Kalau Ada Kayu Penyangga Rusak, Penggantinya Tidak Boleh asal Pilih

BERSEJARAH: Kepala SMA Ibu Kartini Soekrismanto (kanan) dan juru pelihara Balai Pelestarian Cagar Budaya Jateng Aji Darma di depan bangunan kompleks Sekolah Ibu Kartini (19/10).

Negara, Dengarlah Sekolah Ibu Kartini…

Regulasi dan dana yang terbatas menyulitkan perawatan Sekolah Ibu Kartini di Semarang yang bangunannya berstatus cagar budaya nasional. SMA-nya pun kini minim murid sehingga memutuskan tak menerima peserta didik tahun ini.

BAYU PUTRA, Semarang, Jawa Pos

’’Kelak apabila saya telah selesai belajar, mohon pemerintah memberikan kesempatan kepada saya untuk membuka sekolah berasrama untuk anak-anak perempuan kepala-kepala bumiputra.’’

(Penggalan surat RA Kartini kepada Nellie van Kol tertanggal 21 Juni 1902.)

DARI luar, sekilas SMA Ibu Kartini tidak tampak berbeda dengan sekolah pada umumnya. Bangunannya juga masih kukuh. Berdinding bata dengan kombinasi batu-batu sungai khas bangunan era kolonial.

Hampir seluruh sudut masih asli. Tapi, jika dilihat lebih dekat, tampak jelas bangunannya sudah dimakan usia.

Terlihat lebih berumur karena pada Senin hampir sebulan lalu (19/10) saat Jawa Pos ke sana suasana sepi. Para murid masih belajar dari rumah akibat pandemi Covid-19.

’’Sepi murid’’ itu seolah menggambarkan situasi umum sekolah tersebut. Saat ini SMA Ibu Kartini hanya memiliki tiga rombongan belajar (rombel) untuk dua tingkat. Terdiri atas satu rombel untuk kelas XI IPS dan dua rombel untuk kelas XII IPA dan IPS. Tidak ada rombel untuk kelas X.

’’Tahun ini kami tidak membuka (pendaftaran siswa baru). Sebab, yayasan sedang melakukan evaluasi internal atas keberlangsungan SMA Ibu Kartini,’’ kata Kepala SMA Ibu Kartini Soekrismanto kepada Jawa Pos.

Sejak awal, Sekolah Ibu Kartini merupakan sekolah swasta yang dikelola yayasan swasta. Pasca kemerdekaan, sekolah itu diakuisisi Yayasan Ibu Kartini dan dikelola sampai saat ini. Terdiri atas SMP, SMA, SMK, dan Akademi Kesejahteraan Sosial yang semuanya berada dalam satu kompleks di Jalan Sultan Agung, Semarang.

Berdasar data pokok pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, SMA Ibu Kartini saat ini memiliki 81 siswa dan 13 guru. ’’Padahal, kami pernah sampai 16 kelas,’’ tutur Soekrismanto.

Salah satu alumnusnya adalah presenter kocak Tukul Riyanto atau yang dikenal sebagai Tukul Arwana. Menurut Soekrismanto, minimnya siswa itu disebabkan setiap tahun kuota penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah negeri di Semarang bertambah.

Buntutnya, sekolah-sekolah swasta di Semarang, termasuk SMA Ibu Kartini, makin kekurangan peminat. Akhirnya yayasan memutuskan tahun ini tidak menerima siswa SMA. Sementara itu, SMP dan SMK masih menerima peserta didik.

Sesuai dengan namanya yang diambil dari Kartini, pahlawan nasional, simbol emansipasi perempuan di tanah air, guratan sejarah terpahat di tiap sudut sekolah. SMA Ibu Kartini dulu bernama Sekolah Van Deventer. Dinamai sesuai dengan nama pimpinan yayasan pendirinya: Van Deventer.

Van Deventer adalah anggota Majelis Tinggi (De Eerste Kamer) Parlemen Belanda. Dia juga salah seorang penganjur politik etis.

Sekolah yang terletak di ibu kota Jawa Tengah tersebut mulai dibangun pada 1913 dan beroperasi 10 tahun kemudian. Berdiri di area seluas 12.311 meter persegi dan dikhususkan bagi para perempuan dengan konsep sekolah asrama.

Perancangnya adalah Herman Thomas Karsten, arsitek dan perancang permukiman pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Jejak karyanya bisa ditemukan di berbagai kota di tanah air. Pasar Johar, Semarang, salah satunya.

Dari atas, bentuk jajaran bangunannya mirip tapal kuda. Aula berbentuk pendapa terletak di depan dan menghadap timur dengan atap limasan yang tinggi. Kayu-kayu jati penopangnya begitu keras. Kelas-kelas untuk belajar berada di belakang. Begitu pula bekas asrama putri.

Dalam penelitian Retnaningtyas Dwi Hapsari, alumnus Pascasarjana Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro Semarang, upaya pembangunan sekolah tersebut memang berawal dari surat-surat Kartini kepada Rosa Manuela Abendanon-Mandri, yang kemudian terbit sebagai buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Hingga akhirnya terbentuk komite yang menunjuk Van Deventer untuk melakukan semacam survei. Dan, Semarang dipilih sebagai lokasinya.

Sambil mengevaluasi, yayasan kini menyiapkan strategi promosi baru agar SMA Ibu Kartini tetap diminati. Bila memang membuka pendaftaran siswa baru, Soekrismanto menegaskan bahwa pihaknya akan bersiap. Sebab, sekolah tersebut memiliki aset yang cukup untuk mendidik banyak siswa.

Yang jelas, yayasan tetap berupaya menjalankan visi awal dibangunnya sekolah tersebut: menjadi sarana pendidikan bagi anak-anak Indonesia. Dari yang dulu menjadi sekolah asrama khusus perempuan dan sekarang menjadi sekolah umum.

SMA Ibu Kartini tidak hanya bernaung di bawah dinas pendidikan. Sebagai bangunan berstatus cagar budaya nasional, SMA tersebut juga dibina Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah. Balai menugasi salah seorang stafnya, Aji Darma, sebagai juru pelihara di SMA Ibu Kartini. Tugasnya merawat sekaligus menyupervisi pemeliharaan bangunan cagar budaya tersebut.

Aji menuturkan, merawat bangunan cagar budaya punya tantangan tersendiri karena karakteristiknya berbeda dengan bangunan lain. Dia mencontohkan, bila kayu yang menjadi penyangga bangunan rusak, penggantinya tidak boleh asal pilih.

Bangunan cagar budaya, tutur dia, juga memerlukan perlakuan khusus. ’’Bangunan cagar budaya itu butuh lebih dari satu keahlian untuk merawatnya,’’ terang Aji yang baru dipindahtugaskan menjadi juru pelihara di AKS Ibu Kartini.

Dampaknya, biaya perawatannya juga lebih mahal ketimbang bangunan biasa. Negara, tutur Aji, selama ini memang membantu untuk kebutuhan perbaikan ataupun pemeliharaan gedung sekolah.

Namun, bantuannya tidak spesifik untuk cagar budaya tertentu. Melainkan digelontorkan ke daerah untuk merawat seluruh bangunan cagar budaya. ’’Akhirnya jatuhnya ke kami kecil,’’ timpal Soekrismanto.

Karena itu, mau tidak mau yayasan tetap ikut andil mengupayakan perbaikan semampunya dengan biaya sendiri. Itulah yang acap memberatkan.

Dalam merawat, yayasan pun tidak bisa menyeluruh dalam sekali perbaikan. Minimal mencegah agar tidak sampai rusak atau ambruk. Sebab, sumber pembiayaannya mengandalkan pendapatan yayasan.

Soekrismanto pernah mendengar bahwa negara akan turun tangan. Namun, dia belum tahu kapan dilaksanakan dan apa bentuk bantuannya.

’’Apa pun bentuknya, akan sangat berarti karena itu berarti negara bertanggung jawab terhadap bangunan-bangunan yang ditetapkan sebagai cagar budaya,’’ katanya.

Apalagi, bangunan sekolah itu menjadi salah satu tujuan penelitian. Khususnya terkait dengan arsitektur dan struktur bangunan.

Beberapa mahasiswa dari sejumlah kampus datang untuk meneliti. Pernah pula ada rombongan pemerhati sejarah asal Malaysia yang berkunjung karena sekolah tersebut menggunakan nama Ibu Kartini.

Yang juga beberapa kali berkunjung tentu warga negara Belanda. Di antara mereka ada yang pernah tinggal di sekitar sekolah, bahkan ada yang tinggal di dalam sekolah. ’’Mereka ke sini untuk sekadar bernostalgia. Nangis-nangis di sini,’’ jelas Soekrismanto.

Menggunakan nama Kartini, sekolah selalu mengadakan perayaan khusus pada Hari Kartini. Misalnya, mengadakan lomba untuk anak hingga upacara bendera. Meskipun, skalanya masih terbatas.

Sejak awal Yayasan Ibu Kartini didirikan pada 1953, komitmennya adalah bergerak di bidang pendidikan. ’’Berarti kami mempertahankan aset ini untuk menyelenggarakan pendidikan,’’ tambah pria yang mengajar di SMA Kartini sejak 1990 itu.

Hanya, kendalanya memang terletak pada pelestarian bangunan yang memerlukan biaya besar. Itulah yang sepatutnya didengar negara.

Dulu Kartini, sebagaimana tersebut dalam suratnya kepada Nellie van Kol, meminta kepada Pemerintah Hindia Belanda agar diizinkan mendirikan sekolah. Mimpi itu akhirnya terwujud ketika Kartini telah berpulang. Dan, ketika kini sekolah tersebut menghadapi tantangan besar, sepatutnya pemerintah yang sekarang turun tangan. (*/c19/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *