Adat Kembali Tegaskan Tolak  Nama Lambu Wonda

George Awi (FOTO: Gamel Cepos)

JAYAPURA – Setelah sebelumnya Wali Kota Jayapura, Dr Benhur Tomi Mano MM menyatakan tegas menolak penamaan venue tenis indoor Lambu Wonda karena dianggap tak memiliki filosofi maupun makna bagi masyarakat adat Port Numbay hingga direspon dengan aksi pemalangan, kini pernyataan resmi lainnya disampaikan oleh Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Port Numbay  yang juga menolak penamaan tersebut. Ketua LMA, George Awi menyatakan bahwa pemerintah provinsi harusnya mendukung semangat  Otsus yang tertuang dalam UU Nomor 21 tahun 2001  yang menjunjung tinggi nilai- nilai budaya dan kearifan lokal.

Nilai budaya dan kearifan lokal ini perlu dijaga dan dilestarikan sehingga tepat kiranya apa yang dilakukan Wali Kota Jayapura untuk memberikan nama venue tersebut dengan nama Sian Soor. Sian Soor sendiri kata George Awi diambil dari bahasa Tobati yang artinya nama lokasi. Jadi lokasi kantor Wali Kota hingga ke bawah (gapura) disebut warga Tobati sebagai Sian Soor. “Kami dari adat juga tidak setuju dengan penamaan Lambu Wonda ini, kami tidak tahu arti dari nama itu dan kalau ditanya kepada masyarakat di Port Numbay mereka pasti bingung. Kami minta gubernur bisa menghargai nilai – nilai ini dan kami  akan mempertahankan penamaan yang berkearifan lokal,” tegas George Awi di kediamannya, Senin (9/11).

Pemerintah kata Awi juga harus bijak mentransfer nilai – nilai sosial budaya yang tepat dan bukan karena alasan lain. Penamaan menggunakan pesan kearifan lokal ini penting agar generasi penerus tahu nilai budaya mereka. “Jangan justru pemerintah menempelkan identitas yang tidak kami pahami. Kami dari adat mendukung surat penyampaian yang disampaikan Wali Kota kepada  gubrnur, kami pikir kami hanya tahun Sion Soor ketimbang Lambu Wonda dan venue ini juga akan menjadi aset Pemkot sehingga salah kalau memberi nama dari luar,” pungkasnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *