Harga Aglonema Merah  Teratas, Janda Bolong Banyak Dicari

Pemilik usaha Mekar Sari Taman Bunga di Padang Bulan Jayapura menunjukan salah satu koleksi bunga yang paling diminati konsumen ditengah pandemi Covid-19, Sabtu (7/11) kemarin. ( foto: Yohana/Cepos)

Melihat Permintaan Bunga Hias di Masa Pandemi Covid-19

Sejak masa pandemi Covid-19 melanda berbagai hobi baru bermunculan, mulai dari aktivitas bersepeda sampai kepada mengoleksi tanaman maupun hewan. Hobi baru ini dikembangbiakan kemudian dijual kembali semakin banyak, alasan terbesar adalah untuk mengisi waktu luang ditengah pandemi covid-19. Tanaman apa yang paling banyak dicari?

Laporan:Yohana

Dampak covid-19, nampaknya memberi pengaruh yang cukup signifikan bagi setiap masyarakat, khususnya dengan memiliki banyak waktu luang dirumah memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mencoba kebiasan-kebiasan baru yang sebelumnya tidak sempat dilakukan karena tidak memiliki waktu.

Tidak heran dengan banyaknya waktu kerja dari rumah membuat banyak masyarakat mulai beralih kegiatan dengan mengoleksi tanaman hias selain sebagai hobby baru juga sebagai koleksi pribadi.

Mulai dari bunga murah sampai dengan bunga mahal banyak peminatnya, mulai dari jenis yang butuh banyak perhatian sampai dengan jenis bunga yang tidak banyak membutuhkan perhatian pun dikejar.

Bahkan harga bunga kadang tidak menjadi masalah bagi mereka yang benar-benar pencinta bunga.

Seperti halnya Pemilik Mekar Sari Taman Bunga di Padang Bulan Jayapura, Dwi Ningsi menjelaskan, permintaan bunga memang kini banyak diminati, mengingat kondisi masyarakat yang mulai memanfaatkan waktu luang dirumah dengan bercocok tanam salah satunya dengan merawat bunga.

Menanam dan merawat bunga merupakan salah satu cara untuk mengusir rasa bosan atau jenuh yang dialami sebagaian besar masyarakat akibat dampak Covid-19.

Mengurus bunga memang tidak semudah yang dibayangkan, apa lagi untuk jenis bunga yang banyak membutuhkan perhatian seperti Aglonema, selain harga yang relative mahal dari bunga ini, salah perhatian dapat membuat bunga tersebut rusak bahkan mati.

Selain Aglonema ada juga bunga yang tidak membutuhkan banyak perhatian seperti Kaktus, Bunga Pukul 9 dan beberapa bunga lainnya tidak terlalu membutuhkan banyak perhatian, jadi bagi masyarakat yang sibuk dan tidak memiliki banyak waktu paling bagus disarankan menanam bunga tersebut karena resiko rusak dan mati sangat kecil.

Namun bagi mereka yang memang pencinta bunga dan yang suka tantangan pilihan Aglonema akan sangat cocok, untuk jenis-jenis bunga banyak sekali bisa dijumpai di toko bunga maupun ditempat-tempat lain.

khusus untuk saat ini, memang ada juga bunga jenis baru yang mulai banyak dicari konsumen sebagaian dicari untuk budidaya dan kemudian dijual kembali, sebagian lagi hanya sebagat koleksi.

Seperti halnya bunga Janda Bolong, bunga ini untuk di luar dari Papua harganya bisa dibilang cukup mahal, bunga ini terkenal dengan bentuknya yang unik yaitu setiap daunnya berlubang, sehingga bunga tersebut dinamakn Janda Bolong.

Harga bunga ini juga relatif, bisa dari Rp 50 ribu- Rp 300 ribu, harga tergantung dari besar dan kecilnya bunga, sementara untuk Aglonema memang sampai saat ini masih menjadi primadona khususnya Aglonema Merah harga perpot kecilnya Rp 800 ribu.

“Bunga Aglonema kerap kali dicari dan dikoleksi oleh kalangan istri pejabat, masyarakat yang memang pencinta bunga, selain dijadikan koleksi dalam rumah, juga dikembang biakan untuk kemudian dijual kembali,” jelasnya kepada Cenderawasih Pos, Sabtu (7/11) kemarin.

Diakuinya, permintaan bunga yang paling banyak dicari mulai dari bunga Anggrek, Aglonema, Vinka atau Tapak Kuda, Bunga Pukul 9, Kaktus, begonia mendapat respon yang cukup bagus dari masyarakat. “Intinya banyak yang mencari tanaman bunga yang tidak banyak perawatan tetapi membutuhkan banyak perhatian,” tambanya.

Khusus di tengah Pandemi Covid-19, permintaan bunga bisa lebih dari puluhan pot, bukan hanya untuk area Jayapura, Sentani dan sekitaranya bahkan dari luar Jayapura seperti Biak, Nabire dan sebagainya juga dilayani penjualannya.

Selain itu, Pemilik Bachil 121 Tatie Waltz yang juga pencinta bunga mengakui bahwa dirinya sudah sejak lama membudidayakan bunga, termasuk bunga Janda Bolong yang merupakan bunga favorit saat ini.

Bibit bunga tersebut didatangkan langsung dari Bandung sejak 3 tahun lalu, yang kemudian dikembang biakan sampai dengan saat ini, dikarenakan bentuknya yang unik banyak pelanggan Bacil 121 yang kemudian tertarik untuk membeli bunga tersebut.

Satu potnya dihargai Rp 50 ribu untuk yang kecil sampai dengan Rp 200 ribu dan Rp 300 ribu untuk pot yang besar. “Saya sebenarnya tidak menjual bunga, hanya memang untuk koleksi pribadi karena saya suka dengan bunga sekaligus mempercantik pekarangan rumah, namun semakin lama ternyata banyak juga konsumen Bacil 121 yang tertarik untuk membeli bunga,” terangnya.

Menurutnya, perawatan bunga tidak terlalu sulit, hanya khusus membutuhkan perhatian, bahkan dirinya hanya menggunakan tanah, sekam padi dan pupuk kandang untuk memberikan kehidupan bagi bunga-bunga koleksinya.

Jenis bunga yang disediakanya, mulai dari Janda Bolong, Kaktus, Bunga Pukul 9, Bunga Lida Mertua, Bunga Daun Keladi dan beberapa jenis bunga lainnya.

Diakuinya, semenjak dampak Cocid-19, memang melahirkan banyak masyarakat pencinta bunga, sehingga tidak heran jika koleksi bunga juga semakin bertambah jenisnya.

Begitu juga dengan Ibu Yanti dan Ibu Rini, keduanya mengaku sejak pandemi punya banyak waktu luang, salah satunya mengisi kesibukan untuk merawat bunga, mempercantik tanaman, seperti mengganti pot yang warnanya fresh, serta mengganti tanaman yang  lebih kekinian. “ Awalnya hanya iseng saja sambil mengisi waktu, tapi setelah ini saya mulai suka, dengan berbagai tanaman, saya membeli dari mana saja, di Abe  kalau saya lihat bagus ya saya beli, bahkan sampai Sentani pun saya pernah membeli,” katanya.

  Ibu Rini pun mengaku tak ada niat untuk jual bunga yang dirawatnya, “Ya, kalau ada teman dekat yang mau ya saya lihat dulu, apakah bunga sejenis masih ada, kalau masih ada boleh diambil, tapi kalau tidak ya tidak boleh. Hobi ini hanya sekadar supaya enak dilihat,” bebernya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *