Dalam Sehari Minum 21 Obat, Hari ke 9 Nyaris Meninggal

dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K) ( FOTO: gratianus silas/cepos)

Kesaksian Juru Bicara Satgas Covid 19 Provinsi Papua dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K) Sembuh dari Covid 19

Istilah penularan Covid 19 yang tak pandang bulu memang benar adanya. Juru Bicara Satgas Covid 19 Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K)., pun tak luput dari penularan pandemi global ini. Berikut kesaksiannya.

Laporan: Gratianus Silas

Rajin memberikan laporan terkini perihal perkembangan Covid 19 di provinsi Papua sudah menjadi tugas dan tanggung jawab dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K) selaku Juru Bicara Satgas Covid 19 Provinsi Papua, sejak awal pandemi ini terjadi di akhir Maret lalu.

Bahkan, bukan hanya perkembangan Covid 19 saja yang disampaikan, melainkan pula informasi seputar bahaya Covid 19 hingga langkah-langkah preventif yang diambil, termasuk pula imbauan protokol kesehatan.

Tujuannya tak lain untuk memutus mata rantai penularan Covid 19 melalui langkah preventif, mulai dari rajin mencuci tangan, wajib mengenakan masker, selalu menjaga jarak, tidak berkumpul, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Namun, siapa sangka, Sumule akhirnya terpapar virus yang ia informasikan terus perkembangannya tersebut. Inilah mengapa disebutkan bahwa penularan Covid 19 itu tidak pandang bulu, tidak pandang latar belakang, status sosial, jabatan, usia, suku, ras, agama, maupun antargolongan. Covid 19 menular kepada siapa saja yang tidak menerapkan protokol kesehatan.

Untuk kasus Sumule, diceritakan bahwa tepatnya pada 1 September lalu, Ia berpindah tugas dari Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Papua menjadi Wakil Direktur RSUD Jayapura. Menjadi orang baru di lingkungan kerja yang baru, Sumule merasa harus untuk meningkatkan ritme kerja.

“Salah satu tugas saya waktu itu aalah membantu KPU dalam penyelesaian pemeriksaan kesehatan (bakal calon kepada daerah) untuk Pilkada 11 kabupaten di Papua. Itu adalah saat di mana saya merasa tertular Covid 19,” kisah dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K).

Sumule menyebutkan bahwa dirinya melewati fase sakit ringan, sakit sedang, dan sakit berat. Hanya saja, dirinya bersyukur karena tidak masuk dalam fase kondisi kritis. “Keluhan yang saya rasakan yaitu, tulang saya sakit, perut terasa tidak enak, dan saya diare. Pertama, yang dilakukan ialah pemeriksaan paru-paru saya melalui CT Scan. Ketika hasil CT scan paru-paru keluar, teman-teman petugas kesehatan mengatakan bahwa 97 persen saya positif Covid 19,” sambungnya.

Ini terbukti dari hasil swab yang dilakukan sehari setelahnya, yang menunjukkan positif Covid 19. Dinyatakan positif, lantas Sumule melakukan isolasi mandiri di rumahnya hingga hari ke lima. Di hari ke lima, Sumule melakukan CT Scan terhadap paru-parunya lagi.

“Hasilnya bukan tambah baik, tapi malah tambah buruk, sehingga saya harus masuk rumah sakit. Di rumah sakit, semua obat terbaik dari mana saja itu ada di Jayapura, walaupun harganya sangat mahal. Semua obat masuk ke tubuh saya. Dalam satu hari, saya bisa minum 21 obat,” bebernya.

Kata Sumule, empat jenis obat yang diberikan kepadanya, di antaranya obat antivirus, obat antibakteri, obat untuk meningkatkan imunitas tubuh, dan obat untuk mengencerkan darah. Sebab, pada saat sakit, Sumule mengaku bahwa darahnya sangat kental, di mana untuk orang normal, kadar kekentalan darah hanya 500, namun kadar kekentalan darah miliknya mencapai 3.600.

  “Untuk obat meningkatkan imunitas tubuh, harga satu pil itu capai Rp 5 juta. Itupun kita harus berebut obatnya. Saya mendapat info dari teman-teman di Jakarta bahwa untuk dapat lima obat dalam satu hari untuk (konsumsi) selama 5 hari, bisa mencapai Rp 450 juta. Namanya Gamaras. Kita cari obat itu,” jelasnya.

Di hari ke-7, ke-8, dan ke-9, Sumule mengaku bahwa ia berada dalam kondisi di mana Ia sudah nyaris meninggal. “Hari ke-7, ke-8, dan ke-9, adalah kondisi yang bisa saya bilang, saya sudah meninggal. Saya batuk, itu dinding dada saya mau pecah. Saya jalan 10 meter, saya sudah tidak mampu karena napas saya sudah sampai sini (sambil menunjuk ke leher),” tambahnya.

Di tengah momen sakit tersebut, Sumule memanjatkan doa kepada Yang Kuasa, meminta bahwa ia ingin  bersama-sama dengan anaknya yang masih kecil. Doanya itu pun terjawab, di mana pada hari ke-10, semua obat yang ia konsumsi itu bekerja sehingga ia merasa mulai pulih dari sakitnya.

“Di hari ke-11 dan ke-12, waktu saya di-swab ulang, Puji Tuhan saya negatif. Setelah pulang, saya masih isolasi mandiri dulu di rumah selama 14 hari, melalukan isolasi mandiri, dengan tidak melakukan kontak dengan keluarga dan siapa saja,” ungkapnya.

Dari pengalaman tersebut, Sumule menegaskan bahwa Covid 19 itu ada, nyata, dan tidak bisa main-main dengan Covid 19.

“Dalam pencegahaannya, mohon maaf, tapi kita harus tetap curiga dengan orang yang ada di kiri – kanan kita. Kemudian, kita harus tetap ikuti protokol kesehatan. Yang Kuasa sudah memberikan kita imunitas tubuh sehingga harus kita jaga,” tegasnya.

Sumule mengisahkan bahwa ketika dirinya masih dirawat di rumah sakit, Ia mengetahui bahwa beberapa dari pasien Covid 19 lainnya meninggal dunia.

“Saya di rumah sakit  itu di kamar sendiri. Tiba-tiba, mohon maaf, teman-teman kita yang meninggal dunia itu berseberangan dengan saya. Saya diberitahu bahwa pasien ini sudah meninggal. Diberitahu lagi, pasien yang di sebelah sana sudah meninggal. Itu rasanya, kalau tidak kuat, kita bisa stress di situ. Karena kita tidak bisa dikunjungi siapa-siapa,” ujarnya.

Demikian, Sumule mengaku bahwa untuk bisa sembuh dari Covid 19 membutuhkan perjuangan, air mata, dan pertolongan Tuhan.

“Keluar sebagai pemenang (dari Covid) itu butuh perjuangan, air mata, dan pertolongan Tuhan. Saya bisa sembuh karena pertolongan Tuhan. Namun, untuk bisa sembuh, selain pertolongan Tuhan, dari dalam diri kita sendiri juga harus bisa menang, sebagaimana saya ingat kata-kata Pak Wagub,” pungkasnya.(*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *