Lapas Merauke Sudah Berikan 110 Asimilasi Covid-19 

Soni Sopyan ( FOTO: Sulo/Cepos)

MERAUKE-Sejak kebijakan asimilasi rumah dalam rangka mengurangi  hunian penjara di masa pandemi Covid-19, Lembaga Pemasyarakatan Klas IIB Merauke telah memberikan asimilasi rumah  kepada 110 warga binaan.

  “Sampai hari ini, jumlah warga binaan yang telah mendapatkan  asimilasi rumah sebanyak  110 warga binaan,” kata  Kepala Lembaga Pemasyarakatan Klas IIB Merauke  Soni Sopyan, ketika  ditemui media ini,  Rabu (11/11).

   Soni Sopyan menjelaskan, warga binaan yang berhak mendapatkan asimilasi rumah tersebut adalah mereka yang  telah menjalani  masa pidananya minimal setengah  atau 50 persen dengan cara selama dalam lembaga  berkelakuan baik. Karena  namanya assimilasi  rumah, maka  setelah  keluar dari LP Merauke  maka   harus berada di  rumah. Tidak   untuk keluyuran apalagi  kembali membuat  tindak pidana di luar lembaga tersebut.

   Karena dari  110  orang yang mendapatkan asimilasi  rumah  tersebut, 3 diantaranya melakukan tindak pidana  baru. “Untuk ketiga warga binaan  ini, sudah dikembalikan  oleh kepolisian setelah melakukan pemberkasan. Jadi mereka akan  menjalani pidananya sampai selesai untuk kasus lama. Setelah  itu, kemudian  proses kembali untuk kasus yang baru ketika  menjalani assimilasi rumah,” terangnya.

   Soni Sopyan menjelaskan bahwa  assimilasi rumah  ini akan  berlangsung sampai akhir Desember  2020. Sepanjang kebijakan pemberian assimilasi rumah  tersebut belum dicabut  oleh pemerintah, maka  pemberian assimilasi rumah akan terus berlangsung  sampai akhir Desember 2020 mendatang.

  “Sepanjang  kebijakan itu belum dicabut, kita akan  tetap laksanakan,” katanya.

  Diungkapkan, dengan adanya  kebijakan  assimilasi rumah  tersebut dapat mengurangi kapasitas dari Lapas Merauke. Karena sampai  Rabu kemarin, jumlah tahanan maupun Napi  sebanyak 302 orang.

   “Kalau tiodak ada assimilasi rumah, maka jumlah  warga binaan yang kita tampung 412. Tentunya, sangat banyak. Untung ada kebijakan sehingga mnegurangi hunian kita,” jelasnya.     

   Sebagaimana  diketahui, pemberian asimilasi rumah tersebut selain untuk mengurangi tanggungan negara seluruh Indonesia, juga dimaksudkan  untuk memutus rantai penyebaran  Covid-19 di dalam penjara. Karena pemerintah  khawatir, apabila  penjara penuh maka akan mempercepat penyebaran Covid-19  dan jumlah kasus di Indonesia akan melonjak drastis. (ulo/tri)   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *