Terapung di Sungai Digoel

Pelayanan Kesehatan Oleh Seorang Perawat di Kabupaten Boven Digoel

Ketika kami menyelesaikan pengobatan keliling, kami buru-buru untuk kembali ke rumah sakit. Meskipun kami terburu-buru, kami harus menyelesaikan makan malam di perjalanan.

Penulis: Asmarullah/perawat senior, Klinik Asiki

Sebagian besar desa yang kami kunjungi membutuhkan waktu perjalanan selama tiga jam dari rumah sakit, jadi kami berhenti sebentar jika kami melihat tempat yang cocok.

Ketika kami melihat tempat untuk mengikat perahu, kami bersorak dan berteriak bahwa kami menemukan “kandang sungai” atau tepian sungai. Setelah menambatkan kapal, kami makan dan istirahat, lalu kembali ke perjalanan. Kami bisa merasakan kebahagiaan ketika menyelesaikan pengobatan keliling.

Hal yang aneh terjadi pada hari ketika kami kembali dari Kampung Metto Distrik Subur di Subur. Awal keberangkatan, kami sudah merasakan pertanda aneh setelah kami beristirahat.

Sepertinya ada masalah dengan long boat yang kami tumpangi. Saat mesin berhenti, kami benar-benar mulai terapung di Sungai Digoel. Melihat sekeliling, tidak ada desa, hanya ada kami, kapal dengan mesin rusak di sungai, dan ketingting yang penuh barang bawaan. Kami sangat berharap ada seseorang yang menemukan dan mau membantu kami.

Sungai itu berubah indah ketika matahari terbenam, tetapi kami hanya tergeming melihat pemandangan itu. Saat pemandangan indah perlahan menghilang, kegelapan akan segera datang.

Membosankan, seolah-olah berjam-jam telah berlalu. Bahkan, kebosanan itu lebih tak tertahankan lagi bagi saya karena tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Tempat yang hanya terdengar suara alam. Kami mendengar suara semakin dekat dari jauh. Itu adalah suara mesin kapal. kapal kecil yang mendekat itu berhenti, seperti mengetahui hati kami yang sesungguhnya. Orang di kapal kecil itu sepertinya mengetahui masalah mesin dengan baik. Ia mengamati kapal kami dan mengatakan bahwa itu masalah mesin. Tentu saja tidak bisa diperbaiki di sungai tanpa peralatan dan teknisi.

Kami semua berdiskusi tentang apa saja yang harus dilakukan. Kami menunggu seseorang yang menyelamatkan kami atau kami pindah ke desa dengan orang yang baru bertemu…… kami bertanya kepada orang itu, “Apakah bisa membawa kami ke rumah sakit” dan dia langsung menerimanya.

Ketika kami mulai memindahkan barang-barang kami satu per satu di atas kapal kecilnya, hujan mulai turun. Saat tubuh dan barang-barang kami mulai basah karena hujan, hati kami menjadi lebih mendesak.

Mungkin karena terlalu banyak memuat beban yang berat, mesin kapal ini mulai tidak stabil. Kami terburu-buru karena banyak barang yang belum dipindahkan, tetapi akhirnya mesin kapal mati. Dalam kegelapan, saya bisa mendengar seseorang menangis. Itu pasti karena kecemasan dan ketakutan. Saya juga ingin menangis.

“Apakah kami bisa berenang? apakah di Papua ada ular hitam yang menunggu kami ketika kami sampai di darat?” Saya pikir hanya Tuhan yang dapat membantu kami saat ini. Setelah sekian lama kebingungan, mesin berhasil menyala. Kami semua bersyukur kepada-Nya.

Namun, ada masalah yang lain. Kami sudah menstarter mesin beberapa kali, mungkin kapal ini tidak memiliki cukup bensin untuk mengangkut kami. Kami ingin sedekat mungkin dengan rumah sakit, tetapi kami tidak bisa berharap untuk itu karena kami tidak bisa membuat orang yang membantu kami dalam kondisi yang berbahaya. Dalam situasi ini, hal yang terbaik adalah mengunjungi desa terdekat dari lokasinya.

Kami menemukan sebuah desa di sungai dengan rasa penuh kecemasan. Desa itu dikelilingi oleh rerumputan pada siang hari sehingga tidak dapat terlihat. Sebaliknya pada malam hari, dengan cahaya yang kecil kami dapat melihat dan mengunjungi desa tersebut. Bahkan, kami tidak tahu nama desa tempat kami tiba itu. Dengan rasa lega kami mengatakan bahwa “kita sekarang telah hidup kembali” rasa lelah hanya mengalir dalam sekali. Kami memutuskan untuk tidur atau istirahat sampai subuh setelah berbicara dengan penduduk desa.

Penduduk desa memberi kami tempat untuk beristirahat, jadi kami pun berbaring di tempat itu, tetapi kami tidak bisa tidur. Saya tidak bisa tidur dengan banyak pikiran, “Apakah besok bisa sampai ke rumah sakit? Bagaimana kapal yang rusak?”

Teman sejawat yang terbaring di samping saya sudah tertidur lelap. Ketika saya hendak memaksakan diri untuk tidur, setelah bolak-balik beberapa saat, suara gemuruh datang dari suatu tempat. Dari mana asal suara itu? Suara itu semakin dekat. Di tengah kesunyian, setahu saya, hanya speedboat saja yang suaranya menggema bila berada di desa dekat sungai.

Saya berlari dari tempat tidur saya menuju ke luar. Kapal yang mengeluarkan suara keras itu berlabuh di samping sungai. Ternyata, kapal itu datang untuk menjemput kami.

Saya segera membangunkan tim yang sudah tidur lelap. Kami naik speedboat tanpa tahu apakah itu mimpi atau kenyataan. Kami bersyukur karena telah melewati hari itu dengan banyak hal sambil duduk di atas kapal yang berjalan menembus angin yang dingin. Selain itu kami percaya bahwa apa yang kami alami pada hari itu akan menjadi kenangan bagi kami di kemudian hari. Waktu fajar tiba, kami tidak bisa melupakan rasa gelisah pada hari itu ketika menuju ke klinik kami, Asiki.

Saya sangat ingat dengan jelas sebuah harapan kecil “seseorang akan datang untuk menyelamatkan kami” dan pikiran cemas yang memenuhi kepala saya selama berjam-jam. Namun, kehidupan merupakan serangkaian pembalikan. Ketika harapan itu gagal karena telah menghilang, benih kecil harapan pun muncul lagi, dan pada saat harapan itu menjadi sia-sia, lalu uluran tangan akan datang ke sisi kami.

Saya pernah berpikir, berapa banyak waktu dan uang yang dibutuhkan penduduk di Papua untuk mendapatkan perawatan medis yang lebih baik. Lalu, saya berkeluh memikirkan bahwa itu tidak akan mudah, tetapi setelah terapung di sungai Digoel, saya memutuskan untuk tidak menyerah.

Papua membutuhkan lebih banyak staf medis dan lebih banyak rumah sakit. Bagaimanapun, sampai saat ini, klinik kami dan saya akan mencari dan membantu penduduk desa. Karena Papua juga masyarakat Indonesia yang harus menikmati dan merasakan semua kebijakan dan haknya sebagai masyarakat Indonesia. Namun, kami tahu semua itu butuh waktu untuk sampai di Papua karena letaknya yang jauh. Papua masih menunggu tanpa kehilangan harapan.(gin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *