Bandara Frans Kaiseipo dan Mopah Diusulkan Turun Kelas

JAKARTA – Jawa Pos – Jumlah bandara internasional di Indonesia bakal bekurang. Seiring dengan hasil kajian dari Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub, ada delapan bandara internasional yang diusulkan turun kelas jadi bandara domestik.

Diantara bandara internasional yang diusulkan turun kelas itu adalah Bandara Internasional Frans Kaisiepo, Biak dan Bandara Mopah, Merauke. Selain itu, ada juga Bandara Banyuwangi yang juga diusulkan untuk menjadi bandara domestik. Bandara ini diantaranya melayani penerbangan langsung ke Kuala Lumpur oleh maskapai Citilink.

Informasi adanya usulan turun kelas delapan bandara internasional menjadi bandara domestik itu tertuang dalam surat resmi Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub kepada Menteri Perhubungan. Usulan penurunan kelas itu merupakan hasil evaluasi Tim Evaluasi Bandar Udara Internasional.

Tim evaluasi itu dibentuk berdasarkan Keputusan Dirjen Perhubungan darat KP 113/2019 dan sesuai dengan arahan rapat pimpinan tanggal 14 Juli 2020 lalu. Sampai tadi malam belum ada komentar lanjutan dari pihak Kemenhub soal usulan penurunan kelas delapan bandara tersebut. Dalam praktiknya usulan itu masih belum dieksekusi oleh pemerintah.

Pengamat penerbangan Ziva Narendra Arifin mengatakan usulan penurunan kelas bandara internasional menjadi domestik itu tidak bisa dieksekusi langsung. ’’Diharapkan dalam satu tahun ke depan. Karena berkaitan dengan konversi aset negara,’’ katanya kemarin. Ziva membenarkan bahwa pengajuan penurunan status bandara itu keluar Juli 2020 lalu.

Dia menjelaskan program penurunan kelas bandara itu bisa juga disebut dengan melokalkan bandara. Usulan tersebut sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo seluruh kementerian untuk mendorong pariwisata dan ekonomi daerah. Selain itu juga untuk urusan logistic.

Menurut Ziva ada sejumlah manfaat perubahan status bandara dari internasional menjadi domestik. Diantaranya untuk memaksimalkan fungsi bandara untuk menyambungkan Indonesia yang terdiri dari sekian banyak pulau.

Menurut dia jika ada bandara internasional yang posisinya berdekatan, justru bisa saling mencaplok potensi penumpang. Sehingga tidak efektif. Untuk Bandara Internasional Banyuwangi misalnya, posisinya berdekatan dengan Bandara Denpasar dan Bandara Juanda yang keduanya berstatus internasional.

Selain itu mengurangi jumlah bandara internasional juga lebih mudah dalam pengawasan langit Indonesia dari maskapai-maskapai asing. Dia mencontohkan di Amerika Serikat dengan luasan negara seperti itu, jumlah bandara internasionalnya tidak terlalu banyak dibandingkan jumlah total bandaranya.

Dia mengakui penurunan kelas bandara internasional menjadi bandara domestik berdampak pada lapangan kerja. Tetapi bisa melakukan penghematan dari aspek investasi. Sebagai contoh pembangunan Bandara Internasional Kertajati yang sampai saat ini ternyata juga belum maksimal tingkat penggunaannya.

Menurut Ziva pembentukan bandara internasional harus benar-benar diawali dengan kajian yang matang. Sehingga tidak seperti sekarang, statusnya sudah terlanjur bandara internasional tetapi akhirnya diturunkan jadi bandara domestik. Dia menegaskan perubahan kelas bandara seperti itu bukan hal baru di Indonesia. (wan/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *