Tanpa Digaji Tetap Ikhlas, Jadi Relawan itu Tugas Mulia dan  Panggilan Hati

Dua orang relawan perempuan dari Gerakan Pramuka yang masih sekolah Febrianti dan Alda saat mengangkat Bama bantuan, yang diserahkan di Posko kebakaran Dok IX Jayapura, Rabu(28/10)lalu. Bincang-Bincang dengan Relawan yang membantu di Posko Kebakaran Dok IX Jayapura. (FOTO: Priyadi/Cepos)

Bincang-bincang dengan Para Relawan yang Bertugas di Posko Kebakaran Dok IX

Ketika terjadi musibah, relawan yang sosok paling dibutuhkan oleh para korban bencana, entah korban banjir bandang, korban kebakaran, tanah longsor dan sebagainya, Apakah relawan  ini merupakan panggilan hati? Berapa  kali ikut menjadi relawan, berikut laporannya

Laporan : Priyadi

Siang itu, sekira pukul 11.00 WIT cuaca tampak cerah menyelimuti pemandangan di lokasi Posko Kebakaran yang berada di Kantor DPPAD Provinsi Papua di Dok IX, Distrik Jayapura Utara, Rabu (28/10) lalu.

   Bantuan dari masyarakat, komunitas dan paguyuban maupun instansi lainnya terus mengalir untuk di antar ke Posko tersebut. Setiap bantuan datang para relawan  menyambutnya dengan senang. Cukup banyak  relawan di Posko kebakaran, seperti relawan Gerakan Pramuka, relawan ORARI, RAPI, Baznas, relawan PMI, relawan HMI, relawan dari Partai Politik, Tagana dan lainnya maupun petugas dari Dinas Sosial Kota Jayapura, dan BPBD Kota Jayapura.

  Ketika itu, terlihat dua anak perempuan yang mengenakan  jilbab masih sekolah di bangku kelas XII  SMA Hikmah Yapis Jayapura, Febrianti dan Alda sebagai relawan dari Gerakan Pramuka tampak riang dan penuh sukacita membantu mengangkat  setiap barang yang diturunkan dari mobil yang diantar ke Posko Kebakaran di Dok IX Jayapura.

  Ditemui wartawan, Febrianti dan Alda mengaku sudah membantu di Posko Kebakaran Dok IX Sejak hari Senin pasca kejadian kebakaran hingga berlangsung saat ini sudah 10 hari dan tepat penutupan secara resmi pos kebakaran.

Mereka berdua adalah masuk Gerakan Pramuka sejak SMP namun aktif terjun untuk membantu di lapangan jika ada musibah mulai dari SMA, seperti adanya musibah kebakaran di Weref beberapa tahun lalu dan banjir bandang di Sentani.

Mereka mengakui, walaupun masih status pelajar dan betugas selama 1×24 jam mereka sudah mendapatkan restu dan izin serta dukungan dari orang tua untuk bisa meninggalkan rumah dan orang tua. Apalagi Febrianti dan Alda tinggalnya tidak berdekatan tapi mereka tinggal di Weref dan Sentani.

Febrianti dan Alda menceritakan selama berada di posko kebakaran Dok IX tidak ada masalah yang dihadapi, apakah soal makanan, minuman, fasilitas MCK, pelayanan kesehatan, karena  semua sudah didukung oleh pemerintah maupun lainnya.

  Selain itu juga yang menjadi relawan juga sangat banyak bisa sampai 150 orang dari berbagai kalangan Hal inilah yang menjadi pengalaman baru untuk menambah teman dan ilmu.   Mereka menjelaskan, memang menjadi relawan itu tidak mudah pada saat ada warga yang terkena musibah untuk meminta bantuan tapi mereka tidak bisa tentu membuat mereka agak sedih, namun mereka tetap berusaha semaksimal mungkin untuk mencari solusi dengan meminta kepada relawan yang lain untuk bisa membantunya.

Dengan Posko kebakaran resmi ditutup Pemkot Jayapura hari Kamis (28/10) kemarin, mereka jika masih dibutuhkan tetap akan membantu dan ia berharap kepada korban musibah kebakaran tetap bersabar bila selama dalam memberikan bantuan di posko ada hal yang rasa kurang Mohon dimaafkan.

   Sementara itu, anggota RAPI Kota Jayapura Munawir, yang juga sebagai relawan yang membantu di Posko kebakaran Dok IX Jayapura, mengaku selama membantu warga korban kebakaran di posko kebakaran di Dok 9 tidak ada kendala yang dihadapi, karena semua kebutuhan maupun fasilitas sudah disiapkan pemerintah Kota Jayapura maupun  dari pemerintah Provinsi Papua melalui lokasi yang disiapkan di DPPAD Papua di Dok IX.

Munawir  tergerak hatinya untuk membantu menjadi relawan di posko kebakaran Dok IX karena ini tugas mulia tidak semua orang tergerak hatinya untuk menjadi relawan.   Ia sendiri bertugas menjadi relawan hatinya juga sangat senang tidak ada keterpaksaan Selain itu jika memang tidak bisa membantu secara material setidaknya menjadi relawan juga bisa membantu masyarakat yang terkena musibah kebakaran.

Kepala Dinas Sosial Kota Jayapura H.Irawadi mengungkapkan, setiap hari Jumlah relawan yang membantu di posko kebakaran ada sekitar 150 orang yang terdiri relawan Pramuka, PMI, RAPI, ORARI, HMI, maupun lainnya, sehingga dalam melayani warga yang ditampung di posko kebakaran bisa dilakukan dengan baik. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *