Masih Bernostalgia Dengan Sebuah Lorong

Rektor Universitas Cenderawasih, DR Ir Apolo Safanpo ST MT  kanan memberikan potongan nasi tumpeng kepada salah satu pegawai Uncen, Pak Demi Dies Natalis ke 58 di gedung sejarah Fisip Uncen, Selasa (10/11). (FOTO: Gamel Cepos)

Enam Guru Besar Uncen Terima Penghargaan

JAYAPURA – Sebuah bangunan bersejarah yang tak lekang termakan usia masih menjadi saksi bisu lahirnya Universitas Cenderawasih. Gedung yang kini dijadikan sebagai transistor program studi S1 administrasi perkantoran Fisip Uncen ini menjadi tonggak sejarah yang tiap tahun pasti dikunjungi dan dilakukan seremoni peringatannya. Dari bangunan inilah sejarah  yang disebut Gedung Isoba Opleiding Schoolvoor Iheemsche Basttuursambtenaren inilah peradaban pendidikan Papua itu lahir dimana Uncen resmi berdiri pada 10 November 1962 di Kota Baru Jayapura.

Uncen ketika pertama didirikan hanya memiliki 2 fakultas yakni Fakultas Hukum Ketatanegaraan dan Ketataniagaan (FHKK)  dengan jurusan ketatanegaraan dan ketataniagaan. Lalu fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)  dengan jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa dan Sastra Inggris, Sejarah, Geografi  dan ilmu pendidikan. Nah pada 1 Mei 1963 barulah dibuka lembaga setingkat fakultas yakni Lembaga Antropologi  dan Fakultas Pertanian Peternakan hingga kini terdiri dari 9 fakultas.

Sebelumnya Uncen sendiri memiliki nama Universitas Negeri Cenderawasih yang ditetapkan Presiden Soekarno pada Oktober 1962 sesuai saran dari Prof Muhammad Yamin pada masa Untea dan tak lama lama kemudian akhirnya diubah menjadi Universitas Cenderawasih yang kini merayakan dies natalis ke 58.  Rektor, DR Ir Apolo Safanpo ST MT dalam arahannya melihat jauh ke depan. Ia meminta dari dies natalis ini Uncen bisa mempersiapkan generasi Papua yang gemilang. Menjadi pemimpin diera modern.

“Semua ilmuan di dunia  mensepakati bahwa dunia sedang memasuki era revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan digital ekonomi sehingga mau tidak mau Uncen juga harus siap dan mampu beradaptasi untuk beralih dalam pola tata cara pelayanan cari cara manual ke digital,” beber Apolo, di gedung sejarah Fisip Uncen, Abepura Selasa (10/11). Karenanya semua harus terus bergerak menjaga keseimbangan agar Uncen tidak ketinggalan dalam perkembangan ilmu pengetahuan teknologi.

Uncen sendiri masih menjalankan tradisinya memperingati hari jadi di sebuah lorong di gedung bersejarah Fisip Uncen yang disebut gedung transistor. Apolo menyebut dalam konteks negara, saat ini Uncen ikut dalam managemen talent untuk menyongsong tahun 2045 dimana Indonesia akan memasuki usia 100 tahun dan Uncen perlu menyiapkan anak – anak menjadi pemimpin di tahun 2045.

Sementara itu enam guru besar Uncen menerima penghargaan dari Rektor Universitas Cenderawasih.  Adapun enam profesor Uncen yang menerima penghargaan, yaitu Prof. Dr. Balthazar Kambuaya, M.BA, Prof. Dr. Hasan Basri, Prof. Dr. Dirk Veplun, M.S, Prof. Dr. Yohanes Rante, M.Si, Prof. Dr. Arung Lamba, M.Si, dan Prof. Dr. Akbar Silo, M.Si

Penghargaan ini diberikan langsung oleh Rektor Uncen, Dr. Ir. Apolo Safanpo, S.T, M.T kepada para enam orang guru besar yang telah mendedikasikan sebagian besar hidup mereka, untuk mendidik dan memberikan ilmu pengetahuan bagi anak-anak Papua di Uncen.

  Apolo Safanpo mengatakan, dirinya sengaja mengundang enam orang guru besar ini, untuk menerima penghargaan, sebenarnya untuk memberikan motivasi dan dorongan bagi para dosen-dosen muda yang ada diberbagai fakultas yang ada di Uncen.

“Saya mengundang enam guru besar ini sebenarnya memberikan motivasi bagi dosen-dosen muda, untuk mengajar dan mengejar prestasi menjadi guru besar,” ungkapnya disela-sela pemberian penghargaan kepada para guru besar di Kampus Abepura, Kota Jayapura, Selasa (10/11).

Menurut Apolo, saat ini banyak sekali para doktor-doktor muda muda diberbagai fakultas yang ada di Uncen. Oleh karena itu, kepada para dekan untuk terus mendorong para doktor-doktor muda ini, sehingga menjadi besar dan dapat meraih guru besar kedepan.  “Kami harapkan kita punya dosen yang sudah doktor ini dapat segera mengusulkan guru besarnya,” tuturnya. (ade/bet/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *