Memiliki Ras yang Berbeda, Diperkirakan Seperti Anjing Dingo di Australia

ANJING BERNYANYI: Seekor New Guinea Singing Dog atau anjing bernyanyi ketika berada di wilayah Grasberg Mine, Puncak Carstenz. Foto ini diambil tim penelitian dari Jurusan Biologi MIPA Uncen, bulan Agustus 2018. ( FOTO: Suriani for Cepos)

Kolaborasi Penelitian NGHWDFJurusan MIPA Uncen Terkait New Guinea Singing Dog

Setelah dinyatakan punah puluhan tahun yang lalu, singing dog (anjing beryanyi) ditemukan kembali di daerah sekitar Puncak Carstenz. Penemuan ini berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Jurusan MIPA Universitas Cenderawasih berkolaborasi dengan NGHWDF selama satu tahun lebih.

Laporan: Roberthus Yewen, Jayapura

ANJING bernyanyi Nugini atau new guinea singing dog yang diperkirakan telah punah,  ternyata masih hidup di sekitar Puncak Carstenz, Gresberg Provinsi Papua. Singing dog ini hidup di ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut.

Singing dong ini berada di Puncak Cartensz, yaitu berada di Gunung Somatua, Patigapa, Balebale Kelapa, Yoginagau, Kabanagau, dan beberapa tempat lainnya. Masyarakat Suku Moni menyebutnya sebagai anjing Dingo.

Anjing bernyanyi ini hidupnya hanya dengan mengambil makan dari alam seperti misalnya kuskus dan lain sebagainya. Tak heran jika anjing bernyanyi ini sangat bersahabat dengan alam.

Ciri fisik dari anjing bernyanyi ini secara umum tidak jauh berbeda dengan anjing-anjing biasanya. Tetapi perawakannya sedikit lebih kecil. Teliganya meruncing ke atas. Suaranya unik mulai dari nada yang rendah ke nada yang tinggi. Makanya tak salah anjing ini dinamakan anjing bernyanyi atau singing dog.

Setelah mendapatkan informasi melalui akun facebook NGHWDF (New Guinea Highland Wild Dog Foundation) melalui seorang insinyur mesin yang bekerja di PT. Freeport Indonesia, Anang Dianto, yang langsung dikomentari  Pendiri NGHWDF bernama, James Mac Mclnttyre. Pada tahun 2016, Mac Mclnttyre langsung datang ke Papua selama satu bulan untuk mencari dan mendokumentasikan kurang lebih 15 anjing bernyanyi ini di pegunungan Papua.

Dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 2018, peneliti dari Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Cenderawasih berkolaborasi dengan NGHWDF yang merupakan yayasan peneliti spesies anjing bernyanyi Nugini liar yang berbasis di Florida, Amerika Serikat melakukan penelitian lagi. Penelitian kali ini lebih terperinci untuk mengetahui spesies anjing bernyanyi tersebut.

Tim ini terdiri dari pendiri NGHWDF, James Mac Mclnttyre yang beranggotakan para ilmuwan dan peneliti diantaranya, Heidi G Parker, Suriani Surbakti, dan para ilmuwan-ilmuwan lainnya dari berbagai negara.

Penelitian terhadap anjing bernyanyi ini diawali oleh Universitas Negeri Papua (UNIPA) pada tahun 2016. Lalu kemudian, tahun 2018 atau dua tahun yang lalu, Jurusan Biologi MIPA Uncen melakukan ekpedisi ke Gresberg, Kabupaten Mimika untuk melakukan penelitian terhadap anjing bernyanyi selama kurang lebih empat minggu.

Selama empat minggu, tim penelitian dari Biologi MIPA Uncen melakukan penelitian dengan cara memantau, melihat, mendata wilayah edar, dan perilaku dari kelompok-kelompok anjing bernyanyi.

Dalam penelitian tahap kedua ini pihak Biologi MIPA Uncen mengambil sampel untuk dilakukan analisis genetic dari anjing benyanyi. Mulai dari darah (DNA), rambut, kulit, kotoran, pesis dan salifa. Sampel yang ada langsung dilakukan perizinan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua. Setelah itu, dibawa ke Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI), untuk selanjutnya mendapatkan izin untuk dibawa ke Texas University di Amerika Serikat.

“Kita proses DNA sampai kepada publikasi itu lebih kurang ada 1,5 tahun,” kata Suriani ketika ditemui Cenderawasih Pos di sela-sela kerja sama dengan Yayasan Somatua dalam rangka keberlanjutan penelitian anjing bernyanyi yang berlangsung di Rektorat Uncen, Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Rabu (3/11) lalu.

Dari hasil pemeriksaan DNA yang dilakukan di Texas University diketahui bahwa ternyata anjing bernyanyi yang berada di wilayah pegunungan tengah Papua ini memang berbeda dengan nenek moyang anjing-anjing yang lain pada umumnya.

Anjing bernyanyi ini diperkirakan seperti anjing Dingo yang ada di Australia dan anjing  bernyanyi lainnya yang ada di daratan rendah.

“Setelah kami lakukan tes DNA di Texas University memang anjing bernyanyi ini berbeda. Dan memang memiliki ras yang berbeda. Jika dilihat memang masih kanis atau kelompok-kelompok anjing, tetapi memiliki ras yang berbeda,” tuturnya.

“Hampir 70 tahun ini kita belum menemukan anjing yang baru, untuk ras mamalia. Terutama anjing. Ini merupakan bentuk penelitian yang baru dan baru tahap kedua dari penelitian yang dilakukan ini. Untuk tahap ketiga akan kami ajukan kembali dengan yang lain-lainnya,” sambungnya.

Diakuinya, banyak sekali yang harus dikaji dari anjing bernyanyi ini. Mulai dari perilaku sehari-hari, ekologi, reproduksi, dan statusnya. “Karena perlu kita hitung juga populasi anjing bernyanyi ini di alam. Kelompok kanis (kelompok anjing) ini hanya mendiami Alvin dan sub Alpin. Kami belum bisa menyebutkan anjing menyanyi di daerah pegunungan Papua ini sebagai endemik spesies, tetapi memang berbeda. Dimana memang ras anjing bernyanyi yang berada di daerah Pucak Carstenz berbeda dengan ras anjing yang lain,” bebernya.

Tahun depan, pihaknya akan turun lagi untuk melakukan penelitian terhadap anjing bernyanyi ini. “Nanti kami akan meneliti tentang bagaimana distribusi, wilayah edar anjing bernyanyi tersebut,” tuturnya,

Penelitian kedua yang lalu menurut Suriani, memang sudah dipasang kolar di leher anjing bernyanyi. Tetapi ini hanya bertahan dua sampai tiga minggu. Sehingga pihaknya kami tidak bisa menggambarkan wilayah edar dari anjing bernyanyi ini.

Nanti pada tahap berikut di tahun 2021 direncanakan bulan Mei, akan dilakukan penelitian lagi. Tentu penelitian ini akan memasang lebih banyak lagi kolar di leher anjing bernyanyi, sehingga bisa dengan mudah memantau wilayah edar dari anjing tersebut. Tidak hanya itu, pihaknya bisa melihat langsung jumlah populasi anjing bernyanyi yang ada di wilayah saat ini.

“Tahun depan kami akan mengkaji lagi. Untuk mengkaji, kami membutuhkan skill. Rencananya memang sudah didukung oleh PTFI, sehingga saya dan beberapa teman-teman akan ke Amerika belajar tentang kelompok-kelompok anjing, untuk bisa melihat perilaku sosial, perilaku reproduksi dan lain-lain dari anjing benyanyi ini,” ucap wanita yang sehari-hari berprofesi sebagai dosen Biologi MIPA Uncen ini.

Masyarakat Suku Moni sendiri meyakini bahwa anjing bernyanyi yang berada di daerah Puncak  Carstenz adalah anjing Dingo. Mereka menggap anjing bernyanyi ini adalah bagian dari “tuan tanah” yang menjaga areal sekitar dan bisa berubah wujud menjadi manusia.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, anjing ini bisa bernyanyi dan memiliki banyak cerita, tetapi belum diangkat. Oleh karena itu, Yayasan Somatua sangat peduli dengan pariwisata, apalagi anjing bernyanyi atau anjing Dingo ini satu moyang dengan masyarakat Suku Moni.

Oleh karena itu, cerita anjing benyanyi atau Dingo ini perlu diangkat menjadi sebuah film dokumenter dan cerita rakyat. Oleh karena itu, memang perlu keterlibatan anak-anak Papua yang ada di perguruan tinggi, seperti misalnya Universitas Cenderawasih (Uncen), untuk bisa melakukan penelitian sehingga satwa yang ada di Puncak  Carstenz bisa dilindungi. Tapi cerita-cerita rakyat bisa dibuat oleh orang-orang Papua sendiri.

“Kita harapkan anjing benyanyi atau Dingo ini bisa dijaga dalam rangka pengembangan pariwisata yang ada di Puncak  Carstenz,” harap Maximus Tipagau Pendiri Yayasan Somatua.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *