Orasi Dibubarkan Polisi, ini yang Diteriakkan Anggota DPRP

Aksi demo puluhan mahasiswa asal Deiyai di kantor DPR Papua, Senin (16/11).

JAYAPURA – Aksi demo yang dilakukan puluhan mahasiswa asal Deiyai di kantor DPR Papua berujung dibubarkan paksa, Senin (16/11).

Hal ini lantaran informasi yang disampaikan para pendemo awalnya ingin melakukan audiens dengan perwakilan mereka di DPR namun sesampainya di halaman kantor DPR ternyata dilakukan orasi dan membawa sejumlah tulisan terkait penolakan pemekaran 10 distrik dan 109 kampung di Deiyai.

Menariknya massa dilaporkan sudah berada di halaman kantor DPRP sejak pukul 08.30 WIT sebelum akhirnya dibubarkan pukul 10.37 WIT.  Kelompok yang mengatasnamakan Solidaritas Forum Komunikasi Mahasiswa Kabupaten Deiyai ini datang dan diterima oleh satu anggota DPRP, Amos Edoway. Saat membacakan pernyataan sikap secara bergantian terlihat Polisi dari Polres Jayapura Kota satu persatu mulai mendekati kerumuman massa yang jumlahnya hanya sekitar 50 orang.

Terlihat Kabag Ops Polresta, Kompol Nursalam dan beberapa perwira berdiri di samping anggota DPRP dan ada komunikasi yang isinya menjelaskan bahwa aksi tersebut tidak disetujui oleh aparat kepolisian.

Namun Amos mengambil microphone dan tetap berbicara bahkan meminta aparat kepolisian untuk mundur dan menjauh dari kerumuman pendemo.  Ia mengatakan mahasiswa datang ke rumahnya dan menemui wakilnya sehingga tak perlu dihalang – halangi. Disini sempat terjadi ketegangan dimana Wakapolres kembali menjelaskan namun tak digubris dan Amos justru berjalan menuju mahasiswa dan berteriak hidup mahasiswa beberapa kali.

“Saya minta aparat kepolisian menjauh dulu, pihak keamanan jangan mengambil alih tugas orang lain. Otsus ada yang menangani, pemekaran juga dan tidak perlu bisik – bisik saya. Di belakang saya ada ribuan orang,” beber Amos menggunakan megaphone.

“Sampaikan ke Kapolda bahwa masyarakat sampaikan aspirasi,” perintah Amos.

Selang beberapa menit setelah Amos memberikan pendapat dari aksi penolakan pemekaran ini barulah Polisi mengambil sikap tegas dengan membubarkan pendemo keluar dari halaman kantor DPRP. Polisi berpendapat bahwa pertama aksi ini tidak mendapatkan izin dan awalnya akan melakukan audiens namun ternyata melakukan orasi dan aksi demo. (ade/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *