah kasus investasi bodongnya paling kecil, namun pihaknya belum tahu pasti apakah jumlah kasus yang kecil ini dikarenakan masyarakat paham, atau karena malu untuk melaporkan.

“Kami harap masyarakat bisa lebih jeli sebelum berinvestasi, yang harus dipertimbangkan adalah keuntungan yang wajar dan berizin,” terangnya. (ana/ary)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *